KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Obligasi global perdana yang diterbitkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mendapat sambutan kuat dari investor internasional. Permintaan yang masuk mencapai US$ 4,6 miliar atau jauh melampaui nilai penerbitan, menandakan aset-aset Indonesia masih memiliki daya tarik tinggi di pasar global. Namun, tingginya minat tersebut juga mengindikasikan investor masih meminta kompensasi risiko yang cukup besar untuk berinvestasi di Indonesia.
Baca Juga: Premi Risiko Indonesia Masih Naik, Investor Makin Selektif Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita menilai fenomena
oversubscription tersebut mencerminkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik. Di sisi lain, premi risiko Indonesia masih belum turun ke level negara-negara sejenis (peers). “Fenomena
oversubscription obligasi Danantara mencerminkan daya tarik Indonesia yang masih kuat, tetapi juga adanya
risk premium yang belum sepenuhnya turun ke level negara peers,” ujar Ronny, Selasa (16/6). Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan
yield obligasi Indonesia di pasar internasional. Per Selasa (16/6),
yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS tenor 10 tahun berada di level 5,39%, lebih tinggi dibandingkan Filipina yang sebesar 5,25%. Sementara itu, pada obligasi berdenominasi mata uang lokal, Indonesia mencatat yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun sebesar 6,86%, lebih rendah dibanding Filipina yang mencapai 7,19%.
Baca Juga: Danantara Terbitkan Obligasi Global, Nilai Orderbook US$ 4,6 Miliar Namun angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibanding Malaysia dan Thailand yang masing-masing hanya 3,58% dan 2,08%. Menurut Ronny, pasar global masih mencermati sejumlah faktor yang memengaruhi persepsi risiko Indonesia. Mulai dari keberlanjutan kebijakan fiskal pemerintah, kebutuhan pembiayaan berbagai program strategis, hingga tata kelola Danantara yang masih perlu membangun rekam jejak dan kredibilitas sebagai institusi investasi baru. Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman. Ia menilai tingginya minat investor terhadap obligasi Danantara merupakan respons yang wajar mengingat kupon yang ditawarkan cukup menarik, yakni hampir setara dengan yield US Treasury tenor 10 tahun ditambah premi risiko Indonesia yang tercermin dalam credit default swap (CDS). Dengan yield yang mendekati 6%, obligasi Danantara dinilai menawarkan imbal hasil yang kompetitif bagi investor global. Tingkat kupon tersebut juga masih dianggap wajar mengingat Danantara belum memiliki sejarah panjang sebagai penerbit obligasi di pasar internasional.
Baca Juga: Rosan: Obligasi Internasional Danantara Kebanjiran Permintaan hingga US$ 4,6 Miliar Keberhasilan penerbitan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek Indonesia masih terjaga. Namun, besarnya permintaan tersebut juga menjadi pengingat bahwa pasar masih menilai Indonesia dan Danantara memiliki risiko yang harus dibayar melalui imbal hasil yang relatif tinggi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News