KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia merosot sekitar 6% pada perdagangan Senin (2/11/2026). Penurunan terjadi setelah muncul sinyal keterbukaan Iran terhadap upaya perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS), sehingga memunculkan harapan meredanya gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Mengutip
Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak pengiriman turun US$ 6,78 atau 6% menjadi US$ 106,65 per barel pada pukul 13.57 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 6,37 atau 6,1% menjadi US$ 97,75 per barel. Harga kedua kontrak tersebut bahkan sempat menyentuh level terendah masing-masing di US$ 105,86 per barel untuk Brent dan US$ 97,12 per barel untuk WTI.
Baca Juga: Manufaktur Inggris Menguat, Namun Kenaikan Biaya Produksi Membayangi Sentimen pasar membaik setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan sejumlah kewenangan kepada pemerintah terkait perundingan damai. Pezeshkian juga menyampaikan bahwa Teheran akan berupaya menyelesaikan persoalan melalui dialog. Pernyataan tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan terobosan diplomatik untuk mengakhiri perang Iran dengan AS dan Israel. Seorang pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan, negosiator Iran telah melakukan pembicaraan selama beberapa hari dengan mediator Qatar. Draf proposal penyelesaian konflik juga tengah diedarkan dan pertemuan lanjutan berpeluang digelar. Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, pasar minyak masih sangat sensitif terhadap setiap perkembangan informasi dari Timur Tengah. “Pasar minyak masih bereaksi dengan sangat sensitif terhadap setiap berita utama dari Timur Tengah,” ujar Staunovo.
Baca Juga: Hacker Serang Sistem Pendingin Supermarket di Eropa, Suhu Freezer Tembus 50 Derajat Menurut dia, kekhawatiran terhadap eskalasi konflik yang mendorong kenaikan harga minyak pada pekan lalu mulai mereda pada awal pekan ini seiring berlanjutnya pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa tujuan pembicaraan dengan mediator Qatar adalah melanjutkan konsultasi. Ia menegaskan, Teheran tetap bersiap menghadapi kemungkinan melalui jalur pertahanan maupun diplomasi. Meski demikian, risiko gangguan pasokan minyak belum sepenuhnya hilang. Pembicaraan tersebut berlangsung setelah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, terdapat indikasi peningkatan pengiriman minyak dari sejumlah eksportir utama. Dua dari tiga perusahaan pelacak kapal mencatat ekspor minyak mentah Arab Saudi meningkat pada Oktober dibandingkan September.
Baca Juga: Alphabet Rilis Obligasi Euro, Uji Minat Investor di Tengah Gejolak Saham Teknologi Kenaikan tersebut terjadi meskipun kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Perang Iran yang pecah pada akhir Februari juga telah menguras persediaan minyak global. Kepala Eksekutif Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) Sultan Al Jaber menyebut, hampir 1 miliar barel minyak telah terkuras dari persediaan global sejak perang mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz. Di tengah peluang meredanya konflik, sejumlah analis masih memperingatkan potensi kenaikan harga minyak apabila gangguan pasokan berlanjut.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga minyak pada Minggu (1/11/2026) karena risiko pasokan masih tinggi. Bank investasi tersebut memperkirakan harga Brent berpotensi melonjak hingga US$ 140 per barel pada 2027 apabila produksi minyak di kawasan Teluk tetap berada 3,5 juta barel per hari di bawah rata-rata 2025. Goldman Sachs menilai, peningkatan serangan terhadap kapal, kerusakan infrastruktur minyak, serta premi risiko yang bertahan lebih lama menjadi faktor utama yang dapat kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Baca Juga: Freezer Supermarket di Swedia Mendadak Panas, Diduga Akibat Serangan Siber