Iran Ajukan Proposal Damai ke AS, Minta Ganti Rugi Perang dan Tarik Pasukan AS



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Iran disebut telah mengajukan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat (AS) yang mencakup penghentian konflik di berbagai front, termasuk Lebanon, penarikan pasukan AS dari wilayah yang berdekatan dengan Iran, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang yang melibatkan AS dan Israel.

Laporan media pemerintah Iran pada Selasa menyebutkan bahwa proposal tersebut juga mencakup tuntutan pencabutan sanksi, pembebasan dana yang dibekukan, serta penghentian blokade laut terhadap Iran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, dalam pernyataan pertamanya terkait proposal tersebut, menegaskan bahwa Teheran tetap menuntut pelonggaran sanksi ekonomi dan akses terhadap aset yang dibekukan di luar negeri.


Ia juga menyebut Iran menginginkan pengaturan ulang kebijakan yang berkaitan dengan aktivitas nuklir damai di bawah pengawasan International Atomic Energy Agency.

Namun demikian, isi proposal tersebut dilaporkan tidak jauh berbeda dari tawaran sebelumnya yang telah ditolak oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyebutnya sebagai “garbage”

Baca Juga: Ekonomi Jepang: Tumbuh Kuat, Tapi Krisis Energi Siap Menghantam

Respons Donald Trump dan Peluang Kesepakatan

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya telah menunda rencana serangan lanjutan terhadap Iran setelah Teheran mengirimkan proposal baru. Ia juga menyebut terdapat “peluang yang sangat baik” untuk mencapai kesepakatan yang dapat membatasi program nuklir Iran.

Trump menegaskan bahwa Washington akan puas jika Iran tidak memperoleh senjata nuklir. “Tampaknya ada peluang yang sangat baik bahwa mereka bisa mencapai kesepakatan. Jika kita bisa melakukannya tanpa harus membom mereka, saya akan sangat senang,” ujarnya kepada wartawan.

Trump juga mengklaim bahwa para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab telah memintanya untuk menahan serangan lebih lanjut, dengan harapan tercapainya kesepakatan yang dapat diterima oleh Amerika Serikat dan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Ketegangan Geopolitik dan Jalur Energi Strategis

Negosiasi ini berlangsung di tengah tekanan global untuk menjaga stabilitas kawasan, terutama terkait pentingnya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz yang menjadi rute vital perdagangan minyak dunia.

Seorang sumber dari Pakistan yang menjadi perantara komunikasi antara kedua pihak menyebut bahwa proposal Iran telah disampaikan ke Washington. Namun, ia menilai kedua pihak masih sering mengubah posisi tawar, sehingga proses negosiasi berlangsung tidak stabil.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Usai Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Turun

Meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak AS, sejumlah laporan menyebutkan adanya indikasi pelonggaran posisi dalam pembicaraan tidak langsung. Salah satunya adalah kemungkinan pembebasan sebagian dana Iran yang dibekukan di luar negeri serta fleksibilitas terbatas terkait aktivitas nuklir sipil di bawah pengawasan internasional.

Namun, seorang pejabat AS membantah laporan yang menyebut adanya kesepakatan untuk melonggarkan sanksi minyak selama negosiasi berlangsung.

Dampak Konflik Regional

Ketegangan antara Iran dan Israel, yang melibatkan dukungan AS, telah menimbulkan dampak besar di kawasan, termasuk korban jiwa dan gelombang pengungsian di Lebanon. Serangan balasan juga terjadi di beberapa negara Teluk, memperburuk situasi keamanan regional.

Meski gencatan senjata sempat diberlakukan, laporan menyebutkan masih adanya aktivitas drone yang diluncurkan dari wilayah Irak ke negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Kuwait.

Hingga saat ini, belum ada kesepakatan final antara kedua pihak, sementara proses diplomasi masih terus berlangsung dengan ketidakpastian yang tinggi.