KONTAN.CO.ID – LONDON. Pemerintah Inggris menegaskan angkatan bersenjatanya siap melindungi negara dari segala bentuk serangan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) memperingatkan agar Inggris tidak mengizinkan pesawat pengebom Amerika Serikat (AS) lepas landas dari pangkalan militer di wilayahnya. Dalam pernyataan yang dirilis pada Kamis (23/7/2026), IRGC menyebut Amerika Serikat telah melancarkan misi pengeboman terhadap Iran dari Pangkalan Udara Fairford di wilayah barat daya Inggris. IRGC menegaskan bahwa setiap pangkalan yang digunakan untuk melancarkan serangan tersebut akan dianggap sebagai sasaran militer yang sah. Perdana Menteri Inggris yang baru, Andy Burnham, diketahui telah menerima pemberitahuan pekan lalu bahwa London kembali menegaskan komitmennya terhadap perjanjian yang telah berlaku sebelumnya.
Kesepakatan itu memungkinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer Inggris untuk mendukung operasi yang disebut sebagai bentuk pertahanan kolektif kawasan. Menanggapi ancaman tersebut, juru bicara pemerintah Inggris mengatakan, "Angkatan bersenjata kami siap menjaga keamanan Britania Raya dari segala bentuk serangan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri."
Baca Juga: Strategi Baru The Fed Bikin Pasar Bergejolak, Yield Obligasi AS Melesat Ia menambahkan, "Hal ini dilakukan melalui pendekatan pertahanan udara dan rudal berlapis yang didukung oleh kemampuan Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy), Angkatan Darat Inggris, serta Angkatan Udara Kerajaan Inggris (Royal Air Force) yang dilengkapi berbagai kapabilitas canggih dan bekerja sama erat dengan para sekutu NATO."
Inggris Dukung Operasi Pertahanan AS
Pemerintah Inggris pada Rabu (23/7) menyatakan bahwa perjanjian yang telah berlaku tersebut mencakup dukungan terhadap operasi pertahanan Amerika Serikat untuk melemahkan lokasi peluncuran rudal dan kemampuan militer yang digunakan dalam serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Menanggapi peringatan Iran, pemerintah Inggris menegaskan tidak ada perubahan dalam kebijakannya. London tetap berkomitmen melindungi rakyat, kepentingan nasional, dan para sekutunya sesuai hukum internasional, sembari berupaya menghindari keterlibatan dalam konflik yang lebih luas. Sementara itu, Amerika Serikat melanjutkan serangan terhadap Iran untuk malam ke-13 secara berturut-turut setelah gencatan senjata sementara dinyatakan runtuh. Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangan ke sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara Arab tetangga.
Ketegangan Militer Meningkat
Pada Maret lalu, Iran dilaporkan menembakkan dua rudal balistik ke pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia. Kedua rudal tersebut tidak mengenai sasaran. Masih pada bulan yang sama, sebuah drone tipe Shahed buatan Iran menyebabkan kerusakan ringan setelah menghantam fasilitas di Pangkalan Udara Akrotiri milik Inggris di Siprus bagian selatan. Pemerintah Inggris kemudian menyatakan bahwa pangkalan tersebut tidak akan dimasukkan dalam cakupan perjanjian pertahanan dengan Amerika Serikat. Sejumlah pakar menilai Iran kemungkinan memiliki rudal yang mampu menjangkau London. Namun, rudal tersebut diperkirakan memiliki tingkat akurasi yang rendah sehingga risiko serangan dinilai masih kecil.
Inggris Tingkatkan Kewaspadaan terhadap Ancaman Iran
Inggris selama ini menuduh Iran melakukan serangan siber serta memanfaatkan kelompok kriminal dan jaringan proksi untuk menargetkan lawan politik maupun kelompok pembangkang yang berada di wilayah Inggris.
Baca Juga: Vietnam Perketat Media Sosial, Anak di Bawah 16 Tahun Tak Boleh Posting Konten Badan keamanan Inggris mengungkapkan terdapat sekitar 20 dugaan rencana serangan yang didukung Iran sepanjang satu tahun terakhir dan berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Bulan ini, pemerintah Inggris juga melarang segala bentuk dukungan terhadap IRGC dengan memanfaatkan kewenangan baru yang diterbitkan untuk mengatasi meningkatnya penggunaan kelompok proksi yang didukung negara. Kebijakan tersebut juga muncul setelah serangkaian serangan terhadap sejumlah lokasi Yahudi di London. Pemerintah Inggris menyatakan IRGC "hampir dapat dipastikan" mengarahkan kelompok yang diduga bertanggung jawab atas beberapa serangan tersebut. Selain itu, dua warga negara Rumania dijatuhi hukuman penjara bulan ini setelah jaksa menyatakan keduanya bertindak atas nama Iran dalam penikaman terhadap seorang jurnalis yang bekerja di media berbahasa Persia di London. Di sisi lain, pemerintah Iran secara konsisten membantah terlibat dalam berbagai serangan tersebut. Teheran menyebut tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak berdasar dan bermotif politik.