Investor ritel menyerbu sukri SR010



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah bisa bernapas lega melihat hasil lelang sukuk ritel tahun ini. Meski perhitungan belum tuntas, pemerintah tampaknya sukses menjual Sukuk Negara Ritel seri 10 (SR010).

Direktur Pembiayaan Syariah Direktor Jenderal Pembiayaan Pengelolaan dan Riskio (DJPPR) Kementerian Keuangan Suminto mengungkapkan, hingga penutupan penawaran sukri Jumat (16/3) lalu, terdapat kelebihan permintaan dari kuota yang diberi ke 22 agen penjual. Tapi, ia enggan mengungkap berapa total penawaran yang masuk.

"Saat ini kami sedang melakukan rekapitulasi sekaligus verifikasi hasil penjualan yang dilaporkan agen penjual," kata dia kepada KONTAN, Minggu (18/3). Proses verifikasi tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada investor individu yang melakukan pembelian di atas Rp 5 miliar.


Kelebihan permintaan terhadap SR010 sudah terlihat jelang penutupan penawaran. Sejumlah agen penjual mengaku berhasil menjaring minat investor lebih banyak.

Kupon di atas deposito

Tengok hasil penjualan sukri di Bank Central Asia (BCA). Executive Vice President Wealth Management BCA Eva Sumampouw menuturkan, BCA awalnya menargetkan penjualan sukuk bertenor tiga tahun ini mencapai Rp 700 miliar.

Akhirnya BCA sukses memasarkan SR010 dengan nilai Rp 1,1 triliun. "Ini pun masih ada waiting list pembelian sekitar Rp 200 juta," kata dia.

Tingginya penjualan sukri BCA kali ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, sukri sudah dikenal masyarakan lantaran telah dipasarkan selama 10 tahun. "Masyarakat, khususnya nasabah BCA, sudah mengetahui detail produknya, termasuk tingkat imbal hasil yang selalu di atas suku bunga deposito bank BUMN," jelas Eva.

Kedua, pasar bagi SR010 sejatinya adalah investor yang mengincar investasi aman dan tetap memberi imbal hasil menarik.

Serupa dengan BCA, Bank CIMB Niaga juga berhasil menjual seluruh kuota SR010 yang diperoleh. Hingga akhir masa penjualan, bank berkode BNGA ini berhasil menawarkan Rp 350 miliar SR010.

Head of Retail Banking Product CIMB Niaga Budiman Tanjung bilang, target awal penjualan SR010 sebenarnya lebih mini. "Targetnya cuma Rp 200 miliar, tapi kami minta tambah kuota," ujar dia.

Menurut Budiman, penjualan yang melebihi target ini menunjukkan investor memang masih memiliki minat pada produk surat utang halal ini. Di tengah tren suku bunga rendah, sukri menjadi alternatif yang cukup menarik.

Meski begitu, Budiman mengaku, tidak ada peningkatan minat yang signifikan di banding penjualan sukri seri sebelumnya. "Kami tawarkan ke nasabah yang memang biasa berinvestasi di obligasi, seperti ORI maupun sukuk, dan kami sesuaikan dengan profil risiko nasabah juga," kata dia.

Selain dua agen penjualan ini, sebelumnya Bank Negara Indonesia (BNI) juga mengajukan penambahan kuota penjualan sukri dari Rp 700 miliar jadi Rp 900 miliar. Trimegah Sekuritas Indonesia pun kebanjiran permintaan.

Presiden Direktur Trimegah Sekuritas Stephanus Turangan bilang, kuota yang diberikan awalnya hanya Rp 300 miliar. Namun permintaan yang masuk sebelum berakhirnya masa penawaran mencapai Rp 600 milar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati