KONTAN.CO.ID - Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan mengenai pembagian wilayah perairan serta pendapatan dari Selat Hormuz. Namun, jalur pelayaran strategis tersebut belum akan dibuka kembali jika Amerika Serikat (AS) tidak menerima persyaratan yang diajukan kedua negara. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Hossein Mohebbi mengatakan, Iran dan Oman telah melakukan pembicaraan selama sekitar satu bulan terkait pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz.
Baca Juga: Inflasi AS Tetap Tinggi pada Juli, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 1,5% "Kami telah bernegosiasi dengan Oman selama sekitar satu bulan dan telah mencapai hasil yang dapat diterima kedua belah pihak," ujar Mohebbi dalam pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran, Rabu (26/8/2026). Menurut dia, kedua negara juga telah menyepakati pembagian wilayah perairan Selat Hormuz serta pembagian pendapatan yang berasal dari jalur strategis tersebut. "Kesepakatan telah dicapai mengenai bagian masing-masing negara di perairan Selat Hormuz serta bagian Iran dan Oman dalam pendapatannya," katanya. Sebelum perang dimulai pada Februari, Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur tersebut. Namun, sebagian besar aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz terhenti sejak konflik pecah. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga energi global karena Iran dan AS berupaya mengendalikan jalur strategis tersebut melalui blokade masing-masing.
Baca Juga: Ekonomi AS Tumbuh 1,5% di Kuartal II-2026, Melambat Dibanding Kuartal Sebelumnya AS Jadi Syarat Pembukaan Selat Hormuz Mohebbi menuding AS berupaya menghambat negosiasi antara Iran dan Oman sehingga kesepakatan pembukaan Selat Hormuz tertunda. Menurut dia, Selat Hormuz dapat kembali dibuka jika AS menghentikan upaya menghambat kesepakatan dan menerima persyaratan yang telah disepakati. "Jika AS berhenti menghalangi dan kembali pada kesepakatan, kami dapat membuka Selat Hormuz dalam kerangka kesepakatan yang telah dicapai," ujar Mohebbi. Namun, jika Washington menolak persyaratan Iran, jalur tersebut tidak akan dibuka. "Jika AS tidak menerima persyaratan kami, Selat Hormuz tidak akan dibuka dalam keadaan apa pun," tegasnya.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Jelang Data Inflasi AS, Aussie Cetak Level Tertinggi 3 Bulan Aktivitas Kapal Masih Berisiko Meski intensitas konflik antara AS dan Iran telah menurun dalam beberapa pekan terakhir, upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan damai masih menemui jalan buntu. Selain itu, serangkaian serangan terhadap kapal membuat pelayaran melalui Selat Hormuz masih berisiko. Pada Minggu (23/8), Iran mengumumkan daftar hitam terhadap 45 kapal. Langkah tersebut diduga ditujukan untuk menghentikan aktivitas
ship-to-ship transfer yang digunakan sejumlah produsen energi di kawasan Teluk untuk menghindari blokade Iran. Sejumlah perusahaan bahkan berencana menghentikan penggunaan kapal yang masuk dalam daftar hitam tersebut, menurut sejumlah sumber. Sementara itu, AS pada awal pekan ini meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Iran dengan mengancam akan menghukum negara-negara yang masih melakukan transaksi bisnis dengan Teheran.
Baca Juga: S&P 500 Diproyeksi Naik 3% hingga Akhir 2026, Ini Katalis Penguatnya Namun, Washington menyatakan sanksi tersebut belum akan langsung diberlakukan. Iran mengecam langkah AS tersebut sebagai tindakan yang melanggar hukum dan menyatakan yakin banyak negara tidak akan mengikuti kampanye tekanan Washington. Di tengah perkembangan tersebut, harga minyak turun lebih dari US$ 2 per barel pada perdagangan Rabu, memperpanjang penurunan selama tiga hari berturut-turut ke level terendah dalam dua pekan. Penurunan harga minyak terjadi setelah muncul tanda-tanda baru mengenai upaya mediasi untuk mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran.