Iran Menyita Kapal di Selat Hormuz Pasca Trump Menghentikan Serangan



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz pada hari Rabu (22/4/2026), memperketat cengkeramannya pada jalur air strategis tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menghentikan serangan tanpa batas waktu tanpa tanda-tanda untuk memulai Kembali pembicaraan damai. 

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, mengatakan Garda Revolusi telah menyita dua kapal karena pelanggaran maritim dan mengawalnya ke pantai Iran. Ini adalah pertama kalinya Iran menyita kapal sejak perang dimulai pada akhir Februari.

Garda Revolusi juga memperingatkan bahwa setiap gangguan terhadap ketertiban dan keamanan di selat akan dianggap sebagai "garis merah," kata Tasnim seperti dilansir Reuters.


Baca Juga: Krisis Energi Asia Kian Mengkhawatirkan

Sebelumnya, sebuah badan keamanan maritim Inggris melaporkan bahwa tiga kapal telah diserang.

Trump mengatakan dalam sebuah pernyataan di media sosial pada Selasa malam bahwa AS telah menyetujui permintaan dari mediator Pakistan "untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal terpadu ... dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara."

Namun, bahkan saat mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sepihak, Trump juga mengatakan bahwa ia akan melanjutkan blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran. 

AS menembaki dan menyita kapal kargo Iran pada hari Sabtu dan menaiki kapal tanker minyak Iran yang besar pada hari Selasa di Samudra Hindia.

Iran menganggap blokade AS sebagai tindakan perang dan mengatakan bahwa selama blokade itu berlanjut, Iran tidak akan mencabut penutupan selat tersebut, yang telah menyebabkan krisis energi global.

Baca Juga: Tencent dan Alibaba Dikabarkan Tengah Berdiskusi untuk Berinvestasi di DeepSeek

Sebagai bentuk pembangkangan, Iran memamerkan beberapa senjata balistiknya dalam parade di Teheran pada Selasa malam, dengan gambar di televisi pemerintah menunjukkan kerumunan besar mengibarkan bendera Iran dan spanduk di latar belakang dengan kepalan tangan yang mencekik selat tersebut.

Keterangan foto berbunyi: "Di bawah kendali Iran tanpa batas waktu" dan "Trump tidak bisa berbuat apa-apa", merujuk pada jalur air tersebut.

Pakistan Masih berupaya Menggelar Perundingan

Pakistan, yang bertindak sebagai mediator, masih berusaha mempertemukan kedua pihak untuk bernegosiasi setelah keduanya gagal hadir dalam pembicaraan terakhir pada hari Selasa sebelum gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua minggu seharusnya berakhir.

"Kami semua siap untuk pembicaraan, panggung telah disiapkan," kata seorang pejabat Pakistan yang diberi informasi tentang persiapan tersebut kepada Reuters. 

"Jika Anda bertanya kepada saya dengan jujur, itu adalah kemunduran yang tidak kami duga, karena Iran tidak pernah menolak, mereka bersedia datang dan bergabung, dan mereka masih bersedia."

Sumber Pakistan lain yang terlibat dalam pembicaraan tersebut mengatakan Pakistan masih "bekerja sangat keras untuk menjembatani konflik itu, berbicara dengan masing-masing pihak dengan mempertimbangkan kepekaan mereka".

Pada Rabu pagi, belum ada tanggapan dari pejabat senior Iran terhadap pengumuman gencatan senjata Trump, meskipun beberapa reaksi awal dari Teheran menunjukkan bahwa komentar Trump ditanggapi dengan skeptis.

Tasnim mengatakan Iran belum meminta perpanjangan gencatan senjata dan mengulangi ancaman Teheran untuk menerobos blokade AS dengan kekerasan.

Kapal Kontainer Rusak Akibat Tembakan Iran

Sepanjang perang, Iran secara efektif menutup selat tersebut bagi kapal selain kapalnya sendiri dengan menyerang kapal yang mencoba melintas tanpa izinnya. Sekitar seperlima minyak dan gas alam cair global biasanya melewati jalur air tersebut.

Pada hari Rabu, badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, mengatakan bahwa setidaknya tiga kapal kontainer telah melaporkan terkena tembakan di selat tersebut.

Kapten salah satu kapal melaporkan didekati oleh kapal perang Iran di timur laut Oman pada hari Rabu, kata badan tersebut. Kapal tersebut dihujani tembakan senjata dan granat berpeluncur roket, dan anjungannya rusak parah, meskipun tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan lingkungan.

Dua kapal lain mengatakan mereka dihujani tembakan sekitar delapan mil laut di sebelah barat Iran tanpa laporan korban luka.

Iran mengutuk tindakan Angkatan Laut AS yang mencegat kapal-kapal Iran di laut sebagai bagian dari blokade, menuduh AS melakukan "pembajakan di laut dan terorisme negara".