Iran Ejek Kekalahan Trump di Pemilu AS, Teheran Tetap Waspadai Serangan Militer



KONTAN.CO.ID - Pemerintah Iran menyambut hasil pemilihan paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat (AS) yang memberikan pukulan politik kepada Presiden Donald Trump.

Teheran menilai kemenangan Partai Demokrat mencerminkan penolakan masyarakat AS terhadap perang dengan Iran yang telah berlangsung sejak Februari 2026.

Meski demikian, Iran tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan serangan militer baru dari Washington dan Israel.


Baca Juga: Inflasi Zona Euro Tembus 4%, ECB Berpeluang Naikkan Suku Bunga Desember

Sejumlah pejabat Iran khawatir Trump akan merespons kekalahan politik Partai Republik dengan kembali meningkatkan eskalasi militer.

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Teheran, Mohammad Baqer Qalibaf, menyebut hasil pemilu AS menunjukkan masyarakat Amerika tidak menginginkan perang.

"Baik karena hati nurani maupun biaya hidup, rakyat Amerika mengatakan TIDAK UNTUK PERANG, dan kami mendukung pesan ini," tulis Qalibaf melalui platform X.

Ia juga memperingatkan Washington agar tidak mengabaikan suara masyarakat AS dengan kembali menyerang Iran.

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei turut menanggapi hasil pemilu tersebut. Dalam pernyataan tertulisnya, Khamenei mengatakan permusuhan AS terhadap Iran akan tetap berlanjut, terlepas dari partai politik yang berkuasa di Washington.

"AS melihat akhir hegemoninya masih jauh, sementara kami melihatnya sudah dekat," tulis Khamenei.

Dalam pemilu Selasa (3/11/2026), Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas kursi di Senat dan DPR AS.

Kemenangan di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi basis Partai Republik menunjukkan adanya ketidakpuasan pemilih terhadap pengelolaan ekonomi Trump dan keputusannya melancarkan perang dengan Iran yang turut mendorong kenaikan harga bahan bakar.

Baca Juga: Abdul El-Sayed Cetak Sejarah, Jadi Muslim Pertama yang Terpilih sebagai Senator AS

Trump sendiri mengakui dalam wawancara dengan dua media bahwa perang AS-Israel dengan Iran turut berkontribusi terhadap kekalahan Partai Republik.

"Saya pikir sebagian penyebabnya adalah Iran, tetapi pada saat yang sama masyarakat memahami pentingnya apa yang telah saya lakukan terhadap Iran," ujar Trump kepada Fox News.

Iran Waspadai Serangan Balasan Trump

Di balik sambutan positif terhadap kemenangan Demokrat, Teheran tetap mengkhawatirkan kemungkinan Trump mengambil langkah militer untuk merespons tekanan politik domestik.

Dua sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah Iran tetap berada dalam status siaga tinggi.

Mereka menilai Trump berpotensi menggunakan serangan militer untuk mengalihkan perhatian dari kekalahan Partai Republik dalam pemilu.

Baca Juga: Melania Trump Raih Penghargaan Negara dari Ukraina atas Bantuan Kemanusiaan

Kekhawatiran tersebut muncul ketika upaya diplomasi untuk mengakhiri perang semakin intensif. Sebelumnya, Trump tidak menutup kemungkinan melanjutkan operasi militer setelah pemilu AS.

Iran juga telah memperingatkan akan memperluas serangan balasan jika konflik kembali pecah.

Perang AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke Israel dan sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Konflik juga meluas ke Lebanon melalui pertempuran antara kelompok Hizbullah yang didukung Iran dan Israel.

Belakangan, ketegangan turut menjalar ke Yaman setelah kelompok Houthi meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi, bandara, dan sejumlah target lainnya di Arab Saudi.

Eskalasi konflik tersebut turut mengguncang pasar energi global. Harga minyak dan gas melonjak setelah pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu akibat penutupan jalur tersebut oleh Iran.

AS juga memberlakukan blokade laut terhadap Iran yang semakin menekan perekonomian negara tersebut.

Baca Juga: Demokrat Menang Telak dalam Pemilu Sela AS, Saham Global Menguat dan Dolar Melemah

Iran Kaitkan Pemilu AS dengan Konflik Sejak 1979

Media dan pejabat Iran juga mengaitkan hasil pemilu AS dengan sejarah panjang ketegangan antara kedua negara.

Pemilu paruh waktu AS kali ini bertepatan dengan peringatan penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran pada 1979.

Peristiwa tersebut terjadi tidak lama setelah jatuhnya Shah Iran yang didukung Washington. Sebanyak 52 warga AS disandera selama 444 hari oleh kelompok mahasiswa radikal Iran.

Surat kabar utama Iran, Hamshahri, menampilkan gambar Trump dengan mata tertutup dan kepala tertunduk di halaman depannya.

Dengan tajuk "Bayang-bayang Iran atas Pemilu AS", surat kabar tersebut mengaitkan peristiwa penyanderaan kedutaan dengan hasil pemilu Kongres AS November 2026.

Sementara itu, surat kabar konservatif Iran, Jam-e Jam, menyebut hasil pemilu tersebut sebagai "Senja Trumpisme".

Baca Juga: Dua Kecelakaan Kereta Tewaskan 115 Orang, Menteri Transportasi Spanyol Mundur

Dalam pernyataan tertulisnya pada Rabu (4/11/2026), Mojtaba Khamenei juga menilai kebijakan Washington terhadap Iran telah menimbulkan beban ekonomi bagi masyarakat AS dan negara-negara sekutunya.

Perang Iran sendiri menjadi isu yang tidak populer di kalangan masyarakat AS sejak dimulai. Partai Demokrat menjadikan kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar akibat konflik sebagai salah satu fokus kampanye pemilu paruh waktu.

Di tengah dinamika politik tersebut, masa depan konflik Iran-AS masih belum pasti. Upaya diplomasi terus berlangsung, tetapi ancaman serangan militer baru dan gangguan jalur perdagangan energi global tetap menjadi risiko yang membayangi pasar internasional.