Iran dan AS Saling Serang di Tengah Ketegangan Selat Hormuz dan Kebuntuan Negosiasi



KONTAN.CO.ID - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan udara terbatas pada Kamis (28/5/2026), di tengah kebuntuan negosiasi terkait keamanan Selat Hormuz dan upaya gencatan senjata yang rapuh.

Insiden ini terjadi setelah AS melakukan serangan terhadap operasi drone Iran yang disebut berlangsung di dekat Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Baca Juga: Pound Sterling Melemah Tiga Hari Beruntun di Tengah Ketegangan Timur Tengah


Presiden AS Donald Trump juga menolak laporan yang menyebut adanya kesepakatan kompromi dengan Teheran.

Saling serang terbatas di kawasan strategis

Seorang pejabat AS mengatakan militer Amerika berhasil menembak jatuh empat drone serang Iran dan menghantam sebuah stasiun kendali darat di kota pelabuhan Bandar Abbas, yang diduga sedang bersiap meluncurkan drone kelima.

“Langkah ini bersifat defensif, terukur, dan bertujuan menjaga gencatan senjata,” ujar pejabat tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan dilansir Reuters.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan pangkalan militer AS yang disebut bertanggung jawab atas serangan di sekitar Bandar Abbas.

Baca Juga: Investasi Gas Global Melonjak ke Level Tertinggi 10 Tahun di Tengah Krisis Timteng

Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran mengancam akan memberikan respons “lebih tegas” jika agresi serupa kembali terjadi.

Beberapa negara di kawasan, termasuk Kuwait yang menjadi lokasi pangkalan militer besar AS, juga melaporkan adanya aktivitas serangan rudal dan drone, meski tidak menyebutkan sumber serangan secara spesifik.

Dampak ke kawasan Timur Tengah

Di Lebanon, Israel melanjutkan serangan terhadap infrastruktur kelompok Hizbullah yang didukung Iran di wilayah Tyre.

Baca Juga: Harga Emas Tergelincir ke Level Terendah dalam Dua Bulan, Ini Penyebabnya

Militer Lebanon melaporkan satu tentaranya tewas akibat serangan tersebut, sementara Israel mengklaim serangan itu dipicu oleh infiltrasi pesawat musuh di wilayah utara.

Konflik yang meluas ini telah menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah yang sebelumnya sudah rapuh akibat perang yang berlangsung sejak akhir Februari.

Harga minyak dan pasar global ikut bergejolak

Ketegangan geopolitik ini langsung berdampak ke pasar global. Harga minyak dunia sempat naik lebih dari 2% setelah sebelumnya turun tajam lebih dari 5%.

Sementara itu, bursa saham melemah dan dolar AS menguat sebagai aset safe haven.

Selat Hormuz menjadi sorotan utama karena merupakan jalur penting yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia sebelum konflik meningkat.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 2% Usai Iran Serang Pangkalan AS

Trump: Tidak ada negara yang akan kuasai Selat Hormuz

Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang akan mengontrol Selat Hormuz.

Ia juga menolak laporan media pemerintah Iran yang menyebut adanya rancangan kesepakatan tidak resmi untuk membuka kembali jalur perdagangan di wilayah tersebut.

“Tidak ada yang akan menguasai (selat itu). Itu wilayah internasional,” ujar Trump. Ia bahkan memperingatkan bahwa jika ada pihak yang mencoba menguasai jalur tersebut, Amerika Serikat akan mengambil tindakan tegas.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Iran dan sekutunya, termasuk Oman, yang selama ini menjadi salah satu mediator penting dalam diplomasi kawasan.

Baca Juga: Rusia Teken Perjanjian Pembangunan PLTN di Kazakhstan

Kebuntuan diplomasi masih berlanjut

Iran tetap menuntut pencabutan sanksi ekonomi dan pembebasan dana yang dibekukan sebagai bagian dari negosiasi. Sementara AS menegaskan bahwa program nuklir Iran harus dihentikan sepenuhnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa “Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” meskipun Teheran berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai.