KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tiga perusahaan teknologi terkemuka—SpaceX, OpenAI, dan Anthropic—diperkirakan akan memimpin gelombang penawaran umum perdana saham (IPO) terbesar dalam sejarah pasar modal Amerika Serikat. Namun, ketiganya memiliki satu kesamaan mencolok: belum mencetak keuntungan. Menurut estimasi LPL Financial, ketiga perusahaan ini berpotensi menambah kapitalisasi pasar gabungan hingga US$3 triliun ke pasar ekuitas AS yang saat ini bernilai lebih dari US$69 triliun. IPO ini dinilai akan menjadi ujian terbesar dalam satu dekade terakhir terhadap minat investor pada saham teknologi berpertumbuhan tinggi.
Valuasi Tinggi, Fundamental Dipertanyakan
Analis menyoroti adanya kesenjangan signifikan antara valuasi dan fundamental bisnis ketiga perusahaan tersebut. Di pasar privat, valuasi mereka sudah menyamai perusahaan besar seperti Meta Platforms dan Palantir Technologies, meskipun belum memiliki rekam jejak profitabilitas yang konsisten.
Baca Juga: Korea Selatan–Vietnam Perkuat Kerja Sama, Puluhan Kesepakatan Bisnis Siap Diteken Elon Musk melalui SpaceX bahkan menargetkan valuasi hingga US$1,75 triliun—berpotensi menjadi IPO terbesar sepanjang sejarah, melampaui ukuran IPO Meta Platforms dan Tesla. Sementara itu, OpenAI dilaporkan membidik valuasi sekitar US$1 triliun, dan Anthropic mencapai valuasi US$380 miliar dalam putaran pendanaan Februari lalu. Namun demikian, laporan Reuters menyebut SpaceX mencatat kerugian hampir US$5 miliar dari pendapatan US$18,6 miliar tahun lalu. OpenAI dan Anthropic juga dilaporkan masih dalam kondisi merugi menjelang rencana IPO mereka.
Daya Tarik: AI dan Internet Satelit
Di balik kerugian tersebut, investor tetap melihat potensi pertumbuhan besar. Bisnis internet satelit Starlink milik SpaceX dinilai sebagai mesin pertumbuhan jangka panjang yang berpotensi mengubah industri. Selain itu, investasi besar pada teknologi roket reusable melalui program Starship dan pengembangan AI melalui xAI menjadi faktor pendukung valuasi tinggi. Di sisi lain, OpenAI dan Anthropic berada di pusat booming kecerdasan buatan (AI). Produk seperti ChatGPT dan Claude telah mencapai adopsi luas, termasuk di sektor enterprise.
Didorong Tren “Magnificent Seven”
Fenomena ini juga dipicu oleh dominasi saham teknologi dalam indeks utama AS, khususnya kelompok “Magnificent Seven” yang terdiri dari Apple, Microsoft, Alphabet, Amazon, Nvidia, Meta Platforms, dan Tesla. Kelompok ini kini menyumbang sekitar sepertiga bobot indeks S&P 500, mencerminkan dominasi pertumbuhan laba dalam beberapa tahun terakhir. Data dari London Stock Exchange Group menunjukkan laba kelompok ini tumbuh signifikan, jauh melampaui perusahaan lain dalam indeks.
Tantangan Profitabilitas dan Masuk Indeks
Meski prospek pertumbuhan tinggi, tantangan utama tetap pada profitabilitas. Untuk masuk ke indeks S&P 500, perusahaan harus mencatat laba selama empat kuartal berturut-turut dan minimal telah diperdagangkan selama 12 bulan.
Baca Juga: Lonjakan Harga BBM Picu Minat Sewa Mobil Listrik di AS, Dampak Konflik Timur Tengah Contohnya, Tesla yang melakukan IPO pada 2010 baru masuk S&P 500 pada 2020 setelah mencapai profitabilitas berkelanjutan.
Hal ini berarti SpaceX, OpenAI, dan Anthropic berpotensi harus menunggu bertahun-tahun sebelum mendapatkan aliran dana otomatis dari investor institusional yang mengikuti indeks. Di sisi lain, Nasdaq dilaporkan tengah mempercepat proses masuknya perusahaan besar ke indeks Nasdaq-100, yang bisa menjadi jalur awal bagi perusahaan-perusahaan tersebut.
Risiko Konsentrasi dan Ketidakpastian
Sejumlah analis memperingatkan bahwa masuknya perusahaan-perusahaan besar ini ke indeks utama dapat memperparah konsentrasi pasar yang sudah didominasi segelintir saham teknologi. Selain itu, sejarah menunjukkan bahwa tidak semua pionir teknologi mampu bertahan sebagai pemimpin jangka panjang. Oleh karena itu, diversifikasi tetap menjadi strategi penting bagi investor dalam menghadapi gelombang IPO besar ini.