Iran Ancam Tutup Jalur Transit Ilegal di Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran berencana menutup sejumlah jalur transit di Selat Hormuz yang dinilai ilegal oleh pemerintah setempat. Ancaman tersebut menambah ketidakpastian terhadap kelancaran lalu lintas kapal tanker dan ekspor minyak dari kawasan Teluk.

Penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohammadreza Naqdi, mengatakan beberapa jalur tersebut berada di sisi selatan Selat Hormuz yang berdekatan dengan pantai Oman. Pernyataan itu disampaikan kepada kantor berita semi-resmi Fars News Agency pada Rabu (7/10).

Menurut Naqdi, jalur-jalur tersebut dibuat dengan meledakkan dan merusak sejumlah bagian berbatu di jalur perairan strategis tersebut. Jalur itu disebut digunakan oleh "perahu-perahu kecil yang menyelundupkan minyak dan memindahkannya ke kapal tanker".


Naqdi juga menegaskan bahwa Iran masih menganggap Selat Hormuz berada dalam kondisi tertutup, meskipun data menunjukkan adanya peningkatan arus pengiriman minyak melalui kawasan tersebut.

Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina dengan 70 Rudal, 20 Orang Tewas

"Selat Hormuz ditutup, dan angkatan bersenjata Republik Islam Iran memiliki kendali penuh atasnya. Situasi ini akan berlanjut sampai tuntutan sah Iran dipenuhi," kata Naqdi.

Data sementara Kpler menunjukkan rata-rata pergerakan ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut selama tujuh hari mencapai 18,3 juta barel per hari per 30 September. Volume ekspor bahkan tercatat melampaui level sebelum perang selama 14 hari sepanjang September.

Data tersebut mencakup pengiriman minyak dari kawasan Teluk yang melewati Selat Hormuz, Laut Merah, serta pengiriman melalui terminal dan aktivitas pemindahan muatan antarkapal di Teluk Oman.

Namun, IRGC secara konsisten membantah bahwa peningkatan kembali arus minyak mentah melalui Selat Hormuz terjadi berkat bantuan Angkatan Laut Amerika Serikat.

Penasihat IRGC lainnya, Majid Mirahmadi, sebelumnya mengatakan bahwa rata-rata hanya sekitar 10 kapal per hari yang melintasi jalur tersebut. Jumlah itu jauh di bawah rata-rata sekitar 125 kapal per hari sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari.

Baca Juga: Ketidakadaan Ijazah SMA Wapres Gibran Menjadi Sorotan Media Luar Negeri

Meski arus pengiriman minyak meningkat sepanjang September, serangan Iran terhadap kapal tanker serta berbagai kendala logistik masih berlangsung. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai apakah peningkatan volume pengiriman minyak dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak global serta meningkatkan ketidakpastian di pasar energi.