Iran Ancam Blokade Minyak Timur Tengah, Trump Peringatkan Serangan Lebih Keras



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel kembali meningkat. Iran menyatakan akan memblokade ekspor minyak dari Timur Tengah selama serangan militer terhadap negaranya masih berlangsung.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan tidak akan membiarkan satu liter pun minyak keluar dari kawasan tersebut jika serangan udara dan rudal oleh AS dan Israel terus berlanjut.

Pernyataan ini memicu respons keras dari Presiden AS Donald Trump.


Trump memperingatkan Washington akan meningkatkan serangan secara signifikan jika Iran benar-benar menghambat jalur ekspor minyak, terutama di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Baca Juga: Asia Rentan Jika Selat Hormuz Ditutup, Ketergantungan Minyak Timur Tengah Capai 60%

“Kami akan memukul mereka jauh lebih keras sehingga mereka atau siapa pun yang membantu mereka tidak akan bisa pulih,” ujar Trump dalam konferensi pers.

Ia juga kembali menegaskan bahwa perang akan berlanjut hingga Iran benar-benar dikalahkan atau memiliki pemerintahan yang bersedia bekerja sama dengan AS.

Namun, pihak Iran menolak pernyataan tersebut. Juru bicara IRGC menyebut komentar Trump sebagai “omong kosong” dan menegaskan Iran yang akan menentukan kapan konflik berakhir.

“Kami yang akan menentukan akhir perang ini,” kata juru bicara tersebut seperti dikutip media pemerintah Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga menutup peluang negosiasi baru dengan Washington. Ia menyebut pengalaman perundingan sebelumnya dengan AS sebagai pengalaman pahit.

“Setelah tiga putaran perundingan yang disebut mengalami kemajuan, mereka justru menyerang kami. Jadi saya tidak melihat pembicaraan dengan AS akan menjadi agenda kami lagi,” ujarnya.

Baca Juga: AS Tingkatkan Aset Militer di Timur Tengah, Trump Tekan Iran Soal Nuklir

Konflik yang meningkat sejak akhir Februari ini telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dan melukai ribuan lainnya, menurut pernyataan duta besar Iran untuk PBB. Serangan udara dan rudal dilaporkan menghantam berbagai wilayah di Iran.

Situasi perang juga berdampak besar pada jalur energi global. Selat Hormuz praktis tidak dapat dilalui kapal tanker selama lebih dari sepekan, membuat sejumlah produsen menghentikan produksi karena fasilitas penyimpanan penuh.

Ketegangan tersebut sempat mendorong lonjakan harga minyak dunia. Pada Senin, harga minyak melonjak hingga 29% ke level tertinggi sejak 2022.

Namun pada Selasa, harga minyak Brent berbalik turun lebih dari 10% setelah Trump menyatakan optimisme bahwa konflik dapat berakhir lebih cepat dari perkiraan awal empat minggu.

Pasar saham global juga sempat jatuh sebelum akhirnya berbalik menguat seiring harapan konflik tidak berlangsung lama.

Trump juga mengatakan AS mempertimbangkan melonggarkan sanksi terkait minyak bagi beberapa negara”untuk membantu meredakan kekurangan pasokan global. Langkah tersebut disebut bisa mencakup pelonggaran lebih lanjut terhadap ekspor minyak Rusia.

Baca Juga: Timur Tengah Bergejolak: Ini Dampak Kematian Pemimpin Tertinggi Iran yang Mengguncang

Di lapangan, serangan militer terus berlanjut. Sebuah kilang minyak di Teheran dilaporkan terkena serangan dan memicu asap hitam tebal di langit kota.

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Ghebreyesus memperingatkan kebakaran tersebut berpotensi mencemari air, udara, dan pasokan makanan.

Militer Israel juga mengklaim melancarkan serangan baru di Iran bagian tengah serta menyerang Beirut, Lebanon, setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran meluncurkan serangan lintas perbatasan.

Konflik yang meluas ini juga memicu dampak internasional. Turki menyatakan sistem pertahanan udara NATO menembak jatuh rudal balistik yang ditembakkan dari Iran setelah memasuki wilayah udara Turki.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 8%–9% usai Konflik Iran Ganggu Arus di Timur Tengah

Sementara itu, lima pemain tim sepak bola wanita Iran yang berada di Australia mendapat visa kemanusiaan setelah mengajukan suaka karena khawatir menghadapi penganiayaan di negara asalnya.

Australia juga berencana mengirim pesawat pengintai militer ke Timur Tengah serta memasok rudal ke Uni Emirat Arab untuk membantu pertahanan dari potensi serangan Iran.