KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei disemayamkan di sebuah aula besar di Teheran pada Jumat (3/7/2026), menandai dimulainya rangkaian prosesi pemakaman nasional selama sepekan. Iran memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan solidaritas publik sekaligus kekuatan negara setelah kematian Khamenei dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Februari lalu yang memicu perang selama empat bulan. Ribuan pelayat, ulama, pejabat tinggi, dan tamu negara memenuhi lokasi penghormatan terakhir bagi Khamenei yang memimpin Iran selama 37 tahun.
Baca Juga: Menhan AS: Pemimpin Tertinggi Iran yang baru Mojtaba Khamenei Terluka dan Cacat Jenazahnya dijadwalkan dimakamkan pada Kamis (9/7) di Kota Mashhad, dekat makam Imam Reza, salah satu situs suci terpenting bagi umat Syiah. Sebelum dimakamkan, jenazah Khamenei akan dibawa ke Kota Qom pada Selasa (7/7), kemudian ke dua kota suci Syiah di Irak, Najaf dan Karbala, pada Rabu (8/7), sebelum kembali ke Iran untuk prosesi pemakaman terakhir di Mashhad. Prosesi pemakaman berlangsung pada saat yang sangat menentukan bagi Republik Islam Iran. Pemerintah yang didukung Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berupaya menampilkan citra kokoh setelah berhasil bertahan dari perang yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial melawan AS dan Israel. Namun di balik demonstrasi kekuatan tersebut, Iran menghadapi tantangan domestik yang serius. Hampir lima dekade setelah Revolusi Islam 1979, negara itu dinilai sedang mengalami perpecahan internal yang mendalam.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Harga Minyak Melonjak Sejumlah analis menilai dukungan masyarakat terhadap kepemimpinan ulama semakin menipis, sementara Pemimpin Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei, belum pernah kembali muncul di hadapan publik sejak terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya. Tekanan ekonomi akibat sanksi internasional yang berkepanjangan juga terus melumpuhkan perekonomian Iran. Di sisi lain, gelombang demonstrasi nasional dalam beberapa tahun terakhir berulang kali dibubarkan dengan kekerasan oleh aparat keamanan hingga menewaskan ribuan pengunjuk rasa pada Januari lalu. Meski demikian, seluruh persoalan tersebut seolah dikesampingkan selama pekan pemakaman. Pemerintah mengerahkan aparat keamanan dalam jumlah besar dan menargetkan jutaan warga mengikuti rangkaian prosesi sebagai simbol dukungan terhadap Republik Islam. Jalan-jalan utama Teheran dijaga ketat oleh kendaraan militer dan kepolisian. Anggota milisi sukarelawan Basij berpatroli menggunakan sepeda motor, sementara Iran juga memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan serangan selama prosesi pemakaman berlangsung.
Baca Juga: Khamenei Dimakamkan, Iran Siapkan Prosesi Akbar Peti jenazah Khamenei tiba di aula doa pada Jumat pagi setelah diarak di atas tangan ribuan pelayat. Peti tersebut ditempatkan di atas podium putih bertingkat, diapit bendera nasional dan bendera berkabung berwarna hitam. Di atas peti jenazah diletakkan sorban hitam yang melambangkan garis keturunan Nabi Muhammad, serta syal kotak-kotak yang di Iran menjadi simbol perjuangan revolusioner dan solidaritas terhadap Palestina. Selain Khamenei, peti jenazah anggota keluarganya yang turut tewas dalam serangan juga disemayamkan berdampingan, yakni putrinya, menantu laki-lakinya, cucu perempuan yang masih bayi, serta istri Mojtaba Khamenei. Sejumlah pejabat tinggi dari Irak, Armenia, dan Pakistan telah tiba di Teheran untuk menghadiri upacara tersebut. Perwakilan Rusia dan China juga dijadwalkan hadir. Keluarga mendiang pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah serta komandan senior Imad Mughniyeh, yang sama-sama tewas dalam serangan Israel, turut mengikuti prosesi. Presiden Iran, ketua parlemen, menteri luar negeri, dan para pemimpin politik lainnya juga hadir memberikan penghormatan. Dalam sistem politik Iran, Khamenei bukan hanya kepala negara dan pemimpin revolusi, tetapi juga dianggap sebagai wakil Imam Mahdi atau Imam ke-12 Syiah di bumi. Karena itu, kematiannya akibat serangan musuh memperkuat narasi kesyahidan yang memiliki makna mendalam dalam tradisi Syiah. Simbol-simbol berkabung tampak menghiasi berbagai kota di Iran sejak kematiannya. Bendera hitam dipasang di jalan-jalan sebagai penghormatan yang merujuk pada kesyahidan Imam Husain pada abad ketujuh, salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Syiah.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran, Pengaruh Militer Diprediksi Menguat Di pusat Kota Teheran, ribuan warga terlihat menangis dan melantunkan doa sepanjang malam. Relawan Basij memimpin lantunan duka, sementara sukarelawan membagikan poster bergambar Khamenei kepada para pelayat. "Insya Allah, hanya dengan membalas darah beliau, menuntut keadilan, dan memastikan darah pemimpin kami tidak dibiarkan tanpa balasan, kesedihan rakyat ini bisa sedikit terobati," kata Mobina Razaaghi, mahasiswa berusia 18 tahun asal Isfahan yang mengikuti prosesi bersama teman-temannya.
Menurut tradisi Islam, pemakaman seharusnya dilakukan dalam waktu satu hari setelah seseorang meninggal. Namun, prosesi Khamenei ditunda karena tingginya risiko keamanan selama perang berlangsung dan baru dilaksanakan setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata sementara bulan lalu. Untuk menampung jutaan pelayat, pemerintah menyiapkan sekolah, masjid, dan gedung olahraga sebagai tempat menginap. Hotel menawarkan potongan harga hingga 50%, sementara jaringan bus dan kereta dialihkan guna melayani arus pelayat menuju lokasi-lokasi prosesi.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ini Reaksi Keras Trump dan Israel Puncak prosesi akan berlangsung di Teheran pada Senin (6/7), sebelum jenazah dibawa ke Qom, dilanjutkan ke Najaf dan Karbala, dan akhirnya dimakamkan di Mashhad pada Kamis (9/7), di dekat makam Imam Reza yang menjadi pusat ziarah paling suci di Iran.