KONTAN.CO.ID - Kekhawatiran investor terhadap potensi konflik berkepanjangan di Timur Tengah memicu aksi “flight to safety” pada awal pekan, Senin (2/3/2026). Dana global mengalir deras ke obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), mendorong yield ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Yield obligasi acuan AS tenor 10 tahun turun ke 3,9260% pada awal sesi Asia level terendah dalam 11 bulan.
Baca Juga: SIA & Scoot Batalkan Penerbangan ke Dubai–Jeddah, Dipicu Perang Iran vs AS dan Israel Sementara itu, yield tenor dua tahun sempat merosot ke 3,3650%, posisi terendah sejak Agustus 2022, sebelum memangkas sedikit pelemahannya. Sebagai catatan, yield obligasi bergerak berlawanan arah dengan harga. Artinya, penurunan yield mencerminkan lonjakan permintaan terhadap surat utang pemerintah AS. Lonjakan minat terhadap aset safe haven ini terjadi setelah Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran, yang dibalas Iran dengan rentetan rudal tambahan. Eskalasi ini menyusul terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang semakin meningkatkan ketidakpastian geopolitik dan risiko terhadap ekonomi global. Obligasi pemerintah AS atau United States Department of the Treasury memang kerap menjadi tujuan utama investor saat gejolak global meningkat. Dalam kondisi
risk-off seperti saat ini, pelaku pasar cenderung melepas aset berisiko seperti saham dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Baca Juga: Israel Gempur Target Hizbullah di Lebanon, Ketegangan Kawasan Kian Membara Namun, analis Rabobank mengingatkan bahwa meskipun yield turun akibat sentimen penghindaran risiko, eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi bersifat inflasioner mirip dengan dampak ketika Rusia menginvasi Ukraina. Lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok bisa memicu tekanan inflasi baru, yang pada akhirnya dapat membatasi ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter. Dengan kombinasi ketidakpastian geopolitik dan risiko inflasi, volatilitas di pasar keuangan global diperkirakan masih tinggi dalam waktu dekat.