TOKYO, 8 Februari (Reuters) - Koalisi pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meraih kemenangan bersejarah dalam pemilihan umum pada hari Minggu, membuka jalan bagi pemotongan pajak yang dijanjikan yang telah mengguncang pasar keuangan dan pengeluaran militer yang bertujuan untuk melawan Tiongkok. Takaichi yang konservatif, pemimpin wanita pertama Jepang yang mengatakan dirinya terinspirasi oleh "Wanita Besi" Inggris, Margaret Thatcher, diproyeksikan akan meraih sebanyak 328 dari 465 kursi di majelis rendah parlemen untuk Partai Demokrat Liberalnya. Partai Demokrat Liberal sendiri melampaui 233 kursi yang dibutuhkan untuk mayoritas kurang dari dua jam setelah pemungutan suara ditutup, menuju salah satu hasil pemilihan terbaiknya sepanjang sejarah.
Pemilu Musim Dingin Membawa Badai Suara
"Pemilu ini melibatkan perubahan kebijakan besar — khususnya perubahan besar — dalam kebijakan ekonomi dan fiskal, serta penguatan kebijakan keamanan," kata Takaichi dalam sebuah wawancara televisi saat hasil pemilu mulai masuk. "Ini adalah kebijakan yang telah menimbulkan banyak penentangan... Jika kami telah menerima dukungan publik, maka kami benar-benar harus mengatasi masalah ini dengan segenap kekuatan kami." Takaichi, 64 tahun, mengadakan pemilu mendadak di musim dingin yang jarang terjadi ini untuk memanfaatkan popularitas pribadinya yang tinggi sejak ia diangkat menjadi pemimpin LDP yang telah lama berkuasa akhir tahun lalu.Liburan ke Rusia, Ribet atau Seru?
© 2026 Konten oleh Kontan
Didukung oleh Trump, Dikritik oleh China
Kepala lobi bisnis terkemuka Jepang, Keidanren, Yoshinobu Tsutsui, menyambut kemenangan Takaichi sebagai pemulihan stabilitas politik. "Ekonomi Jepang sekarang berada pada titik kritis untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan kuat," katanya. Partai LDP, yang telah memerintah hampir sepanjang sejarah pascaperang Jepang, telah kehilangan kendali atas kedua majelis dalam pemilihan selama 15 bulan terakhir di bawah pendahulu Takaichi, Shigeru Ishiba. Takaichi telah berhasil membalikkan nasib partai dengan menarik simpati pemilih muda. Baca Juga: Trump Dukung Penuh Takaichi Jelang Pemilu Jepang, Pasar Tetap Waspada Ia bahkan memicu kegilaan "sanakatsu", yang secara kasar diterjemahkan sebagai "Sanae-mania". Tas tangannya dan pena merah muda yang ia gunakan untuk mencatat di parlemen sangat diminati. Presiden AS Donald Trump pekan lalu memberikan "dukungan penuh" kepada Takaichi dan mengatakan akan menjamunya di Gedung Putih bulan depan. China juga akan menganalisis hasilnya. Beberapa minggu setelah menjabat, Takaichi memicu perselisihan terbesar dengan Beijing dalam lebih dari satu dekade dengan secara terbuka menguraikan bagaimana Tokyo mungkin menanggapi serangan China terhadap Taiwan, pulau demokratis yang diklaim oleh China. China menanggapi dengan beberapa tindakan balasan, termasuk mendesak warganya untuk tidak bepergian ke Jepang. Presiden Taiwan Lai Ching-te adalah salah satu pemimpin asing pertama yang memberi selamat kepada Takaichi, mengatakan ia berharap kemenangannya akan "membawa masa depan yang lebih makmur dan aman bagi Jepang dan mitranya di kawasan ini".Miliarder India Anil Ambani Kembali Jadi Sorotan Kali Ini Terjerat Skandal Epstein
© 2026 Konten oleh Kontan