KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran mengklaim melancarkan serangan baru terhadap fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah pada Jumat (17/7/2026), termasuk serangan langsung pertama ke wilayah Suriah. Serangan tersebut terjadi setelah AS melancarkan serangan udara selama enam malam berturut-turut terhadap sejumlah fasilitas militer Iran. Gencatan senjata yang dicapai bulan lalu kini berubah menjadi rangkaian serangan dan serangan balasan setiap hari. Eskalasi konflik ini telah menghambat lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia, serta memicu kekhawatiran baru investor terhadap dampak perang yang dilancarkan AS dan Israel sejak Februari terhadap perekonomian global. Militer AS menyatakan telah menyelesaikan serangkaian serangan terbaru ke Iran untuk semakin melemahkan kemampuan militer negara tersebut. Serangan dilaporkan menyasar Pulau Qeshm, kawasan dekat Bandar Abbas yang merupakan pelabuhan terbesar Iran, serta sejumlah fasilitas angkatan laut dan Garda Revolusi.
“Pasukan AS, termasuk jet tempur, drone udara, dan kapal perang, meluncurkan amunisi presisi yang menghantam puluhan target militer Iran, seperti lokasi pengawasan pesisir dan pertahanan udara, infrastruktur logistik militer, serta kemampuan maritim,” demikian pernyataan Komando Pusat AS.
Baca Juga: Investor Asing Borong Obligasi Asia US$ 11,51 Miliar, Indonesia Jadi Favorit Iran Klaim Serangan Pertama ke Suriah
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan seorang warga sipil tewas akibat serangan AS di wilayah Pasabandar, dekat kota pelabuhan Chabahar di tenggara Iran. Sebelumnya, Iran telah meluncurkan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara tetangga, termasuk pangkalan udara di Yordania. Pada Jumat dini hari, militer Iran menyatakan telah menyerang fasilitas AS di Bahrain dan Kuwait. Seorang saksi mata melaporkan terdengar beberapa suara ledakan di Doha, ibu kota Qatar. Kementerian Dalam Negeri Qatar menyebut seorang anak mengalami luka akibat serpihan ledakan. Media Iran juga melaporkan bahwa lima jembatan menjadi sasaran serangan terbaru AS. Selain itu, stasiun kereta di Bandar Khamir dan Bandara Iranshahr di tenggara Iran turut terkena dampak. Kantor berita negara IRNA melaporkan tujuh orang tewas akibat serangan AS terhadap jembatan-jembatan di Bandar Khamir, kota pelabuhan di selatan Iran. Media pemerintah Iran menyebut Garda Revolusi telah menyerang pusat komando operasi khusus AS di al-Tanf, Suriah, sebagai balasan atas tewasnya tentara Iran di Iranshahr. Hingga kini, Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen. Serangan tersebut menjadi aksi langsung pertama Iran terhadap Suriah, yang selama ini berupaya menghindari keterlibatan lebih jauh dalam konflik regional yang telah meluas ke negara-negara tetangga.
Baca Juga: AS Perketat Aturan Visa, China Ancam Ambil Langkah Balasan Di Lebanon, kelompok Hizbullah yang didukung Iran terus bertempur melawan pasukan Israel. Sementara itu, di Irak, kelompok bersenjata yang didukung Teheran melancarkan serangan roket dan drone. Garda Revolusi Iran juga mengklaim telah menghancurkan sistem radar angkatan laut di Karang Salameh dan radar pengendali udara milik AS di wilayah Ghannem, Oman.
Lalu Lintas Pelayaran di Selat Hormuz Kembali Terganggu
Peningkatan intensitas serangan kembali menghambat lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran paling penting di dunia untuk perdagangan minyak dan gas. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak lanjutan terhadap inflasi global. Teheran kembali menerapkan blokade di Selat Hormuz, sementara Washington sejak Rabu juga kembali memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Sumber Reuters menyebut Iran mengisyaratkan kemungkinan mendorong kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur strategis di pintu masuk Laut Merah, apabila Washington menyerang infrastruktur Iran. Pekan lalu, Iran menyerang sejumlah kapal yang melintas di koridor pelayaran Selat Hormuz. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan Presiden Donald Trump tidak akan “berdiam diri dan membiarkan tindakan terorisme aktif terjadi di selat tersebut tanpa memastikan Iran menerima konsekuensi atas tindakannya.” Meski demikian, Leavitt menambahkan bahwa presiden “tetap terbuka terhadap jalur diplomasi pada saat yang sama.” Sumber-sumber Iran menyebut tujuan utama Teheran adalah mempertegas kendalinya atas Selat Hormuz. Namun, Iran disebut tidak menginginkan eskalasi yang dapat menggagalkan nota kesepahaman yang dicapai pada Juni lalu, yang masih dianggap memenuhi sebagian besar kepentingannya.
Warga Iran Dihantui Ketidakpastian
Gelombang serangan baru juga memicu keresahan di kalangan masyarakat Iran. “Hidup dalam ketakutan bahwa perang dapat pecah kembali sangat melelahkan. Anda tidak bisa hidup seperti ini. Secara pribadi, saya berharap diplomasi dapat menang,” kata Mahlegha, 46 tahun, seorang pegawai pemerintah di Teheran, kepada Reuters. Ia meminta nama keluarganya tidak disebutkan karena alasan keamanan.
Baca Juga: Jerman Usulkan Pasukan Uni Eropa Gantikan Misi PBB di Lebanon Iran menginginkan seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz menggunakan jalur yang berada dekat dengan wilayah pantainya. Teheran juga berencana mengenakan biaya lintas setelah berakhirnya masa negosiasi selama 60 hari yang ditetapkan dalam nota kesepahaman bulan lalu. Sementara itu, Washington mendorong kapal-kapal internasional untuk menggunakan jalur alternatif di sepanjang pesisir Oman.
Pasukan AS menyatakan serangan udaranya telah menyasar target-target militer di sepanjang pesisir Iran untuk melumpuhkan kemampuan Teheran dalam mengendalikan Selat Hormuz. Namun, juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, pada Kamis (16/7/2026) menegaskan strategi tersebut tidak akan berhasil. “Iran tetap dapat menyerang selat tersebut dari wilayah mana pun di dalam teritorinya,” ujarnya. Presiden Donald Trump juga belum menutup kemungkinan penggunaan pasukan darat, termasuk untuk merebut Pulau Kharg yang menjadi lokasi terminal ekspor minyak utama Iran. Trump berulang kali mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.