KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah kembali menguat ke level tertinggi dalam sepekan setelah Iran memastikan Selat Hormuz tetap ditutup. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dari Timur Tengah akan berlangsung lebih lama di tengah meredupnya harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Mengutip
Reuters, Selasa (11/8), harga minyak Brent berjangka naik US$ 1,19 atau 1,4% menjadi US$ 88,91 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,07 atau 1,3% menjadi US$ 83,20 per barel.
Kedua harga acuan tersebut mencatat level penutupan tertinggi sejak 31 Juli. Kenaikan ini melanjutkan penguatan sekitar 5% pada perdagangan Senin, ketika pasar mulai kehilangan optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai AS-Iran.
Baca Juga: Ada Kekhawatiran Ancaman di Selat Hormuz, Harga Minyak Mentah Kembali Naik Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru ditunjuk, Mohsen Rezaei, mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS belum mengubah sikapnya dan menerima persyaratan Iran untuk mengakhiri perang. "Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS tidak mengubah perilakunya," kata Rezaei. Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling kuat sejauh ini bahwa pembicaraan mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz tidak serta-merta akan memulihkan lalu lintas kapal apabila AS tidak memenuhi komitmen dalam nota kesepahaman yang dicapai Washington dan Teheran pada Juni. Gangguan lalu lintas di jalur strategis tersebut juga semakin nyata. Data pelayaran menunjukkan hanya enam kapal yang melintas Selat Hormuz pada Senin, turun dari rata-rata sekitar 11 kapal dalam 10 hari terakhir. Sebelum perang pecah pada 28 Februari, sekitar 125 hingga 140 kapal melintas di selat tersebut setiap hari. Jalur ini juga sebelumnya menjadi rute sekitar 20% pasokan minyak global.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Diproyeksi Naik Pekan Depan, Ini Pemicunya Tekanan terhadap pasokan energi semakin besar setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyerang kapal Arab Saudi yang membawa peralatan militer di Bab el-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia. Di sisi lain, sejumlah sumber melaporkan adanya serangan rudal terhadap sebuah kapal kontainer di lepas pantai Pakistan yang diduga berkaitan dengan serangan AS. Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan sejumlah produsen minyak di Timur Tengah kemungkinan kesulitan mengembalikan produksi ke level sebelum konflik hingga akhir 2027. Kondisi tersebut tetap berpotensi terjadi meskipun pola perdagangan minyak kembali normal pada awal tahun depan.
Gangguan pasokan meluas
Risiko gangguan pasokan juga muncul dari Libya. Kekerasan kembali terjadi di kota strategis Zawiya dan mengganggu aktivitas industri minyak negara tersebut. Perusahaan minyak milik negara Libya, National Oil Corporation (NOC), mengatakan dapat menyatakan keadaan kahar atau
force majeure apabila serangan drone terhadap aset energi di Zawiya terus berlanjut. Libya merupakan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Baca Juga: Perang Timur Tengah Berlanjut, Harga Minyak Mentah Global Diproyeksi Tetap Tinggi Sementara itu, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) kembali menawarkan minyak mentah melalui tender spot. Tender tersebut menjadi yang kedelapan sejak awal Juni, ketika perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab (UEA) berupaya memindahkan minyak dari wilayah di dalam Selat Hormuz. Gangguan pasokan juga datang dari konflik Rusia-Ukraina. Militer Ukraina pada Selasa mengatakan telah menyerang sebuah kilang minyak di Orsk, Rusia, kota terbesar kedua di wilayah Orenburg sekaligus salah satu pusat industri penting negara tersebut. Serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi Rusia, ditambah perang Iran, telah memperketat pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi. Harga minyak Brent bahkan telah melonjak sekitar 44% sejak awal tahun. Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia setelah AS dan Arab Saudi pada 2025, berdasarkan data energi AS. Rusia juga merupakan anggota kelompok OPEC+. Pelaku pasar kini menunggu laporan persediaan minyak mentah AS untuk melihat kondisi keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar energi terbesar dunia. American Petroleum Institute (API) dijadwalkan merilis laporan persediaan pada Selasa waktu setempat, disusul laporan resmi dari EIA pada Rabu.
Baca Juga: Eskalasi Geopolitik Timur Tengah Kian Memanas, Harga Minyak Mentah Melesat Analis memperkirakan perusahaan energi AS mengurangi persediaan minyak mentah sekitar 500.000 barel sepanjang pekan yang berakhir 7 Agustus.
Jika perkiraan tersebut terealisasi, penurunan stok akan menjadi yang kedua dalam tiga pekan. Sebagai pembanding, persediaan minyak mentah AS meningkat 3 juta barel pada periode yang sama tahun lalu. Dalam lima tahun terakhir, yakni 2021-2025, stok minyak mentah AS rata-rata meningkat sekitar 3,1 juta barel pada periode tersebut. Perkembangan stok minyak AS, ketegangan di Timur Tengah, serta keberlanjutan penutupan Selat Hormuz akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga minyak dalam waktu dekat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News