KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak mengambil langkah militer baru terhadap Teheran. Pemerintah Iran menegaskan akan memberikan respons tegas apabila pasukan AS menindaklanjuti ancaman Presiden Donald Trump untuk kembali menyerang target-target Iran. Peringatan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi dalam percakapan telepon terpisah pada Sabtu (2/8) dengan pejabat senior Turki, Pakistan, dan Arab Saudi. Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah militer Kuwait mengumumkan telah menghancurkan sejumlah drone yang disebut diluncurkan Iran dan mengarah ke beberapa fasilitas vital di negara tersebut.
Dalam pembicaraan dengan Panglima Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, Araqchi menegaskan Iran akan memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk agresi. Ia juga membahas dampak dari "tindakan yang dapat mengganggu stabilitas" oleh AS serta potensi meningkatnya ketidakamanan di kawasan, sebagaimana disampaikan melalui akun Telegram resminya. Dalam percakapan berikutnya dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan, Araqchi menegaskan bahwa setiap serangan yang dilakukan AS dan Israel, maupun keterlibatan negara-negara kawasan dalam aksi tersebut, akan dibalas dengan "respons yang proporsional."
Baca Juga: Rencana FIFA Jual Hak Komersial Piala Dunia Gagal, Posisi Gianni Infantino Terancam Sementara itu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan berbicara melalui telepon dengan Presiden Donald Trump pada Sabtu. Seorang pejabat AS kepada Axios mengatakan bahwa Mohammed bin Salman "menyampaikan kekhawatiran dan meminta kejelasan" mengenai rencana AS terhadap Iran. Media Iran, Nournews, yang berafiliasi dengan badan keamanan tertinggi negara itu, juga memperingatkan bahwa serangan AS terhadap infrastruktur energi Iran akan memicu serangan balasan terhadap ladang minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), serta ladang gas di Qatar dan Israel. Nournews bahkan menyatakan bahwa "semuanya akan dibakar hingga menjadi abu."
Trump Masih Buka Peluang Negosiasi
Dalam rapat kabinet di Camp David pada Jumat (31/7/2026), Presiden Donald Trump mengatakan dirinya masih yakin para negosiator AS, termasuk menantunya Jared Kushner, utusan khusus Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, masih memiliki peluang mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun, Trump mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap Iran. "Mereka terlalu sering mengingkari janji," kata Trump, tuduhan yang selama ini juga kerap dilontarkan Teheran kepada Washington. Trump juga menegaskan bahwa dirinya akan "menyerang mereka."
Selat Hormuz Jadi Titik Risiko Pasokan Energi Dunia
Ketegangan antara Iran, AS, dan Israel terus meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global. Harga minyak tetap bertahan di level tinggi sejak AS dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Trump beralasan bahwa upaya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir membenarkan kenaikan harga energi dalam jangka pendek, meski tekanan ekonomi mulai meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahannya untuk mengakhiri konflik. Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak sekitar 24% sepanjang Juli. Survei Reuters terhadap para analis juga memperkirakan harga minyak masih berpotensi naik hingga akhir tahun.
Baca Juga: Rosatom Mengklaim Kapal Sipilnya Tenggelam di Laut Hitam Imbas Serangan Ukraina Risiko serangan Iran membuat sebagian besar kapal mengurangi pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama pengiriman energi dunia. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak global dan memberikan tekanan terhadap perekonomian dunia.
Kuwait dan Jalur Pelayaran Ikut Terdampak
Militer Kuwait menyatakan sebuah fasilitas pemerintah di wilayah utara negara itu serta properti milik sebuah perusahaan sipil di Pulau Bubiyan terkena serpihan benda jatuh pada Sabtu. Insiden tersebut menyebabkan kerusakan material, namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran kembali mengancam keamanan jalur Bab el-Mandeb di pintu masuk Laut Merah, salah satu rute ekspor utama minyak Arab Saudi selain Selat Hormuz. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga melaporkan menerima dua laporan insiden maritim di lepas pantai Oman pada Sabtu. Dalam salah satu insiden, sebuah kapal tanker terkena proyektil yang belum diketahui asalnya sehingga merusak ruang mesin kapal. Pada insiden lainnya, nakhoda kapal tanker melaporkan melihat percikan air besar disertai ledakan di dekat kapal, meski tidak ditemukan adanya kerusakan. Meningkatnya ancaman terhadap dua jalur pelayaran strategis, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, memperbesar risiko gangguan terhadap perdagangan energi global serta berpotensi mempertahankan tekanan kenaikan harga minyak di pasar internasional.