Investor Ungkap Harapan ke Menkeu Suahasil, Ini yang Perlu Dicermati



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara menjadi perhatian investor. Pelaku pasar kini mencermati apakah pergantian tersebut hanya merupakan perubahan figur atau turut membawa perubahan arah kebijakan fiskal pemerintah.

Praktisi pasar modal sekaligus Direktur PT Indovesta Utama Mandiri Rivan Kurniawan menilai, nilai utama Suahasil di mata investor adalah pengalaman dan kontinuitas. Suahasil bukan merupakan figur dari luar Kementerian Keuangan, melainkan telah menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan sebelumnya pernah menjadi Kepala Badan Kebijakan Fiskal.

“Dari sudut pandang investor, pergantian ini dapat dibaca sebagai pergeseran karakter kebijakan. Bila Purbaya lebih identik dengan pendekatan yang pro-growth dan lebih aktif menggunakan instrumen fiskal, Suahasil kemungkinan akan lebih diasosiasikan dengan disiplin fiskal, stabilitas, dan policy predictability,” kata Rivan kepada Kontan, Senin (14/9/2026).


Baca Juga: Suahasil Jadi Menkeu, Begini Dampaknya ke Pasar Saham

Menurut Rivan, karakter Suahasil yang teknokratis, prudent, dan predictable dapat menjadi nilai positif bagi investor. Terlebih, sebelum menjabat sebagai Menkeu, Suahasil telah menekankan pentingnya kredibilitas APBN, disiplin fiskal, komunikasi kebijakan, serta menjaga defisit di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB).

Ia menilai kepastian kebijakan menjadi aspek penting bagi investor, terutama investor asing. Karena itu, pasar akan mencermati apakah Suahasil mampu mempertahankan kredibilitas APBN sekaligus memberikan panduan kebijakan yang lebih jelas.

Dari sisi pasar, Rivan melihat dampak pergantian Menkeu cukup signifikan dalam jangka pendek. Namun, arah akhirnya belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan reaksi satu hari perdagangan.

Pada perdagangan Senin (14/9/2026), IHSG sempat tertekan lebih dari 1% sebelum berbalik dan ditutup melemah relatif terbatas 0,10% ke level 6.534,69. Sementara itu, rupiah ditutup melemah 0,33% ke level Rp 17.669 per dolar AS.

“Reaksi pasar menunjukkan adanya uncertainty. Uji sebenarnya baru terjadi setelah pasar memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kebijakan Suahasil,” ujar Rivan.

Menurutnya, apabila Suahasil mampu mempertahankan kredibilitas APBN, menjaga defisit, dan memperbaiki konsistensi komunikasi pemerintah, pergantian Menkeu dapat berubah menjadi faktor positif bagi pasar.

Sebaliknya, perubahan kebijakan yang mendadak atau komunikasi pemerintah yang kembali menimbulkan ketidakpastian dapat membuat investor meminta premi risiko lebih tinggi terhadap aset Indonesia.

Rivan mengatakan, investor perlu mencermati sejumlah indikator setelah pergantian Menkeu, terutama arah defisit dan disiplin APBN, kebutuhan pembiayaan negara, serta perkembangan utang pemerintah. Selain itu, kualitas belanja pemerintah juga menjadi perhatian karena pasar tidak hanya melihat besaran belanja, tetapi juga dampaknya terhadap pertumbuhan dan produktivitas ekonomi.

Baca Juga: Suahasil Nazara Resmi Jadi Menkeu, Begini Respons Pasar

Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter juga menjadi faktor penting. Hal ini berkaitan dengan stabilitas rupiah, inflasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), serta arus modal. Di tengah harga minyak yang menjadi perhatian pasar, kebijakan subsidi energi juga perlu dicermati agar tidak menjadi tekanan berlebihan terhadap APBN.

Namun, menurut Rivan, indikator yang menarik dipantau bukan hanya pergerakan IHSG. Investor juga perlu melihat kombinasi rupiah, yield SBN, foreign flow, dan credit default swap (CDS) Indonesia dalam beberapa pekan ke depan untuk menilai apakah respons positif terhadap Suahasil merupakan peningkatan kepercayaan atau sekadar relief rally sementara.

Lebih lanjut, Rivan menilai perhatian investor terhadap era Purbaya bukan berarti seluruh kebijakannya dianggap keliru. Persoalan utamanya lebih berkaitan dengan persepsi mengenai konsistensi dan predictability kebijakan.

Menurut dia, Purbaya membawa pendekatan yang relatif agresif dalam mendorong pertumbuhan dengan penggunaan berbagai instrumen fiskal dan kebijakan untuk mendukung perekonomian. Kondisi tersebut membuat investor perlu mencerna berbagai perubahan kebijakan dan dampaknya terhadap fiskal.

Karena itu, peluang perbaikan terbesar bagi Suahasil adalah membangun kembali kepastian kebijakan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan panduan yang lebih jelas mengenai defisit, pembiayaan, subsidi, kualitas belanja, serta hubungan antara kebijakan fiskal dan moneter.

“Suahasil tidak harus membalik seluruh kebijakan Purbaya. Yang lebih penting adalah memberikan kerangka yang lebih predictable mengenai bagaimana kebijakan tersebut akan dijalankan. Itu yang biasanya paling dihargai investor,” jelas Rivan.

Baca Juga: Suahasil Jadi Menkeu, Pasar Saham Menanti Reset Kebijakan Fiskal

Rivan menambahkan, pasar tidak membutuhkan kebijakan yang spektakuler dari Menkeu baru. Investor justru membutuhkan kepastian dan konsistensi, mulai dari komitmen terhadap disiplin fiskal, komunikasi dengan investor, kualitas belanja pemerintah, koordinasi dengan Bank Indonesia, hingga kepastian kebijakan yang berdampak langsung terhadap dunia usaha.

“Pasar tidak terlalu membutuhkan new policy, tetapi membutuhkan clear policy. Dan menurut saya, itu justru merupakan kekuatan yang bisa ditawarkan Suahasil,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News