Iran Ancam Lanjutkan Blokade Minyak, Trump Siapkan Serangan Besar



KONTAN.CO.ID – DUBAI/CAIRO/WASHINGTON. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengancam akan menghentikan pengiriman minyak dari kawasan tersebut jika serangan Amerika Serikat dan Israel terus berlanjut.

Pasukan Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada Selasa (10/3) menyatakan tidak akan mengizinkan “satu liter pun minyak” keluar dari Timur Tengah apabila serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlangsung.

Pernyataan itu langsung memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia memperingatkan bahwa Washington akan melancarkan serangan yang jauh lebih besar jika Iran mencoba menghalangi ekspor minyak dari kawasan penghasil energi vital tersebut.


Trump menegaskan, Amerika Serikat tidak akan mentoleransi upaya apa pun yang mengganggu arus pasokan minyak global melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Baca Juga: Trump dan Putin Bahas Perang Iran, AS Pertimbangkan Longgarkan Sanksi Minyak Rusia

“Jika Iran melakukan sesuatu yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam Amerika Serikat dua puluh kali lebih keras daripada serangan yang sudah mereka terima sejauh ini,” ujar Trump.

Iran: Kami yang Menentukan Akhir Perang

Menanggapi ancaman tersebut, juru bicara IRGC menyebut pernyataan Trump sebagai “omong kosong”. Menurutnya, Iran yang akan menentukan kapan konflik ini berakhir.

“Kamilah yang akan menentukan akhir perang,” kata juru bicara IRGC, seperti dikutip media pemerintah Iran.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa Teheran kecil kemungkinan akan kembali bernegosiasi dengan Amerika Serikat.

Araqchi mengatakan pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa proses diplomasi tidak dapat dipercaya. Ia mencontohkan bahwa setelah tiga putaran perundingan yang disebut mengalami kemajuan besar, Amerika Serikat tetap melancarkan serangan terhadap Iran.

“Saya tidak berpikir berbicara dengan Amerika Serikat akan menjadi agenda kami lagi,” ujarnya dalam wawancara dengan PBS.

Konflik Mengganggu Jalur Energi Global

Perang yang meningkat sejak akhir Februari telah berdampak langsung pada aktivitas pelayaran minyak di Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut dilaporkan praktis tertutup selama lebih dari sepekan karena kapal tanker tidak dapat berlayar, sementara produsen minyak terpaksa menghentikan produksi akibat fasilitas penyimpanan yang mulai penuh.

Baca Juga: Stok Sawit Malaysia Turun ke Level Terendah Empat Bulan pada Februari

Situasi semakin kompleks setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru pada Senin (9/3). Penunjukan ini dipandang sebagai sinyal perlawanan Teheran terhadap tekanan Barat.

Meski demikian, Trump tetap optimistis konflik akan berakhir lebih cepat dari perkiraan awal empat minggu. Ia juga mengklaim bahwa militer Amerika Serikat telah menimbulkan kerusakan besar terhadap kemampuan militer Iran.

Pasar Minyak Bergejolak

Ketegangan geopolitik tersebut sempat memicu lonjakan harga minyak global. Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak hingga 29% pada Senin, mencapai level tertinggi sejak 2022.

Namun pada Selasa, harga Brent berbalik turun lebih dari 10% setelah Trump menyatakan optimisme bahwa konflik dapat segera berakhir serta adanya kemungkinan pelonggaran sanksi energi terhadap Rusia.

Setelah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Trump mengatakan Amerika Serikat berencana mencabut sebagian sanksi terkait minyak bagi “beberapa negara” guna meredakan kekurangan pasokan energi.

Langkah tersebut berpotensi membuka kembali aliran minyak Rusia, meski dapat mempersulit upaya Barat menekan Moskow terkait perang di Ukraina.

Kilang Minyak Iran Diserang

Di lapangan, eskalasi konflik terus terjadi. Asap hitam tebal terlihat menyelimuti Teheran setelah sebuah kilang minyak terkena serangan, menandai peningkatan serangan terhadap infrastruktur energi domestik Iran.

Baca Juga: Donald Trump Telepon Vladimir Putin, Bahas Perang Iran dan Perdamaian

Kepala World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa kebakaran tersebut berpotensi mencemari pasokan makanan, air, dan udara.

Sementara itu, militer Israel menyatakan telah melancarkan serangan baru di Iran bagian tengah dan juga menggempur Beirut di Lebanon, setelah milisi yang didukung Iran, Hezbollah, menembakkan serangan lintas perbatasan.

Di kawasan lain, Turki melaporkan sistem pertahanan udara NATO menembak jatuh rudal balistik yang ditembakkan dari Iran dan memasuki wilayah udara negara tersebut—insiden kedua sejak perang dimulai.

Konflik yang terus meluas ini tidak hanya memperburuk situasi keamanan regional, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global serta potensi guncangan ekonomi internasional.