KONTAN.CO.ID - Jika Anda terlalu sering mengecek grafik harga emas, pergerakan kripto, atau naik-turun harga perak, Robert Kiyosaki menyarankan untuk lebih santai. Melansir
The Street, dalam unggahan di platform X pada 22 Januari 2026, penulis buku
Rich Dad Poor Dad itu menegaskan bahwa ia tidak terlalu peduli apakah harga emas, perak, Bitcoin (BTC), atau bahkan Ethereum (ETH) naik atau turun pada hari tertentu. Alasannya sederhana. Menurut Kiyosaki, persoalan utama bukanlah volatilitas pasar, melainkan pelemahan nilai dolar Amerika Serikat yang terjadi secara perlahan namun konsisten.
Utang AS membengkak, dolar melemah
Kiyosaki menilai, seiring utang pemerintah federal AS yang terus meningkat, daya beli dolar AS justru semakin tergerus. Pendapat itu bukan tanpa dasar. Saat ini, total utang pemerintah federal AS telah mencapai US$ 38,45 triliun. Sementara itu, Indeks Dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, tercatat berada di level terendah dalam dua pekan terakhir, yakni 98,30 pada saat laporan ini ditulis oleh The Street pada Sabtu (24/1/2026).
Baca Juga: Donald Trump Tuntut JPMorgan dan CEO-nya, Ini Pemicu Gugatan Rp 84 Triliun! Menurut Kiyosaki, jika realitas ini sudah dipahami, fluktuasi harga harian aset-aset investasi tidak lagi terlalu penting. Meski begitu, pergerakan harga aset-aset populer tersebut tetap mengguncang pasar global. Harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di level US$ 4.967,03 per ons pada 23 Januari dan kini mengincar level psikologis US$ 5.000 per ons. Harga perak juga terus memecahkan rekor baru, dengan ATH terakhir di US$ 100,29 per ons pada 23 Januari. Bitcoin, di sisi lain, diperdagangkan di kisaran US$ 88.866,80 saat artikel ini ditulis, jauh di bawah puncaknya yang sempat menembus US$ 126.000 pada awal Oktober tahun lalu. Sementara Ether berada di level US$ 2.915,86, atau sekitar 40% lebih rendah dibandingkan rekor tertingginya di US$ 4.953,73 yang tercapai pada akhir April tahun lalu.
Baca Juga: Setahun Trump: Mayoritas Warga AS Nilai Presiden Bawa Negara ke Arah Buruk Alih-alih fokus pada naik-turunnya harga, Kiyosaki justru menyoroti masalah yang menurutnya lebih mendasar, yakni kualitas kepemimpinan ekonomi.
Kritik tajam terhadap para pengambil kebijakan
Dengan gaya bicara yang lugas, Kiyosaki melontarkan kritik terhadap apa yang ia sebut sebagai para doktor bergelar tinggi namun tidak kompeten yang memimpin Federal Reserve, Departemen Keuangan AS, dan pemerintahan AS. Menurutnya, para pengambil kebijakan tersebut terus mengulangi kesalahan yang sama, yang pada akhirnya melemahkan mata uang fiat dari waktu ke waktu. Kesimpulan Kiyosaki cukup sederhana: mengapa harus terlalu pusing memantau grafik harga? Ia mengaku terus membeli emas, perak, Bitcoin, dan Ethereum dengan keyakinan bahwa ketika nilai dolar AS terus tergerus, nilai aset-aset tersebut justru akan melonjak.
Tonton: WEF Davos 2026, Nvidia hingga Amazon Tertarik Investasi di Indonesia Pesan ini mencerminkan pandangan yang semakin banyak dianut investor global, yang melihat inflasi, lonjakan utang, dan pelemahan mata uang sebagai ancaman serius. Mereka juga menilai investasi pada aset riil sebagai salah satu bentuk perlindungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News