Iran Klaim Masih Kuasai Selat Hormuz, Belum Berminat Lanjutkan Perundingan dengan AS



KONTAN.CO.ID - Iran menegaskan masih menguasai Selat Hormuz dan belum berniat melanjutkan perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS), setelah Presiden Donald Trump menghentikan sementara kampanye pengeboman yang telah berlangsung selama hampir dua pekan.

Pernyataan tersebut disampaikan pemerintah Iran pada Senin (27/7/2026), sehari setelah Trump memutuskan menghentikan serangan udara terhadap Iran.

Selama 13 malam berturut-turut, AS melancarkan serangan udara yang memicu balasan Iran ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.


Baca Juga: Bursa Saham Global Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai AS-Iran Hentikan Serangan

Iran menyatakan akan menghentikan serangan balasannya selama AS juga tidak kembali melancarkan pengeboman.

Menurut seorang pejabat AS kepada Reuters, keputusan Trump menghentikan operasi militer diambil setelah para petinggi militer menilai kampanye tersebut telah mencapai batas efektivitasnya.

Pejabat itu mengatakan para komandan militer memberi tahu Trump bahwa target-target strategis mulai habis.

Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine juga disebut mengkhawatirkan menipisnya persediaan sistem pertahanan udara yang digunakan untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS di kawasan.

Laporan serupa juga dimuat sejumlah media AS, termasuk The New York Times, CNN, dan Axios.

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mike Waltz, mengatakan pada Minggu bahwa Trump menghentikan sementara operasi militer untuk membuka ruang bagi diplomasi.

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan negaranya tidak pernah meminta dimulainya kembali perundingan damai dengan Washington.

Baca Juga: Ekspor Produk Engineering India Melonjak 21% pada Juni, China Jadi Pendorong Utama

Iran klaim tetap mengendalikan Selat Hormuz

Meredanya konflik sempat memicu penurunan tajam harga minyak. Harga minyak Brent yang pekan lalu sempat menembus US$ 100 per barel turun sekitar 7,8% menjadi di bawah US$ 90 per barel pada perdagangan Senin.

Meski demikian, Teheran berupaya menunjukkan bahwa operasi militer AS tidak berhasil mencapai tujuan utamanya, yakni melemahkan kendali Iran atas Selat Hormuz.

Sejumlah media pemerintah Iran mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya yang mengklaim otoritas Iran memaksa enam kapal yang dianggap melanggar aturan berbalik arah pada Senin pagi ketika mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izin.

Sumber tersebut juga menyebut salah satu kapal mengalami kecelakaan.

"Sebagaimana telah diumumkan sebelumnya, jalur pelayaran di Selat Hormuz adalah jalur yang ditetapkan Iran. Jalur lain telah terkontaminasi dan tidak memiliki akses keluar," demikian pernyataan yang dikutip media pemerintah Iran.

Selama ini AS meminta kapal-kapal internasional menggunakan jalur pelayaran yang lebih dekat ke wilayah Oman.

Sebaliknya, Iran bersikeras kapal hanya boleh melintasi jalur yang berada lebih dekat ke pantainya, yang diklaim berada di bawah pengawasannya dan akan dikenakan biaya transit.

Baca Juga: Presiden FIFA Infantino Klaim Piala Dunia 2026 Berjalan Aman, Tepis Berbagai Kritik

Masa depan Selat Hormuz masih menjadi sengketa

Kampanye militer AS yang berlangsung selama dua pekan dilaporkan menewaskan puluhan orang di Iran serta merusak sejumlah jembatan, terowongan, dan sasaran militer.

Di sisi lain, empat personel militer AS tewas akibat serangan balasan Iran ke pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk.

Iran juga menyerang infrastruktur sipil di kawasan sebagai balasan atas serangan yang menurut Teheran menyasar target sipil.

Baca Juga: Saham CXMT Melonjak 466% pada Debut Bursa, Jadi Perusahaan Paling Bernilai di China

Pekan lalu, kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengancam memblokade industri minyak Arab Saudi di Laut Merah, sehingga sempat mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Hingga kini belum terlihat langkah yang dapat ditempuh Washington untuk mencapai tujuan Presiden Trump mengurangi kendali Iran atas Selat Hormuz.

AS dan Iran sebenarnya telah menyepakati kerangka perundingan pada Juni lalu yang ditargetkan berlangsung sebelum akhir Agustus, termasuk membahas program nuklir Iran.

Namun, kedua pihak masih berbeda pandangan mengenai klausul yang mengatur status Selat Hormuz.

Washington menilai kesepakatan tersebut mengharuskan Iran menjamin kebebasan pelayaran internasional.

Sebaliknya, Iran menafsirkan perjanjian itu sebagai pengakuan atas kewenangannya mengawasi lalu lintas kapal di selat tersebut.

Iran juga berupaya memperkuat posisinya melalui kesepakatan dengan Oman, negara yang menguasai sisi lain Selat Hormuz.

Delegasi tingkat tinggi Oman berada di Teheran pada akhir pekan untuk membahas masa depan jalur pelayaran tersebut.

Baca Juga: Harga Tembaga Menguat Senin (27/7) usai Harga Minyak Anjlok, Pasar Pantau The Fed

Sementara itu, para menteri luar negeri Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi dilaporkan juga telah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi mengenai situasi di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden Trump di Washington pada awal pekan ini untuk membahas perkembangan konflik di kawasan.