IPF: Dampak Perang Timur Tengah Bisa Kerek Harga Kemasan hingga 40%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia Packaging Federation (IPF) menyoroti kenaikan harga bahan baku kemasan, resin, yang menjadi komponen utama dalam produksi kemasan fleksibel.

Direktur Eksekutif IPF, Henky Wibawa mengatakan, kemasan fleksibel yang dimaksud seperti standing pouch untuk minyak goreng, beras, dan lainnya. 

"Porsi biaya bahan baku berkisar 50-70% dari biaya total kemasan. Nah, kalau kenaikan harga bahan baku itu minimal 80%, maka biaya kemasan akan naik paling tidak 40%," ujarnya kepada Kontan, Selasa (31/3/2026).


Baca Juga: IPF: Gejolak Timur Tengah Ganggu Pasokan, Harga Bahan Baku Plastik & Kemasan Melonjak

Menurutnya, potensi kenaikan harga yang cukup signifikan ini membuat produsen dilema antara harus menaikkan harga jual atau memangkas margin keuntungan.

“Bagi produk jadi, harus menghitung dari elastisitas permintaan. Makanya, perlu kolaborasi dan inovasi bersama antara produsen kemasan dan pemilik merek dalam hal ini,” imbuh Henky.

Bahkan, ia menyebut, pabrik polimer dan petrokimia di Asia saat ini telah banyak yang mendeklarasikan force majeure atau menurunkan tingkat operasi. "Gangguan pasokan nafta, memaksa produsen menurunkan tingkat operasi,” imbuh dia.

Baca Juga: Produsen Mamin Mulai Rasakan Tekanan Biaya Kemasan

Henky melihat, hal ini mencerminkan luasnya dampak bagi industri kemasan, termasuk di Singapura, Korea Selatan, Thailand, Tiongkok, Taiwan, hingga Vietnam.

Tak hanya itu, Henky melanjutkan, masalah pengiriman dan kekurangan bahan baku juga memengaruhi seluruh rantai nilai polimer sebagai bahan baku utama plastik kemasan.

Jika ketegangan berlanjut, Henky memproyeksikan pasokan global dapat makin ketat. “Volatilitas harga juga diperkirakan meningkat dalam beberapa minggu ke depan,” tandasnya.

Baca Juga: Kemenperin Ungkap Dampak Gejolak Timur Tengah ke Industri Plastik dan Kemasan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News