Iran Blacklist 45 Kapal, Kilang India dan Perusahaan Energi Mulai Menjauh



KONTAN.CO.ID – SINGAPURA. Sedikitnya tiga perusahaan pengolahan minyak atau kilang India dan satu perusahaan energi global berencana menghentikan penggunaan kapal yang masuk dalam daftar hitam baru Iran. Penghentian penggunaan tersebut juga mencakup aktivitas transfer muatan dari kapal ke kapal (ship-to-ship/STS).

Keputusan tersebut diambil karena alasan keamanan, menurut empat sumber yang mengetahui langsung persoalan tersebut pada pekan ini. Para sumber meminta identitasnya tidak disebutkan karena isu ini sensitif.

Iran pada Minggu (23/8/2026) mengumumkan daftar hitam yang mencakup 45 kapal. Teheran menuding kapal-kapal tersebut telah melanggar aturan saat melintasi Selat Hormuz.


Baca Juga: China Kaji Payung Hukum Baru untuk Mengejar Tersangka Korupsi dan Aset di Luar Negeri

Iran juga menyatakan akan mengambil tindakan terhadap kapal yang melakukan transfer muatan dengan kapal-kapal dalam daftar tersebut. Langkah ini meningkatkan ancaman Iran terhadap Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi global, enam bulan setelah perang AS-Israel melawan Iran.

Pengumuman Iran dinilai bertujuan menghambat aktivitas yang disebut shuttle runs. Dalam aktivitas ini, negara-negara produsen minyak di Teluk seperti Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi menggunakan kapal tanker khusus untuk mengangkut minyak dari kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.

Minyak tersebut kemudian diturunkan melalui transfer STS di perairan Teluk Oman ke kapal lain sebelum dikirim kepada pengguna akhir.

Aktivitas shuttle runs selama ini membantu menjaga aliran minyak dari Timur Tengah tetap berjalan, meskipun pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu akibat pembatasan yang diberlakukan Iran selama perang.

Menurut Persian Gulf Strait Authority, lembaga baru yang dibentuk Iran untuk mengelola Selat Hormuz, kapal-kapal yang masuk daftar hitam dapat dikenai denda, ditahan, hingga muatannya disita.

"Kami akan menghindari penggunaan kapal sewaan kami untuk berhubungan, melakukan STS, atau aktivitas apa pun dengan kapal yang tidak mematuhi aturan untuk kargo dari Timur Tengah," kata salah satu sumber yang bekerja di perusahaan kilang India.

Kapal Saudi Aramco dan ADNOC Masuk Daftar

Sejumlah kapal tanker dalam daftar Iran diketahui dimiliki atau disewa oleh Saudi Aramco dan Abu Dhabi National Oil Co (ADNOC). Berdasarkan data pelayaran, kapal-kapal tersebut digunakan untuk mengangkut minyak mentah, produk olahan minyak, dan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk untuk kemudian melakukan transfer STS di lepas pantai Fujairah, UEA, atau Sohar, Oman. Saudi Aramco dan ADNOC menolak memberikan komentar.

Ana Subasic, analis risiko perdagangan di perusahaan pelacakan kapal Kpler, mengatakan pembeli yang paling sensitif terhadap kepatuhan diperkirakan akan menghindari kapal-kapal tersebut ke depannya.

Baca Juga: Adani Energy Solutions Raih Proyek Transmisi US$ 493 Juta di India

Namun, aktivitas perdagangan kemungkinan tidak akan berhenti sepenuhnya. Pengiriman diperkirakan akan dialihkan menggunakan kapal lain, mitra dagang berbeda, atau lokasi transfer alternatif.

"Pembeli yang paling sensitif terhadap kepatuhan diperkirakan akan menghindari kapal-kapal ini ke depan. Namun, perdagangan kemungkinan lebih banyak dialihkan melalui kapal, mitra, atau lokasi transfer alternatif daripada benar-benar menghilang," kata Subasic.

Sejumlah perusahaan penyewa kapal dan perusahaan pelayaran juga tengah melakukan pembahasan internal mengenai kelanjutan aktivitas STS. Mereka mengevaluasi peringatan Iran serta potensi risiko jika tetap menggunakan kapal yang masuk daftar hitam.

Salah satu pembeli minyak mentah dari kawasan Teluk mengatakan, perusahaan akan lebih aman membeli minyak dengan skema delivered basis, yakni minyak dikirim langsung hingga tujuan akhir, dibandingkan membeli dengan skema free-on-board (FOB) di lokasi STS di Teluk Oman.

Presiden Formosa Petrochemical Corp KY Lin mengatakan perusahaan masih membahas langkah yang akan diambil terkait pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz dengan transfer STS dalam jangka panjang.

"Departemen internal kami masih membahas bagaimana melanjutkan pengiriman minyak mentah dari Selat Hormuz melalui transfer STS dalam jangka panjang," ujar Lin.

Iran sebelumnya telah menyerang sejumlah kapal tanker, termasuk Wedyan, Mombasa B, dan Al Bahyah.

Dari 12 kapal tanker very large crude carrier (VLCC) yang masuk daftar hitam Iran, dua kapal sudah tidak lagi mengirimkan lokasi melalui sistem identifikasi otomatis atau automatic identification system (AIS) pada Selasa (25/8/2026), sehari setelah daftar tersebut diumumkan. Sementara kapal lainnya telah mematikan transponder AIS selama beberapa pekan.

Menurut Subasic, persoalan utama yang dihadapi industri saat ini adalah risiko penularan atau contagion.

"Jika Iran benar-benar menjalankan ancamannya untuk menghukum kapal yang melakukan transfer STS dengan tanker yang masuk daftar hitam, jumlah pemilik kapal, penyewa kapal, dan pembeli yang bersedia terlibat akan semakin terbatas," ujarnya.

Kondisi tersebut terutama akan berdampak pada perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap kawasan Teluk. Selain itu, persyaratan due diligence diperkirakan meningkat, begitu pula biaya angkutan, asuransi, dan premi risiko.

Baca Juga: Saham Inggris Menguat, Emiten Properti Melonjak Berkat Dana Perumahan £10 Miliar