Iran Balas Proposal Damai AS, Fokus Awal pada Penghentian Perang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketegangan di kawasan Teluk Persia belum sepenuhnya mereda meski upaya diplomasi untuk mengakhiri perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai menunjukkan perkembangan.

Iran dilaporkan telah mengirimkan tanggapan atas proposal damai dari Amerika Serikat, di tengah mulai dibukanya akses terbatas di Selat Hormuz yang sebelumnya diblokade.

Media pemerintah Iran, Minggu (10/5/2026), menyebut respons tersebut dikirim melalui Pakistan yang menjadi mediator konflik.


Dalam jawabannya, Teheran menekankan pentingnya penghentian perang di seluruh front konflik, terutama di Lebanon, serta jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Situasi Selat Hormuz Relatif Tenang di Tengah Penantian Jawaban Iran

Sebelumnya, Amerika Serikat mengusulkan penghentian pertempuran lebih dulu sebelum membahas isu lain yang lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran. Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Washington terkait respons Iran tersebut.

Meski situasi relatif lebih tenang dalam dua hari terakhir, ancaman keamanan di kawasan masih tinggi. Sejumlah drone terdeteksi melintas di beberapa negara Teluk pada Minggu, menandakan risiko konflik belum benar-benar hilang.

Di tengah ketegangan itu, kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik QatarEnergy, Al Kharaitiyat, berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman dan menuju Pelabuhan Qasim, Pakistan. Ini menjadi kapal LNG Qatar pertama yang melintas sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Sumber Reuters menyebut pelayaran tersebut mendapat persetujuan Iran sebagai langkah membangun kepercayaan dengan Qatar dan Pakistan yang aktif menjadi mediator konflik.

Pakistan sendiri tengah menghadapi krisis listrik akibat terganggunya pasokan gas impor.

Selain itu, kapal kargo berbendera Panama yang menuju Brasil juga berhasil melewati Selat Hormuz menggunakan jalur yang telah ditentukan militer Iran.

Baca Juga: Israel Disebut Bangun Pangkalan Rahasia di Irak Jelang Operasi Melawan Iran

Selat Hormuz menjadi titik paling krusial dalam konflik ini. Jalur sempit tersebut sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sejak perang pecah, Iran membatasi pelayaran kapal non-Iran di kawasan itu sebagai alat tekanan terhadap Barat.

Tekanan internasional terhadap Presiden AS Donald Trump juga semakin besar menjelang kunjungannya ke China pekan ini. Konflik berkepanjangan dinilai memicu krisis energi global dan mengancam ekonomi dunia, terutama karena lonjakan harga energi.

Namun, situasi keamanan di kawasan Teluk masih memanas. Uni Emirat Arab mengaku berhasil mencegat dua drone yang datang dari arah Iran.

Qatar juga mengecam serangan drone terhadap kapal kargo di wilayah perairannya, sementara Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya menghadapi drone asing yang memasuki wilayah udara mereka.

Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al-Thani dalam komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi meminta agar Selat Hormuz tidak dijadikan alat tekanan politik.

Qatar menilai kebebasan navigasi harus tetap dijaga demi mencegah krisis semakin dalam.

Baca Juga: AS Jatuhkan Sanksi Bagi 10 Individu dan Perusahaan Karena Membantu Persenjataan Iran

Sementara itu, parlemen Iran tengah menyusun rancangan undang-undang yang akan memperkuat kendali Teheran atas Selat Hormuz, termasuk kemungkinan melarang kapal dari negara yang dianggap “musuh” melintas di jalur tersebut.

Di Lebanon selatan, bentrokan antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran juga masih terus berlangsung meski gencatan senjata yang dimediasi AS diumumkan pada April lalu.

Perundingan terbaru antara Israel dan Lebanon dijadwalkan berlangsung di Washington pada 14 Mei mendatang.

Di sisi lain, Amerika Serikat mulai frustrasi karena minimnya dukungan internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Baca Juga: Perang Iran dan Kebijakan Trump Picu Kekhawatiran Sekutu AS

Negara-negara NATO menolak mengirim kapal perang tanpa adanya kesepakatan damai penuh dan mandat internasional yang jelas.

Inggris bersama Prancis kini tengah menyiapkan proposal pengamanan pelayaran di Selat Hormuz jika kondisi kawasan mulai stabil. London bahkan telah mengirim kapal perang ke Timur Tengah sebagai persiapan misi multinasional tersebut.