Investor perlu perhatikan saham emiten dengan kinerja mencemaskan sepanjang 2016-2018



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa Efek Indonesia dikabarkan akan memanggil beberapa emiten yang terus menerus mencatatkan kinerja keuangan buruk. 

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna Setia mengatakan di antara emiten dengan kinerja keuangan yang buruk adalah PT Bentoel International Investama Tbk dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk disebut-sebut segera ditindaklanjuti kinerjanya oleh BEI. Meski begitu, kedua perusahaan itu menurutnya hanya segelintir perusahaan saja yang kinerja keuangannya selama ini dipantau oleh BEI.

Nyoman mengatakan, ada perusahaan lain yang berpotensi senasib dengan dua emiten itu meski BEI belum merilis siapa saja perusahaan tersebut. “Sekalian juga dengan beberapa perusahaan lain yang layak kami pertanyakan performa perusahaannya,”  ujarnya, Jumat (12/4). 


Selain itu, ia juga menyebut akan mempertanyakan bisnis inti emiten dalam menjamin keberlanjutan dan pertumbuhan bisnisnya. Sehingga dari penjelasan itu BEI akan mendapat gambaran mengenai bagaimana perusahaan mengatribusikan pendapatan serta labanya untuk dividen.

Berdasarkan hasil riset yang Kontan.co.id setidaknya ada beberapa emiten yang memiliki kinerja keuangan buruk dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Bloomberg, Kontan.co.id mengambil 10 emiten dengan kinerja keuangan kurang memuaskan dalam kurun waktu 2016-2018.

Kesepuluh emiten tersebut datang dari berbagai sektor. PT Propertindo Mulia Investama Tbk (MPRO) dan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD) mewakili sektor properti dan real-estate. Selama periode 2016-2018, MPRO berturut-turut mengalami kerugian sebesar -165,07%, -201,53% dan -108,85%. Sedangkan dalam periode yang sama, GMTD mengalami persentase kerugian sebesar -26,89%, -21,49% dan -9,94%.

Dari sektor restoran, hotel dan pariwisata, PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) dan PT Marga Abhinaya Abadi (MABA) mencatatkan kinerja keuangan yang kurang memuaskan dalam periode tiga tahun terakhir. SOTS misalnya mencatatkan kerugian sebesar -72,97% di tahun 2016. Sempat agak membaik dengan presentasi kerugian sebesar -33,25% pada tahun 2017, emiten ini mengalami kerugian yang cukup dalam pada tahun 2018 yakni sebesar -261,95%.

Hal serupa juga terjadi pada MABA. Pada tahun 2016, kerugian yang dicatatkan emiten ini sebesar -8,1%. Namun berturut-turut pada tahun 2017 dan 2018 lalu, kerugian perusahaan ini melonjak masing-masing hingga -111,82% dan -197,22%.

Lain hal dengan sektor konstruksi bangunan. PT Indonesia Pondasi Raya Tbk (IDPR) dan PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) mewakili sektor ini dengan kinerja keuangan yang negatif dari periode tahun 2016-2018. IDPR misalnya mencatatkan kerugian sebesar -47,11% pada tahun 2016. Tren negatif itu sempat terkoreksi positif dimana dengan presentasi kerugian yang hanya berada di kisaran angka -5,11%. Sedangkan pada tahun 2018, perusahaan itu kembali mengalami kerugian yang signifikan hingga mencapai -74,22%.

Kerugian perusahaan lain dari sektor yang sama yakni PBSA, juga cukup fluktuatif. Setelah mencatatkan kerugian sebesar -30,12% di tahun 2016, mereka dapat mengoreksi kerugian pada tahun 2017 di angka -21,85%. Sedangkan pada tahun berikutnya, kerugian PBSA mengalami pembengkakan hingga -56,23%.

Emiten sektor lain yang kerugiannya juga cukup mengkhawatirkan ialah PT First Media Tbk (KBLV). Emiten yang dikenal dengan produk layanan penyedia internet BOLT ini sebelumnya menghentikan layanannya seiring dengan embargo yang dikeluarkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) karena menunggak biaya hak penyelenggaraan frekuensi kepada negara, 2018 lalu. Sejak tahun 2016-2018, kerugian yang dialami perusahaan dengan kode saham KBLV ini cukup mendalam yakni berturut-turut sebesar -27,15%, -38,50% dan terakhir -217,75%.

Sektor industri dasar dan kimia menyumbang dua emiten dengan kinerja keuangan mengkhawatirkan. Kedua perusahaan itu ialah PT Ashahimas Flat Glass Tbk (AMFG) yang bergerak di unit usaha kaca dan PT Semen Baturaja Persero Tbk (SMBR) yang bergerak sebagai produsen semen. Laporan keuangan AMFG menunjukkan bahwa pada tahu 2016 perusahaan tersebut mengalami kerugian -23,10%. Jumlah kerugiannya lalu naik hingga 3 kali lipat di kisaran -85,19% dan agak mereda di tahun 2018 yakni -82,89%.

Sedangkan SMBR yang memiliki pangsa semen di Sumatra Selatan juga tak terhindarkan dari kerugian. Pada tahun 2016 kerugian emiten semen ini sebesar -26,84%. Kerugian tersebut berlanjut pada tahun sebelumnya yakni di kisaran -43,39% dan kembali melonjak di tahun 2018 yakni sebesar -48,12%.

Sektor keuangan menyumbangkan satu emitennya yakni PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk (ABDA) sebagai wakil dalam daftar tersebut. Presentase kerugian perusahaan asuransi itu tercatat sebesar -35,40% pada tahun 2016. Sempat membaik di tahun 2017 dengan kerugian yang ‘hanya’ sebesar -7,29%, kerugian perusahaan itu kembali berlipat hingga -57,02% pada tahun 2018 lalu.

Analis Senior Anugerah Sekuritas Indonesia Bertoni Rio mengatakan, pergerakan saham tersebut belum tentu sejalan dengan kinerja keuangan yang relatif kurang memuaskan. Ia mencontohkan harga saham IDPR dan GMTD yang dalam periode tersebut tumbuh cukup pesat yakni masing-masing sebesar 306,25% dan 168,92%.

Hal tersebut terjadi lantaran ada faktor lain yang memengaruhi pergerakan sahamnya selain laporan keuangan. “Kalau saya lihat, juga dipengaruhi faktor psikologis trader. Termasuk spekulasi dalam menanti keuntungan dari kenaikan harga sahamnya,” tutur Bertoni ketika dihubungi Kontan.co.id, Sabtu (13/4) lalu.

Ketika ditanya mengenai bagaimana minat pasar terhadap saham emiten dengan kinerja keuangan negatif, Bertoni bilang hal tersebut tidak terlalu signifikan. Dalam artian, beberapa investor cenderung hanya sekadar berinvestasi saham dalam jangka pendek. “Motivasi investor terkadang hanya lihat capital gain dalam waktu jangka pendek. Mereka cenderung sekadar melihat euphoria loncatan saham pada waktu saham tersebut ramai diperdagangkan,” jelasnya Bertoni.

Bertoni juga sekaligus mengingatkan kepada para investor untuk ekstra berhati-hati terhadap saham-saham tersebut. “Ada resiko lebih besar buat saham dengan statistik yang menuai banyak kerugian,” jelasnya. Ia menambahkan pergerakan saham-saham itu sangat mudah digerakkan oleh sentimen pemberitaan, baik pemberitaan positif maupun negatif.

Biasanya khusus saham ini bisa terjebak dengan sentimen berita bagus maupun jelek terhadap perusahaan. Bertoni menambahkan celakanya, dari hasil riset yang ia lakukan, beberapa investor lebih senang untuk mengikuti spekulasi, berita dan harapan kinerja saja. “Sehingga yang terjadi buat para investor yang sudah beli saham emiten yang tidak terlalu oke, hanya bisa berharap kinerjanya baik daripada menerima cut loss,” tutup Bertoni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi