KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masa penawaran umum perdana alias initial public offering (IPO) PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS) masih berlangsung hingga 8 Juli 2026. Di tengah proses tersebut, Semesta Indovest Sekuritas dalam riset 3 Juli 2026 menilai kekuatan utama RANS terletak pada ekosistem bisnis yang terintegrasi, sehingga memiliki peluang untuk mengoptimalkan tren pertumbuhan industri konten digital Indonesia dalam jangka panjang. Dalam risetnya, analis menyebut RANS tidak hanya mengandalkan bisnis media digital, tetapi membangun model usaha yang menghubungkan konten, intellectual property (IP), talent management, event, hingga bisnis pendukung seperti makanan dan minuman (F&B), fast moving consumer goods (FMCG), serta kosmetik. Berbeda dengan perusahaan yang hanya berfokus pada satu lini bisnis, skala jangkauan RANS ditopang oleh basis audiens digital yang besar serta pergeseran struktural konsumsi media ke platform digital.
Baca Juga: Bundamedik (BMHS) Ekspansi di RSU Bunda Padang, Hadirkan Bedah Robotik Namun, di sisi lain, RANS masih menghadapi tekanan kinerja keuangan sepanjang 2025. Pendapatan RANS tercatat sebesar Rp 353,4 miliar atau turun 13,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh merosotnya pendapatan dari lini brand ambassador dan talent management sebesar 51,5% secara tahunan, serta dampak divestasi PT RPKSB pada 2024. Sementara itu, beban operasional mencapai Rp 77,2 miliar sehingga laba operasi turun menjadi Rp 75,6 miliar. Laba bersih perusahaan ini juga terkontraksi 38,8% menjadi Rp 61 miliar, dengan margin laba bersih alias net profit margin (NPM) menyusut menjadi 16% dari sebelumnya 23,6%. Meski demikian, Semesta Indovest Sekuritas menilai struktur pendapatan RANS relatif lebih terdiversifikasi dibandingkan sebagian pelaku industri media digital. Saat ini, sekitar 33,5% pendapatan berasal dari monetisasi konten media sosial, 30,3% dari penjualan produk berbasis intellectual property (IP), 21,2% dari production house dan penyelenggaraan event, serta 14,7% dari bisnis talent management. Menurut analis, komposisi tersebut membuat perusahaan tidak bergantung pada satu sumber pendapatan saja, sehingga memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengembangkan monetisasi bisnis. Melalui IPO, RANS menargetkan penghimpunan dana sekitar Rp 429,25 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat ekspansi bisnis. Sekitar 37,6% dialokasikan untuk belanja operasional penyelenggaraan tur konser musik berskala besar, 19,8% untuk mengakuisisi 51% saham PT Rans Kosmetika Indonesia (Slavina), 18,6% untuk pengembangan wahana hiburan keluarga Cipungland, serta 8,2% untuk pembentukan perusahaan berbasis kecerdasan buatan (AI) bersama Feedloop. Sisa dana akan digunakan untuk pelunasan pinjaman BNI dan tambahan modal pada PT Rans Nikmat Sejahtera. Semesta Indovest Sekuritas menilai prospek industri konten digital Indonesia masih cukup menarik seiring terus meningkatnya jumlah pengguna internet dan bergesernya belanja iklan ke platform digital.
Baca Juga: Proyek FSRU AKR Corporindo (AKRA) Perkuat Diversifikasi, Cermati Rekomendasi Analis Jumlah pengguna internet Indonesia diperkirakan mencapai 235,3 juta jiwa pada 2026 dengan tingkat penetrasi sekitar 81,7%. Sementara itu, belanja iklan digital diproyeksikan mencapai sekitar US$3,23 miliar pada 2025 atau setara 52% dari total belanja iklan nasional. Analis juga mencatat belanja iklan melalui media sosial dan influencer marketing masing-masing diperkirakan tumbuh 11,3% dan 14,4% secara tahunan. Tren tersebut menunjukkan semakin besarnya preferensi perusahaan untuk memasarkan produk melalui kanal digital yang lebih personal, interaktif, dan berbasis engagement. Dalam jangka panjang, pasar iklan digital Indonesia diproyeksikan meningkat menjadi sekitar US$ 4,51 miliar pada 2031. Kondisi ini dinilai membuka ruang pertumbuhan bagi perusahaan media digital seperti RANS untuk memperluas monetisasi konten, sponsorship, hingga aktivasi intellectual property. Salah satu kekuatan utama RANS, menurut Semesta Indovest Sekuritas, adalah besarnya distribusi audiens di berbagai platform digital. Perusahaan ini mencatat sekitar 91 juta Instagram impressions, 29 juta reach, 23 juta tayangan di TikTok, 5,8 juta penayangan di YouTube, serta lebih dari 3,4 juta interaksi pada sejumlah program digital. RANS juga mengembangkan intellectual property menjadi berbagai aktivitas bisnis offline. Salah satunya melalui Cipungland yang sepanjang 2025 berhasil menarik 42.298 pengunjung di Bekasi dan Karawang. Dalam empat tahun terakhir, RANS juga telah menyelenggarakan lebih dari 20 event off-air dengan total lebih dari 700.000 pengunjung. Menurut Semesta Indovest Sekuritas, sinergi antarunit usaha tersebut menjadi salah satu keunggulan kompetitif karena memungkinkan perusahaan menghubungkan performa konten digital dengan bisnis event, sponsorship, hingga penjualan produk konsumen. Meski prospek industri dinilai positif, Semesta Indovest Sekuritas mengingatkan investor terhadap sejumlah risiko.
Baca Juga: Saham Sektor Energi Terpuruk, Simak Prospeknya pada Semester II-2026 Salah satunya adalah tingginya ketergantungan bisnis terhadap figur Raffi Ahmad dan Nagita Slavina beserta keluarga yang selama ini menjadi daya tarik utama konten dan kerja sama komersial. Penurunan popularitas maupun isu reputasi berpotensi memengaruhi jumlah penonton, engagement, hingga pendapatan. Selain itu, persaingan industri konten digital juga semakin ketat karena rendahnya hambatan masuk dan cepatnya perubahan tren maupun algoritma platform digital. Perusahaan ini dituntut terus berinovasi agar mampu mempertahankan trafik dan peluang monetisasi. Risiko lain yang juga perlu diperhatikan adalah perubahan strategi belanja iklan pelanggan yang semakin mengarah pada kontrak jangka pendek, potensi sentimen negatif di media sosial, serta kondisi makroekonomi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat maupun anggaran pemasaran perusahaan. Dari sisi valuasi, Semesta Indovest Sekuritas mencatat price to earnings ratio (PER) RANS berada di kisaran 37,8 kali, masih di bawah rata-rata perusahaan sejenis sebesar 63,5 kali. Sementara price to book value (PBV) tercatat 6,3 kali, sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata industri sebesar 5,8 kali.
Di sisi lain, return on equity (ROE) RANS mencapai 17,9%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri sebesar 11,7%. Margin laba bersih sebesar 16% juga masih berada di atas rata-rata emiten sejenis yang berada di level 14,1%. RANS menawarkan sebanyak-banyaknya 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga penawaran Rp170 per saham. Masa penawaran umum berlangsung pada 2–8 Juli 2026, distribusi saham dijadwalkan pada 9 Juli 2026, dan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia direncanakan pada 10 Juli 2026.
Baca Juga: Strategi yang Bisa Dilakukan Investor di Tengah Dinamika Perekonomian Domestik Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News