Investor PE Wajib Tahu: Pasar Asia Tenggara Lesu di 2025!



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Pasar private equity (PE) di Asia Tenggara tetap lesu pada 2025. Ini terlihat dari Southeast Asia Private Equity Report 2026 yang dipublikasikan Bain & Company, Jumat (24/4/2026).

Menurut temuan Bain & Co, nilai transaksi PE di Asia Tenggara menurun sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar US$ 14 miliar di 84 transaksi. Pemulihan pasar PE berjalan tidak merata. Hanya beberapa pasar PE yang bisa menghasilkan kesepakatan dengan nilai transaksi besar.

Aktivitas transaksi PE terutama didorong pertumbuhan investasi dan akuisisi. Sebagian besar transaksi didominasi oleh investor yang memiliki afiliasi dengan pemerintah.


Baca Juga: Merger & Akuisisi di 2025 Naik 40%, Bain & Company Proyeksi di Tahun Ini Tetap Kuat

Investor yang terafiliasi pemerintah ini, yang seringkali bermitra dengan regional fund atau global fund, rata-rata menghasilkan transaksi dengan nilai tinggi.

“Pasar ekuitas swasta Asia Tenggara berjalan stabil, tetapi pemulihannya terbatas dan terhambat kendala pelepasan aset,” kata Tom Kidd, Kepala Praktik Ekuitas Swasta Asia Tenggara Bain & Company, dalam keterangan resmi.

Bain & Co menyebut, perusahaan PE sejatinya masih memiliki modal, namun memilih lebih selektif dalam menggunakan modal. Investor memprioritaskan aset berkualitas tinggi dengan tim manajemen yang kuat, keunggulan kompetitif yang jelas, dan strategi keluar yang jelas. Ini mencerminkan pendekatan yang lebih disiplin di tengah terbatasnya peluang investasi.

Baca Juga: Trump Dievakuasi Mendadak dari Acara Makan Malam, Ada Apa?

“Modal terkonsentrasi pada lebih sedikit kesepakatan, dan investor lebih selektif dalam beberapa tahun terakhir, dengan fokus yang jelas pada aset yang dapat memberikan nilai melalui eksekusi,” imbuh Kidd.

Aksi pelepasan aset juga masih membatasi perkembangan pasar PE di Asia Tenggara. Kondisi ini membuat nilai pelepasan aset tercatat menurun 32% sepanjang 2025.

Penjualan aset secara langsung masih menjadi exit strategy yang banyak digunakan PE. IPO belum kembali jadi pilihan utama exit strategy, kendati aktivitas IPO mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Jepang Meluas, Ribuan Warga Dievakuasi

Terbatasnya pelepasan aset membuat periode PE memegang kepemilikan suatu aset makin panjang. Alhasil, jumlah aset yang menua di Asia Tenggara meningkat.

Karena itu, PE kini menggunakan strategi penciptaan nilai melalui kegiatan operasional untuk menghasilkan return. PE berfokus pada pertumbuhan EBITDA melalui optimalisasi biaya, penetapan harga, dan keunggulan komersial, dan berusaha tidak banyak melakukan ekspansi.

Bain & Co juga mendapati kini semakin banyak PE mengimplementasikan akal imitasi (AI) dalam melakukan ujituntas dan manajemen portofolio.  Lebih dari 70% investor menyatakan menggunakan AI, meski masih dalam tahap awal.