Investor optimistis kesepakatan stimulus belanja AS, bursa Asia menghijau



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA.  Pasar saham Asia mengawali perdagangan pekan ini dengan kenaikan terbatas. Pelaku pasar pun terlihat masih berhati-hati sambil menanti kesepakatan stimulus dari Amerika Serikat (AS). 

Seperti diketahui, pada Minggu (11/10), pemerintah Donald  Trump meminta Kongres untuk mengesahkan Rancangan Undang-undangan Bantuan Covid-19 yang sebelumnya sempat ditolak karena pembahasan menemui jalan buntu.

Proposal stimulus dari Gedung Putih bernilai US$ 1,8 miliar. Jumlah ini lebih rendah dari usulan DPR AS yang sebelumnya meminta stimulus di level US$ 2,2 miliar. 


Walau begitu, investor tetap optimis bahwa stimulus belanja akan segera disetujui. "Pasar masih memiliki harapan tinggi terhadap paket stimulus skala besar, tidak peduli apakah itu terjadi di bulan November atau tidak," kata ekonom National Australia Bank Tapas Strickland dikutip Reuters, Senin (12/10).

Baca Juga: Sikap bank sentral China berubah, mayoritas indeks saham Asia menguat

Di sisi lain, dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat setelah kebijakan bank sentral China yang menghambat kenaikan tajam pada yuan. 

The People's Bank of China (PBoC) telah membatalkan persyaratan bagi bank untuk menahan cadangan kontrak berjangka yuan, menghilangkan perlindungan terhadap depresiasi. Yuan pun melemah 0,7% pada awal perdagangan hari ini.

"Pihak berwenang tidak menghalangi penguatan yuan, tetapi langkah ini dapat dilihat sebagai tanda bahwa mereka ingin memperlambat laju apresiasi," kata kepala riset Asia ANZ Bank, Khoon Goh.

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang menguat 1% ke level tertinggi dalam 2,5 tahun. Ini didukung oleh kenaikan 3% di saham blue chip China dan kenaikan 2,2% oleh indeks Hang Seng Hong Kong.

Unggulnya Biden dalam jajak pendapat pemilihan Presiden AS menurut Strickland juga mendorong kepercayaan investor di pasar saham. Partai Demokrat dinilai pasti akan lebih mendorong belanja. 

Menurut dia, pasar akan sangat sensitif terhadap pemungutan suara Senat selama beberapa minggu mendatang, mengingat ekspektasi yang masih tinggi untuk paket stimulus AS skala besar. Jika RUU anggaran Covid-19 tidak disahkan sebelum November maka arah pasar akan bergantung posisi Demokrat di Senat.

Unggulnya Biden dibanding Trump dalam jajak pendapat itu juga turut membantu mendorong kenaikan yuan akhir pekan lalu.  Investor memperkirakan Biden cenderung tidak memicu perselisihan perdagangan antara China -AS. Yuan naik 7,2% sejak akhir Mei karena ekonomi China telah memimpin pemulihan virus korona dunia.

Baca Juga: Dapat angin segar, pesaing TikTok siap IPO

Di pasar komoditas, harga minyak kembali di bawah tekanan setelah pemogokan pekerja minyak sepuluh hari di Norwegia diselesaikan akhir pekan lalu, kemungkinan meningkatkan produksi.

Minyak mentah berjangka Brent tergelincir lebih dari 1% menjadi $ 42,28 per barel dan minyak mentah berjangka WTI turun sekitar 1,4% pada US$ 40,04 per barel. 

Selanjutnya: Pemberlakuan PSBB transisi bikin IHSG melenggang ke zona hijau pada Senin (12/10)

Editor: Anna Suci Perwitasari