KONTAN.CO.ID - WASHINGTON/DUBAI. Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan rudal dan drone dalam beberapa hari terakhir. Teheran mengklaim menyerang sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk sekaligus kembali menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Aksi saling serang tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Pasukan Garda Revolusi Iran pada Senin (13/7/2026) menyatakan telah menargetkan fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait, menghancurkan sistem radar di Oman, serta menyerang tangki bahan bakar dan depot amunisi di Pangkalan Udara Pangeran Hassan di Yordania. Serangan terbaru ini menjadi bagian dari rangkaian aksi balasan antara Washington dan Teheran, di tengah upaya Iran untuk memperkuat kendalinya atas lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, intensitas dan cakupan serangan kali ini menunjukkan eskalasi yang lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Baca Juga: Bursa Saham Eropa Dibuka Melemah Tertekan Konflik AS-Iran yang Memanas Lagi Di sisi lain, militer AS mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyerang sistem pertahanan udara Iran, lokasi radar pesisir, kemampuan rudal dan drone, serta armada kapal kecil Iran melalui operasi yang melibatkan pesawat tempur, kapal perang, dan drone pada Minggu (12/7/2026). Meningkatnya konflik ini semakin memperbesar ketidakpastian terhadap masa depan kesepakatan sementara antara AS dan Iran yang ditandatangani bulan lalu. Perjanjian tersebut sebelumnya ditujukan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang setelah tambahan negosiasi selama 60 hari. Dalam wawancara singkat dengan Reuters pada Minggu sore, Presiden AS Donald Trump menyinggung serangan terbaru terhadap Iran. "Kami sedang menghajar mereka," kata Trump. Dalam sepekan terakhir, Trump menyatakan dirinya menganggap gencatan senjata telah berakhir, meskipun masih membuka peluang untuk melanjutkan perundingan. Sementara itu, negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menulis di platform X pada Minggu: "Era kesepakatan sepihak telah BERAKHIR. Kami sudah memperingatkan: penuhi janji Anda atau bayar harganya. Kenyataan kini datang menghampiri." Perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari telah mengguncang stabilitas kawasan Teluk. Iran sebelumnya telah menyerang sejumlah pangkalan militer AS di berbagai negara di kawasan tersebut. Blokade efektif Iran terhadap Selat Hormuz turut memicu lonjakan harga energi dan memperparah tekanan inflasi global. Dalam pernyataan terbarunya pada Senin, Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk memulihkan lalu lintas pelayaran normal di Selat Hormuz adalah dengan menghentikan intervensi militer AS di wilayah tersebut.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Anjlok 1,92%: Investor Waspadai Konflik Timur Tengah Iran juga memperingatkan bahwa "campur tangan yang terus berlanjut dapat memicu insiden yang lebih besar di sektor minyak dan gas global."
Harga minyak melonjak
Harga minyak mentah Brent naik 4,3% menjadi US$ 79,31 per barel pada perdagangan Senin. Kendati demikian, harga tersebut masih berada di bawah puncak yang sempat tercapai pada awal konflik. Kenaikan harga energi, terutama bensin, menjadi isu politik yang sensitif bagi Trump menjelang pemilihan anggota Kongres AS pada November mendatang. Pejabat AS menyebut sekitar 20 kapal telah dikawal melewati Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir. Namun, data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih sangat terbatas.
Iran perketat kendali Selat Hormuz
Iran berupaya membangun sistem permanen untuk memungut biaya pelayaran di Selat Hormuz. Sebelum perang pecah, jalur tersebut mengangkut sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Pemerintah Iran juga telah memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintas tanpa otorisasi resmi. Pada Sabtu malam, Iran menyatakan telah menutup Selat Hormuz setelah melepaskan tembakan peringatan yang mengenai sebuah kapal yang melintas melalui rute yang tidak diizinkan. Sehari kemudian, Teheran mengklaim telah melumpuhkan kapal kedua. Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk Iran menyatakan pada Minggu bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz belum memungkinkan akibat "pergerakan ilegal terbaru pasukan militer Amerika Serikat di kawasan."
Baca Juga: Mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol Dijatuhi Hukuman 2 Tahun Penjara, Ini Kasusnya Lembaga tersebut menambahkan bahwa izin pelayaran baru akan diterbitkan "segera setelah stabilitas dan ketenangan dipulihkan." Sementara itu, AS menegaskan bahwa pasukannya tetap ditempatkan untuk menjaga kebebasan navigasi di kawasan tersebut, meskipun menghadapi apa yang disebut Washington sebagai "agresi, intimidasi, ancaman, dan pernyataan sepihak" dari Iran. "Iran tidak mengendalikan selat tersebut. Lalu lintas pelayaran tetap berjalan," demikian pernyataan pemerintah AS.
Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin Angkatan Laut AS juga kembali menegaskan bahwa jalur selatan yang diperluas di dekat Oman masih tersedia untuk pelayaran dua arah, meskipun ancaman keamanan di kawasan sangat tinggi. Pada Sabtu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut pasukannya telah menyerang 140 target militer Iran. Secara keseluruhan, lebih dari 300 sasaran telah dihantam dalam tiga malam terakhir pekan ini. Menurut militer AS, operasi tersebut bertujuan "melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang melintas secara bebas di selat." Di sisi lain, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menghancurkan pusat komando dan hanggar drone di Yordania, menyerang lokasi radar AS serta sistem peluncur roket di Kuwait, menargetkan platform pendukung kapal induk dan fasilitas pengisian bahan bakar di Oman, serta menghancurkan pusat perawatan jet tempur dan fasilitas komando di Qatar.