KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/JERUSALEM. Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel, memicu sirene serangan udara di sejumlah wilayah termasuk Tel Aviv. Aksi ini terjadi di tengah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai adanya pembicaraan damai yang disebut Iran sebagai tidak benar. Militer Israel menyatakan beberapa rudal berhasil dicegat, namun puing-puingnya sempat merusak rumah di wilayah utara. Tidak ada laporan korban jiwa dalam serangan tersebut.
Serangan terbaru ini berlangsung setelah Trump menunda rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari. Ia menyebut penundaan itu didorong oleh pembicaraan yang sangat baik dan produktif dengan pihak Iran terkait upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Bantah Klaim Donald Trump, Iran: Tidak Ada Pembicaraan dengan AS Namun, klaim tersebut langsung dibantah Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf. Ia menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS dan menyebut pernyataan Trump sebagai “berita palsu” untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak. Di sisi lain, Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan akan melanjutkan serangan terhadap target AS di kawasan. Mereka menilai pernyataan Trump hanya sebagai operasi psikologis yang tidak memengaruhi langkah Teheran. Ketegangan ini turut mengguncang pasar global. Setelah sempat mereda akibat harapan negosiasi, harga minyak kembali melonjak. Minyak Brent naik sekitar 4,2% ke level US$ 104 per barel, sementara minyak mentah AS menguat 4,3% menjadi US$ 91,93 per barel. Imbal hasil obligasi AS juga meningkat dan dolar kembali menguat. Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari ini semakin memperburuk kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Baca Juga: AS-Iran: Militer AS Siapkan Operasi Jangka Panjang Jika Trump Perintahkan Serangan Iran sebelumnya menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia, sebagai respons atas serangan AS dan Israel. Meski Iran membantah adanya negosiasi langsung, sejumlah pejabat menyebut komunikasi tidak langsung masih berlangsung melalui negara perantara seperti Mesir, Pakistan, dan negara-negara Teluk.
Seorang pejabat Pakistan mengungkapkan kemungkinan pembicaraan langsung antara AS dan Iran dapat digelar di Islamabad dalam waktu dekat. Sejumlah pejabat tinggi AS dilaporkan akan hadir dalam pertemuan tersebut, meski belum ada konfirmasi resmi dari kedua pihak. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan tetap membuka jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan, termasuk melalui koordinasi dengan Oman terkait situasi di Selat Hormuz. Sejauh ini, konflik telah menewaskan lebih dari 2.000 orang dan terus meningkatkan risiko gangguan besar terhadap stabilitas kawasan serta pasokan energi global.