Iran Sebut AS Langgar Gencatan Senjata, Konflik Timur Tengah Kembali Memanas



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menuduh Amerika Serikat melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan di dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Situasi ini dinilai berpotensi menggagalkan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.

Pemerintah Iran pada Selasa (26/5/2026) menyatakan bahwa serangan AS di Provinsi Hormozgan, wilayah selatan Iran yang berada dekat Selat Hormuz, merupakan “pelanggaran berat” terhadap kesepakatan gencatan senjata yang rapuh dan telah berlangsung hampir tujuh minggu.


Media Iran melaporkan terdengar suara ledakan di wilayah tersebut pada Selasa dini hari. Sementara itu, pihak Amerika Serikat menyebut serangan tersebut bersifat defensif dengan sasaran lokasi rudal dan kapal yang disebut tengah berupaya memasang ranjau laut.

Di saat bersamaan, Israel juga meningkatkan serangan ke Lebanon dengan melancarkan lebih dari 120 serangan udara dalam sehari, salah satu pemboman terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Sumber keamanan Lebanon menyebut serangan menghantam wilayah selatan dan timur Lebanon.

Iran diketahui mendorong penghentian serangan Israel di Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan damai yang lebih luas.

Baca Juga: Mobil Listrik Dongkrak Penjualan Otomotif Eropa, BYD Salip Tesla

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan negosiasi untuk menghentikan konflik kemungkinan membutuhkan “beberapa hari lagi”, meski sebelumnya kedua pihak disebut telah menunjukkan kemajuan menuju kesepakatan awal guna mengakhiri permusuhan dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Kesepakatan awal tersebut disebut akan memberikan waktu 60 hari bagi para negosiator untuk membahas isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran.

Media Iran melaporkan bahwa delegasi Teheran juga mendorong agar nota kesepahaman mencakup pencairan miliaran dolar aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Harga Minyak Dunia

Meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz langsung memicu kenaikan harga minyak dunia. Setelah serangan AS, Rubio menegaskan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka “dengan cara apa pun”.

Perang yang dimulai sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah memicu guncangan pasokan energi global. Konflik tersebut mendorong kenaikan harga bahan bakar, pupuk, hingga pangan dunia.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair global. Namun sejak perang pecah, lalu lintas kapal di kawasan itu turun drastis dari kondisi normal.

Baca Juga: Samsung Sepakati Bonus Jumbo untuk Karyawan, Picu Kekhawatiran Industri

Iran Ancam Balas Serangan

Pasukan Garda Revolusi Iran menyatakan memiliki hak untuk melakukan pembalasan atas serangan terbaru AS. Mereka mengklaim berhasil menembak jatuh satu drone AS serta menembaki drone lain dan sebuah jet tempur yang disebut memasuki wilayah udara Iran di kawasan Teluk.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui kanal Telegram resminya saat momentum ibadah haji tahunan, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei mengatakan:

“Mulai sekarang, slogan ‘Kematian bagi Amerika’ dan ‘Kematian bagi Israel’ akan menjadi slogan bangsa Islam dan rakyat tertindas di seluruh dunia.”

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump beberapa kali menggunakan slogan tersebut sebagai alasan pembenaran tindakan militer terhadap Iran.

Negosiasi Dana Beku Iran

Pejabat Iran dan AS mengindikasikan bahwa pembicaraan tidak langsung terbaru telah menghasilkan kemajuan menuju nota kesepahaman atau kesepakatan awal yang nantinya akan membuka jalan bagi negosiasi final.

Negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dilaporkan telah kembali ke Iran dari Qatar setelah mengupayakan pencairan sekitar US$ 24 miliar dana Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan awal.

Kantor berita Fars menyebut isu dana beku menjadi hambatan terakhir dalam negosiasi. Sementara kantor berita ISNA menyatakan pembicaraan di Qatar berlangsung “secara keseluruhan positif”.

Selain menuntut pencabutan blokade laut AS, isu nuklir, dan jaminan kedaulatan, Iran juga meminta penghentian konflik di Lebanon, tempat gencatan senjata sejak pertengahan April gagal menghentikan pertempuran antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel kini “memperdalam operasi di Lebanon” dengan pengerahan “pasukan besar di lapangan”.

Baca Juga: Nvidia Berencana Guyur Investasi US$ 150 Miliar Per Tahun di Taiwan

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan Israel dalam beberapa jam terakhir menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai 40 lainnya.

Kesepakatan Awal Disiapkan dalam Kerangka 30 Hari

Menurut sumber Iran, kesepakatan awal nantinya akan menghentikan permusuhan di semua front konflik, memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dalam 30 hari, dan kemungkinan memberikan sebagian keringanan finansial bagi Iran.

Adapun isu yang lebih sulit seperti program nuklir Iran akan dibahas dalam fase kedua negosiasi.

Sebelumnya, Reuters melaporkan Iran masih mengizinkan sejumlah kapal melintas di Selat Hormuz, namun memberikan prioritas kepada kapal yang terkait dengan negara-negara sekutunya.

Trump menegaskan tujuan utama perang adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir berbasis uranium yang diperkaya tinggi. Namun Teheran membantah memiliki rencana tersebut.

Trump juga memanfaatkan krisis Timur Tengah untuk mendorong lebih banyak negara Arab dan Muslim, termasuk Saudi Arabia, bergabung dalam Abraham Accords yang bertujuan menormalisasi hubungan dengan Israel.

Namun Saudi Arabia menyatakan tidak akan menandatangani perjanjian tersebut tanpa adanya peta jalan menuju pembentukan negara Palestina.

Konflik yang meluas di kawasan Timur Tengah sejauh ini telah menewaskan ribuan orang, terutama di Lebanon dan Iran.