KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Iran berpotensi memperoleh kendali atas kapal-kapal yang memasuki Teluk Persia melalui Selat Hormuz sebagai bagian dari rancangan kesepakatan dengan Oman untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama lima bulan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Mengutip laporan Reuters, Rabu (5/8/2026), seorang sumber senior Iran dan dua pejabat kawasan menyebut proposal tersebut menjadi salah satu konsesi terbesar yang pernah diberikan kepada Teheran dalam perundingan sejauh ini. Hingga kini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS mengenai usulan tersebut. Meski Presiden AS Donald Trump mengatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz sudah semakin dekat, para pejabat AS berulang kali menegaskan Washington tidak akan pernah menyetujui Iran mengendalikan akses ke jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Apabila kesepakatan tersebut benar-benar tercapai, maka perang yang dimulai oleh AS dan Israel pada Februari lalu akan menghasilkan perubahan besar dalam keseimbangan kekuatan di kawasan yang menguntungkan Iran. Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz terbuka bagi seluruh kapal tanpa dikenakan biaya.
Baca Juga: Google Hadapi Penolakan Proyek Pusat Data US$ 15 Miliar di India, Ada Apa? Iran dan Oman Klaim Negosiasi Selat Hormuz Alami Kemajuan
Di tengah upaya diplomasi yang lebih luas di kawasan, Iran dan Oman telah melakukan pembicaraan bilateral mengenai pengelolaan Selat Hormuz yang secara geografis dikendalikan melalui jalur utara oleh Iran dan jalur selatan oleh Oman. Iran melaporkan adanya "kemajuan signifikan" dalam pembicaraan tersebut dan menyatakan bahwa perjalanan kapal, baik yang masuk maupun keluar Teluk Persia, akan melewati perairan Iran. Sementara itu, menurut lima sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Iran telah memperingatkan negara-negara Teluk bahwa setiap serangan baru AS terhadap wilayahnya akan dibalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi penting di kawasan. Peringatan itu merupakan bagian dari strategi Teheran untuk meningkatkan konsekuensi politik maupun ekonomi dari aksi militer dengan mengancam sekutu-sekutu utama Washington di Timur Tengah. "Peringatan Iran sangat tegas. Jika Amerika menyerang infrastruktur Iran, mereka akan membalas dengan menyerang fasilitas energi di negara-negara Teluk serta target-target regional lainnya," ujar salah satu sumber dari negara Teluk. Selama konflik berlangsung, Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan, sekaligus menargetkan kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz tanpa izin dari Teheran. Saat berbicara di hadapan para pendukungnya dalam sebuah kampanye di Las Vegas, Trump menegaskan dirinya masih lebih memilih penyelesaian diplomatik. "Saya lebih memilih mencapai kesepakatan karena saya tidak ingin membunuh orang. Saya tidak ingin membunuh siapa pun, tetapi pada titik tertentu kami mungkin akan melakukannya," kata Trump. Iran melaporkan lebih dari 3.400 orang tewas sejak perang dengan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, sementara pihak AS melaporkan 18 personel militernya meninggal dunia.
Baca Juga: Wabah Salmonella di AS, 345 Orang Sakit akibat Cabai Jalapeno Meksiko Sejumlah Isu Penting Masih Belum Terselesaikan
Meski pembicaraan terus berlangsung, sumber-sumber Iran dan kawasan yang diwawancarai Reuters menegaskan masih banyak persoalan yang belum mencapai titik temu. Mereka juga membantah pernyataan Trump yang menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz sudah hampir disepakati. "Konsesi mengenai bentuk tertentu dari pengendalian Selat Hormuz sebenarnya sudah diberikan," kata salah satu sumber kawasan kepada Reuters. Sumber regional lainnya mengatakan rincian mengenai definisi "kendali" masih terus dibahas. Negara-negara Teluk menginginkan proses inspeksi kapal diawasi oleh negara-negara kawasan dan pembayaran biaya pelayaran bersifat sukarela. Menurut pejabat senior Iran, Teheran mengusulkan biaya antara 5% hingga 7% dari nilai muatan kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sementara Oman mengusulkan tarif sekitar 3%, sedangkan Washington menginginkan tidak ada biaya sama sekali. Sumber Iran tersebut menambahkan, rancangan kesepakatan yang telah disusun memberikan kewenangan kepada Iran atas kapal-kapal yang memasuki Teluk Persia melalui Selat Hormuz. Namun, salah satu isu utama yang masih diperdebatkan adalah sejauh mana peran Iran terhadap kapal yang berlayar keluar dari Teluk Persia. Dalam wawancara dengan kantor berita resmi IRNA, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan pengaturan tersebut "dirancang sedemikian rupa sehingga kapal-kapal komersial akan melintasi perairan teritorial Iran, baik saat memasuki maupun meninggalkan Teluk Persia." Ia menambahkan bahwa pembicaraan dengan Oman "telah mencapai pemahaman mendasar" dan menyatakan, "Kemajuan ini sudah berada di ambang penyelesaian." Gharibabadi juga mengungkapkan Iran telah menerima pesan dari AS yang menunjukkan Washington "sepenuhnya siap kembali memenuhi komitmennya" berdasarkan nota kesepahaman pertengahan Juni yang mengatur penghentian segera operasi militer. Menurutnya, hal itu menjadi salah satu syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun ia menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan langsung antara Iran dan AS dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Investor Berhati-hati Terhadap Kemajuan Pembicaraan Iran-Oman Trump Hadapi Tekanan Politik Jelang Pemilu Paruh Waktu
Trump, yang pada awal perang menyatakan konflik akan berakhir dengan "penyerahan tanpa syarat" Iran dan dirinya akan menentukan pemimpin negara tersebut, kini menghadapi tekanan politik untuk mengakhiri konflik.
Jelang pemilu paruh waktu pada November mendatang, berbagai survei menunjukkan mayoritas pemilih AS menolak perang tersebut dengan perbandingan sekitar dua banding satu. Berbulan-bulan operasi militer AS, termasuk kampanye serangan udara selama dua pekan pada Juli, belum mampu mematahkan kendali Iran atas Selat Hormuz. Pada Juli lalu, para komandan militer AS juga memperingatkan Trump bahwa persediaan sejumlah amunisi mulai menipis. Reuters sebelumnya melaporkan Angkatan Darat AS hampir menghabiskan seluruh rudal presisi jarak jauhnya. Sementara itu, harga minyak mentah dunia merosot dalam dua hari terakhir setelah Trump membatalkan rencana serangan lanjutan terhadap Iran. Keputusan tersebut diambil karena adanya pembicaraan yang menurut Trump berpotensi mengakhiri konflik.