KONTAN.CO.ID - Pasukan Iran tengah memburu seorang pilot Amerika Serikat (AS) yang hilang setelah dua pesawat tempur AS ditembak jatuh di wilayah Iran dan Teluk pada Sabtu (4/4/2026). Insiden ini meningkatkan tekanan terhadap Washington, seiring perang memasuki minggu keenam tanpa prospek nyata untuk pembicaraan damai.
Baca Juga: Trump Pertimbangkan Reshuffle Kabinet di Tengah Tekanan Perang Iran Meskipun Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menegaskan, kontrol penuh atas langit Iran, kejadian ini menunjukkan risiko yang masih dihadapi pesawat AS dan Israel. Kehilangan pilot di Iran terjadi beberapa hari setelah Trump mengancam akan membom negara itu “kembali ke Zaman Batu,” dalam konflik yang mendapat dukungan publik rendah di AS dan menimbulkan risiko bagi ekonomi global. Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi membuka kemungkinan pembicaraan damai dengan AS melalui mediasi Pakistan, namun tidak menunjukkan kesediaan Iran untuk menuruti tuntutan Trump. “Kami sangat berterima kasih kepada Pakistan atas upayanya dan tidak pernah menolak pergi ke Islamabad. Yang penting bagi kami adalah persyaratan untuk mengakhiri perang ilegal ini secara tuntas dan permanen,” kata Araqchi melalui akun X dilansir dari
Reuters.
Baca Juga: Lima Menteri Keuangan Uni Eropa Dorong Pajak Windfall untuk Perusahaan Energi Insiden Pesawat Jatuh dan Pencarian Pilot Iran menembak jatuh jet tempur dua kursi F-15E AS, sementara pilot A-10 Warthog yang jatuh di Kuwait berhasil menyelematkan diri. Dua helikopter Black Hawk yang dikerahkan untuk pencarian pilot juga terkena tembakan Iran, tetapi berhasil keluar dari wilayah udara Iran. Skala cedera kru masih belum jelas. Korps Garda Revolusi Iran mengerahkan pasukan di wilayah barat daya tempat jatuhnya pesawat, sementara gubernur setempat menawarkan penghargaan bagi siapa pun yang menangkap atau menewaskan “pasukan musuh.”
Baca Juga: Hakim AS Hentikan Kebijakan Donald Trump Soal Data Ras Penerimaan Mahasiswa Situasi Perang dan Dampaknya Sejak 28 Februari 2026, serangan udara AS dan Israel terhadap Iran telah menewaskan ribuan orang dan memicu krisis energi global. Iran menutup hampir seluruh Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar 20% minyak dan gas dunia, meski kemudian memberikan izin kapal membawa barang kebutuhan pokok ke pelabuhannya. Insiden terbaru meliputi serangan udara di zona petrokimia Iran selatan, dengan lima orang dilaporkan terluka, dan sebuah bangunan pendukung di dekat Pembangkit Nuklir Bushehr terkena proyektil, menewaskan satu orang. Iran menyatakan operasi pembangkit tidak terganggu. Parlemen Iran menyebut perang kini berfokus pada pengejaran pilot AS, bukan lagi perubahan rezim. Sementara itu, Israel terus menargetkan infrastruktur kelompok bersenjata Hezbollah di Lebanon.
Baca Juga: Paus Leo Pimpin Ibadah Jumat Agung, Pesan Keras untuk Pemimpin Dunia Menggema Respons AS dan Politik Domestik Trump, yang menerima pembaruan terkait upaya penyelamatan pilot, dikabarkan mempertimbangkan restrukturisasi kabinet setelah pemecatan Jaksa Agung Pam Bondi. Langkah ini dimaksudkan untuk merespons kenaikan harga gas, turunnya popularitas, dan kekhawatiran jelang pemilu paruh waktu AS November mendatang. Hingga saat ini, perang telah menewaskan 13 personel militer AS dan melukai lebih dari 300 orang, menurut Komando Pusat AS.