Investor reksadana lebih konservatif



JAKARTA. Di awal tahun, investor memburu instrumen konservatif. Hal tersebut tampak dari pertumbuhan unit penyertaan reksadana pasar uang yang mencapai 29,25% secara year to date (ytd) April 2016 atau tertinggi di antara jenis reksadana lainnya.

Data Infovesta Utama menunjukkan, unit penyertaan reksadana pasar uang tumbuh dari 20,61 miliar unit pada Desember 2015 menjadi 26,63 miliar unit pada April 2016. Reksadana pendapatan tetap mencatat pertumbuhan unit penyertaan 12,31% dari 33,16 miliar unit menjadi 37,24 miliar unit.

Demikian juga instrumen konservatif lain, yakni reksadana terproteksi yang mencatat pertumbuhan unit penyertaan 13,77% dari 58,011 miliar unit menjadi 66 miliar unit.


Infovesta Utama mencatat, unit penyertaan reksadana keseluruhan tumbuh 10,36% dari 181,93 miliar unit menjadi 200,77 miliar unit secara ytd per April. Sedangkan total dana kelolaan tumbuh 11,31% dari Rp 258,85 triliun menjadi Rp 288,12 triliun secara ytd.

Analis Infovesta Utama Beben Feri Wibowo mengatakan, tekanan pasar saham di awal tahun menyebabkan investor memilih instrumen dengan risiko rendah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 5,35% dari 4.593 di akhir 2015 menjadi 4.838 di akhir April 2016.

"Reksadana pasar uang, pendapatan tetap dan terproteksi memiliki tingkat risiko relatif lebih rendah, sehingga investor masuk," ujar Beben.

Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo mengaku, mayoritas dana masuk atau subscription awal tahun ini di reksadana pasar uang dan pendapatan tetap. "Kedua reksadana tersebut mencatat subscription lebih banyak dibandingkan reksadana saham," ujar Soni, Minggu (22/5).

Rudiyanto, Head of Operation dan Business Development, Panin Asset Management, mengatakan, kenaikan dana kelolaan dan unit penyertaan reksadana pasar uang ditopang masuknya investor baru.

"Dana kelolaan reksadana pasar uang kami kecil, penambahan dana kelolaan adalah kontribusi investor baru," ujar Rudiyanto.

Panin Asset Management menargetkan menggenggam kenaikan dana kelolaan Rp 16 triliun di akhir tahun. Rudiyanto optimistis, kenaikan akan ditopang oleh membaiknya kinerja IHSG.

Sejumlah program pemerintah seperti realisasi tax amnesty, kenaikan peringkat utang Indonesia serta membaiknya laporan keuangan emiten di kuartal II diprediksi akan menopang pertumbuhan IHSG.

"Dana kelolaan saat ini Rp 11 triliun,. Sekitar 80% reksadana saham dan 15% reksadana campuran, sisanya reksadana lainnya," tutur Rudiyanto.

Soni mengatakan, Bahana menargetkan dana kelolaan tumbuh menjadi Rp 34 triliun, naik dari April 2016 di Rp 33 triliun. Menurut Beben, reksadana berisiko rendah, seperti pendapatan tetap dan terproteksi masih menjadi penopang pertumbuhan industri reksadana. Dan klop, investor melirik keduanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie