KONTAN.CO.ID - Iran melalui Garda Revolusi menghentikan dua kapal tanker gas alam cair (LNG) milik QatarEnergy yang sebelumnya telah diizinkan melintasi Selat Hormuz. Sumber yang mengetahui perkembangan tersebut mengatakan kepada
Reuters bahwa kedua kapal itu dihentikan pada Senin pagi (6/4/2026) dan diminta untuk tetap berada di posisinya tanpa penjelasan resmi dari pihak Iran.
Baca Juga: Brasil Masukkan BYD ke Daftar Hitam atas Dugaan Pelanggaran Ketenagakerjaan Padahal, sebelumnya Iran telah memberikan izin melintas kepada kapal-kapal tersebut sebagai bagian dari kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) yang dimediasi oleh Pakistan pekan lalu. Berdasarkan data pelacakan kapal, hingga Senin malam kedua tanker itu masih berada di lepas pantai Uni Emirat Arab dan belum melanjutkan perjalanan melalui Selat Hormuz. Jika berhasil melintas, kapal tersebut akan menjadi pengiriman LNG pertama yang melewati jalur strategis itu sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada 28 Februari 2026. Konflik tersebut telah menyebabkan gangguan besar pada arus energi global, termasuk melonjaknya harga minyak dan terhambatnya jalur pelayaran. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia.
Baca Juga: Brasil Masukkan BYD ke Daftar Hitam atas Dugaan Pelanggaran Ketenagakerjaan Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut Iran sempat mengizinkan sekitar 10 kapal tanker minyak melintas sebagai bentuk itikad baik dalam proses negosiasi. Data menunjukkan kedua kapal LNG tersebut, yakni Al Daayen dan Rasheeda, memuat kargo dari Ras Laffan, Qatar, pada akhir Februari.
Keduanya sempat bergerak menuju Selat Hormuz sebelum berbalik arah pada Senin pagi. Perubahan tujuan pelayaran juga terdeteksi, di mana salah satu kapal kembali mengarah ke Ras Laffan, sementara kapal lainnya menunggu instruksi lebih lanjut. Qatar sendiri merupakan eksportir LNG terbesar kedua di dunia, dengan sebagian besar pengiriman ditujukan ke pasar Asia. Namun, serangan Iran sebelumnya telah mengganggu sekitar 17% kapasitas ekspor LNG negara tersebut, dengan pemulihan diperkirakan memakan waktu hingga lima tahun.