KONTAN.CO.ID - Bisnis
investment banking di Wall Street menunjukkan kebangkitan yang semakin kuat pada 2026. Lonjakan aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO), merger dan akuisisi (M&A), serta penerbitan surat utang menjadi pendorong utama meningkatnya pendapatan bank-bank investasi Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Warren Buffett Percepat Pembagian Warisan, Target Rampung pada 2034 Enam bank terbesar di AS pekan ini melaporkan aktivitas transaksi di lini investment banking terus menguat. Hal tersebut menjadi sinyal bahwa pemulihan industri yang selama beberapa tahun tertahan mulai mendapatkan momentum. Berdasarkan data yang dihimpun
Reuters, pendapatan dari biaya jasa investment banking di enam bank terbesar AS melonjak rata-rata 45% pada kuartal II 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Morgan Stanley mencatat pertumbuhan tertinggi di antara para pesaingnya. Chief Executive Officer (CEO) Goldman Sachs David Solomon mengatakan, permintaan layanan investment banking terus meningkat, bahkan setelah mencatat pendapatan yang sangat kuat pada kuartal II. "Meski pendapatan
investment banking sangat kuat pada kuartal ini, antrean transaksi (backlog) kami justru meningkat ke level tertinggi dalam lima tahun dan menjadi yang terbesar kedua sepanjang sejarah, didukung oleh rekor backlog bisnis advisory," ujar Solomon dalam paparan kepada analis, Selasa (14/7/2026). Selama beberapa tahun terakhir, tingginya suku bunga, volatilitas pasar, dan ketatnya pengawasan regulasi membuat banyak perusahaan menunda aksi korporasi seperti IPO maupun merger.
Baca Juga: IMF Ingatkan Pemerintah Jaga Stabilitas Harga di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global Belakangan, konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian mengenai dampak ekonomi dari perkembangan kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI) sempat membuat pelaku pasar lebih berhati-hati. Namun, kedua faktor tersebut tidak cukup kuat untuk menghentikan pemulihan aktivitas
investment banking. IPO kembali bergairah Pasar IPO AS mencatat kinerja yang sangat kuat pada kuartal II 2026. Menurut Renaissance Capital, nilai dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai rekor US$ 104,8 miliar, didorong oleh pencatatan saham bersejarah SpaceX milik Elon Musk. Kembalinya aktivitas IPO juga membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan yang dimiliki private equity maupun venture capital untuk kembali melantai di bursa.
Baca Juga: Moody's Pertahankan Rating Israel di Baa1, tetapi Pangkas Proyeksi Pertumbuhan 2026 Hal ini menjadi jalur keluar (
exit strategy) yang penting bagi investor finansial, setelah selama beberapa tahun harus menahan kepemilikan portofolio karena pasar IPO lesu. "Memasuki paruh kedua tahun ini, pipeline transaksi terlihat sehat," ujar CEO Citigroup Jane Fraser. Ia menambahkan Citigroup juga berencana menambah talenta baru, khususnya di bidang merger dan akuisisi, guna memperbesar pangsa pasar. Wall Street juga tengah bersiap menyambut IPO dua perusahaan AI besar, yakni Anthropic dan OpenAI, yang telah mengajukan dokumen pencatatan saham secara rahasia.
Reuters sebelumnya melaporkan kedua perusahaan berpotensi melantai di bursa tahun ini dengan valuasi yang diperkirakan mencapai sekitar US$ 1 triliun masing-masing. IPO berukuran jumbo seperti ini biasanya menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar bagi bank investasi karena menghasilkan biaya jasa hingga ratusan juta dolar AS, sekaligus membuka peluang bisnis lanjutan seperti penghimpunan modal dan konsultasi merger.
Baca Juga: Pejabat The Fed Yakin Inflasi AS Mulai Mendingin Meski Masih di Atas Target Aktivitas merger melonjak Selain IPO, aktivitas merger dan akuisisi global juga meningkat tajam. Data Dealogic menunjukkan nilai transaksi M&A yang diumumkan secara global telah melampaui US$ 3 triliun sepanjang 2026 atau meningkat lebih dari 40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Chief Financial Officer (CFO) Bank of America Alastair Borthwick mengatakan aktivitas klien meningkat di berbagai lini, mulai dari pasar modal, transaksi strategis, hingga pengelolaan likuiditas. Sementara itu, CFO JPMorgan Jeremy Barnum menyebut pipeline transaksi masih sangat kuat dan tingginya aktivitas saat ini justru mendorong lebih banyak perusahaan untuk melakukan aksi korporasi.
Baca Juga: Harga Produsen AS Tak Terduga Turun pada Juni, Sinyal Inflasi Mulai Mereda Sepanjang tahun ini, perusahaan teknologi terutama yang bergerak di bidang AI dan penyedia infrastruktur komputasi mendominasi aktivitas transaksi. Selain itu, sektor kesehatan, utilitas, dan energi juga mencatat peningkatan aktivitas. Analis Morningstar menilai "super-siklus" investment banking masih memiliki ruang untuk berlanjut, meski bisnis ini tetap memiliki karakter yang sangat dipengaruhi kondisi pasar. Morningstar bahkan memperkirakan perlambatan yang signifikan baru akan terjadi pada 2028 atau setelahnya. Prospek peningkatan laba investment banking turut menopang kenaikan harga saham bank-bank Wall Street sepanjang tahun ini.
Meski kenaikannya tidak sebesar beberapa tahun sebelumnya karena investor mulai mencermati tingginya valuasi saham. "Divisi investment banking mencatat kuartal dengan pendapatan biaya jasa tertinggi sejak puncak booming pada 2021," kata David Wagner, Head of Equities dan Portfolio Manager Aptus Capital Advisors.
Baca Juga: Buffett Akhiri Donasi ke Gates Foundation, Sebut Bill Gates Sudah Mengetahuinya Menurutnya, bank-bank investasi besar berhasil melampaui ekspektasi laba Wall Street dengan margin yang lebar, mencerminkan salah satu lingkungan transaksi korporasi paling kondusif dalam beberapa tahun terakhir.