Iran Ancam Balas Serangan AS, Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Melambat



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Lalu lintas kapal pengangkut komoditas melalui Selat Hormuz melambat pada awal pekan ini setelah Iran mengancam akan melakukan aksi balasan apabila Amerika Serikat melancarkan serangan baru.

Data Kpler yang dikutip Reuters pada Selasa (8/9/2026) menunjukkan, jumlah kapal komoditas yang melintas Selat Hormuz pada Senin tercatat sebanyak tujuh kapal. Angka tersebut turun dibandingkan delapan kapal yang melintas sehari sebelumnya.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran strategis dunia karena menjadi rute utama bagi pengiriman minyak dan berbagai komoditas energi dari kawasan Teluk menuju pasar global. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai kelancaran pasokan energi dan harga minyak dunia.


Baca Juga: Ekspor Mobil China Melonjak, Penjualan Domestik Malah Makin Lesu

Iran sebelumnya memperingatkan bahwa infrastruktur energi di kawasan Teluk rentan menjadi sasaran apabila terjadi serangan baru dari Amerika Serikat. Ancaman tersebut mencakup kepentingan minyak dan gas milik perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di kawasan tersebut.

Goldman Sachs Naikkan Proyeksi Harga Minyak

Di tengah meningkatnya risiko geopolitik tersebut, Goldman Sachs turut menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) untuk Desember 2026 dan 2027.

Goldman Sachs memperkirakan gangguan terhadap aktivitas pelayaran di Timur Tengah dapat berlangsung hingga tahun depan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap pasokan minyak global dan mendorong harga minyak mentah tetap berada pada level yang lebih tinggi.

Perkembangan di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar karena jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia. Setiap gangguan berkepanjangan dapat meningkatkan biaya pengiriman, memperpanjang waktu tempuh kapal, serta menimbulkan risiko terhadap pasokan minyak dan gas.

Lalu Lintas Kapal di Bab el-Mandeb Meningkat

Di sisi lain, aktivitas pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb justru mengalami peningkatan pada awal pekan.

Data Kpler menunjukkan sebanyak 29 kapal komoditas melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Senin. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan 17 kapal yang tercatat melintas pada hari sebelumnya.

Bab el-Mandeb juga merupakan jalur pelayaran penting bagi perdagangan komoditas internasional karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu akses menuju Terusan Suez.

Baca Juga: Serangan Houthi Guncang Arab Saudi, 73 Orang Terluka dan Harga Minyak Naik

Peningkatan lalu lintas kapal di Bab el-Mandeb dapat mengindikasikan adanya perubahan pola pelayaran di tengah meningkatnya risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Namun, data pelacakan kapal tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya. Kpler mencatat bahwa sejumlah kapal kemungkinan tetap melintasi kedua selat tersebut dengan mematikan transponder atau sistem pelacakan mereka.

Kapal yang mematikan transponder tidak masuk dalam perhitungan jumlah kapal yang tercatat dalam data tersebut.

Dengan demikian, perlambatan lalu lintas yang terlihat di Selat Hormuz perlu dilihat bersama dengan kemungkinan adanya kapal yang tidak terdeteksi. Meski demikian, meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat tetap menjadi faktor penting yang berpotensi memengaruhi jalur perdagangan energi serta prospek harga minyak dunia.