KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) di Wall Street mulai menghadapi ujian. Investor khawatir laju pengembangan teknologi AI dan belanja besar-besaran untuk membangun pusat data mulai melambat. Hal itu terjadi setelah sejumlah pemimpin industri menyerukan pengembangan AI yang lebih terkendali. Kekhawatiran tersebut langsung menekan saham perusahaan semikonduktor pada perdagangan Senin (14/9/2026). Padahal, kelompok saham ini menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari ledakan investasi AI dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Saham Chip Korea Selatan Merosot Rabu (8/7), Ikuti Aksi Jual Saham Semikonduktor AS Wall Street sejauh ini belum melihat bukti konkret bahwa belanja modal (capex) AI benar-benar mulai berkurang. Namun, investor mulai waspada karena valuasi saham teknologi sudah banyak mencerminkan asumsi bahwa investasi infrastruktur AI akan terus tumbuh. "Investor perlu melihat sesuatu yang konkret yang menunjukkan perlambatan, bukan sekadar pembicaraan," kata CEO Horizon Investment Services Chuck Carlson. Belanja perusahaan teknologi raksasa menjadi salah satu mesin utama reli saham AI. Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta Platforms dan Oracle diperkirakan menggelontorkan sekitar US$795 miliar untuk belanja modal pada 2026. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi hampir US$1,08 triliun pada 2027, berdasarkan riset BofA Global Research. Sebagian besar dana tersebut mengalir ke pembangunan pusat data dan kebutuhan infrastruktur AI, termasuk chip semikonduktor. Dampaknya terlihat dari kinerja saham sektor tersebut. Philadelphia SE Semiconductor Index masih mencatat kenaikan hampir 60% sepanjang 2026, meski saham semikonduktor menjadi salah satu yang paling terpukul dalam aksi jual terbaru.
Baca Juga: Bursa Asia Melemah, Saham Semikonduktor Tertekan Jelang Laporan Keuangan TSMC Investor menilai perusahaan penyedia "alat dan bahan" bagi pengembangan AI paling rentan jika laju peningkatan kemampuan teknologi mulai melambat. Pasalnya, harga saham dan laba perusahaan tersebut telah banyak mengantisipasi keberlanjutan ledakan capex AI. Di sisi lain, pengetatan aturan keselamatan AI belum tentu berarti berakhirnya investasi. Kerangka regulasi yang lebih jelas justru dapat memberikan kepastian bagi perusahaan untuk melanjutkan investasi jangka panjang. Risiko bagi pasar saham kini juga datang dari faktor makroekonomi. Kekhawatiran terhadap AI muncul ketika imbal hasil obligasi meningkat, harga minyak naik dan investor menghadapi ketidakpastian arah suku bunga Federal Reserve. S&P 500 dan Nasdaq Composite juga masih berada sekitar 2% di bawah level tertinggi sepanjang masa. Kondisi ini membuat pasar relatif rentan apabila ekspektasi terhadap pertumbuhan AI mulai melemah. Keraguan terhadap prospek investasi AI sebelumnya pernah muncul setelah kemunculan model AI DeepSeek dari China pada awal 2025. Saat itu, investor mempertanyakan apakah pembangunan infrastruktur AI dalam skala besar masih diperlukan. Namun, aksi jual tersebut akhirnya hanya menjadi gangguan sementara bagi reli saham AI.
Baca Juga: Wall Street Dibuka Variatif Kamis (16/7), Saham Chip Tekan S&P 500 dan Nasdaq Kali ini, risiko yang diperhitungkan investor lebih luas, mulai dari regulasi pemerintah, ketegangan geopolitik hingga munculnya terobosan teknologi baru yang dapat mengubah kebutuhan infrastruktur AI. Dengan demikian, tantangan utama bagi saham AI bukan semata-mata seruan untuk memperlambat pengembangan teknologi. Risiko terbesar adalah jika kekhawatiran tersebut mulai diwujudkan dalam pembatalan pesanan, penundaan pembangunan pusat data atau pemangkasan belanja modal perusahaan teknologi. Jika hal itu terjadi, saham semikonduktor dan infrastruktur AI yang selama ini dihargai dengan asumsi pertumbuhan capex tanpa henti akan menghadapi tekanan lebih besar.