Iran Jadikan Selat Hormuz Kartu Tawar Baru, Risiko Pasar Energi Global Meningkat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peta negosiasi Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya mulai bergeser.

Jika sebelumnya program nuklir menjadi isu utama, kini kendali Iran atas Selat Hormuz dinilai menjadi aset strategis yang paling bernilai dalam diplomasi pascaperang.

Sejumlah analis menilai, pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang dipadati jutaan pelayat bukan sekadar seremoni kenegaraan.


Momen tersebut dimanfaatkan Teheran untuk menunjukkan bahwa negara itu tetap solid dan mampu bertahan setelah serangan militer AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari lalu.

Baca Juga: Iran Gelar Pemakaman Akbar Ali Khamenei, Ribuan Pelayat Padati Teheran

Pesan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa Iran merasa memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam setiap perundingan ke depan.

Dari sisi bisnis dan ekonomi global, perubahan strategi ini membuat Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian.

Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global.

Alih-alih menjadikan pencabutan sanksi atau pembahasan program nuklir sebagai prioritas, Iran disebut lebih fokus mengukuhkan pengaruhnya atas Selat Hormuz sebelum melanjutkan pembicaraan mengenai isu nuklir.

Gencatan senjata selama 60 hari yang sebelumnya diharapkan Washington menjadi pintu masuk menuju kesepakatan nuklir justru belum menghasilkan kemajuan berarti.

Baca Juga: Pemakaman Khamenei Digelar Sepekan, Iran Berupaya Yakinkan Dunia Rezim Tetap Kuat

Dalam kondisi tersebut, Iran dinilai sengaja memperlambat proses negosiasi sambil memperkuat posisi strategisnya.

Analis Senior di Middle East Institute, Alex Vatanka, mengatakan bagi Iran, nilai strategis Selat Hormuz jauh melampaui potensi pendapatan ekonomi dari jalur pelayaran tersebut.

"Bagi Iran, pengakuan simbolis atas posisinya di Selat Hormuz jauh lebih penting daripada keuntungan finansial," ujar Vatanka.

Sikap tersebut juga tercermin dari pernyataan pimpinan Iran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyebut Selat Hormuz sebagai instrumen kekuatan terbesar yang dimiliki negaranya dan menegaskan Iran tidak akan melepaskan haknya atas kawasan tersebut.

Sejumlah diplomat dan pejabat kawasan Timur Tengah menilai Teheran kini berupaya mengubah daya tahannya selama perang menjadi keuntungan diplomatik jangka panjang.

Pengaruh tersebut dapat diwujudkan melalui pengaturan lalu lintas pelayaran, mekanisme koordinasi kawasan hingga berbagai layanan yang berkaitan dengan aktivitas di Selat Hormuz.

Langkah tersebut berpotensi meningkatkan posisi tawar Iran terhadap negara-negara pengimpor energi, sekaligus menambah ketidakpastian bagi pasar minyak global apabila negosiasi kembali menemui jalan buntu.

Baca Juga: Iran Gelar Pemakaman Nasional Khamenei, Jadi Simbol Unjuk Kekuatan Negara

Mantan diplomat Amerika Serikat yang lama menangani isu Iran, Alan Eyre, menilai Teheran tidak memiliki urgensi untuk segera menyelesaikan pembahasan mengenai program nuklir.

"Iran nyaman memainkan waktu karena mereka yakin kendali atas Hormuz memberi posisi tawar yang lebih kuat dalam negosiasi," kata Eyre.

Menurut Eyre, pemerintah Iran juga menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada di bawah tekanan politik domestik untuk segera mencapai kesepakatan sehingga posisi Washington justru lebih membutuhkan hasil dibandingkan Teheran.

Pandangan serupa disampaikan mantan negosiator Timur Tengah Amerika Serikat Aaron David Miller. Ia menilai operasi militer Washington gagal menghilangkan pengaruh Iran di Selat Hormuz sehingga posisi tawar Teheran tetap terjaga setelah perang berakhir.

Sementara itu, Presiden Emirates Policy Center Ebtesam Al-Ketbi mengatakan penghentian perang tanpa penyelesaian akar konflik justru membuat Selat Hormuz berubah dari sekadar titik rawan menjadi instrumen tekanan jangka panjang bagi Iran.

Baca Juga: Iran Ancam AS dan Israel Jelang Pemakaman Ali Khamenei

Para analis memperkirakan, selama kendali Iran di Selat Hormuz belum diakui dalam tatanan keamanan kawasan, Teheran tidak memiliki insentif besar untuk mempercepat pembahasan mengenai program nuklir maupun menerima konsesi lain yang diinginkan Amerika Serikat.

Bagi pasar energi, kondisi tersebut berarti risiko geopolitik di Selat Hormuz masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas pasokan minyak dan gas dunia dalam beberapa waktu ke depan.