Iran Sebut Selat Hormuz Garis Merah, Ancam Serang Kawasan Jika AS Menyerang



KONTAN.CO.ID – DUBAI. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan “garis merah” yang tidak dapat diganggu gugat.

Iran memperingatkan akan menyerang seluruh infrastruktur di kawasan Teluk apabila Presiden Amerika Serikat Donald Trump merealisasikan ancamannya untuk menyerang fasilitas vital negara tersebut.

Amerika Serikat melancarkan serangan untuk malam kelima berturut-turut pada Rabu (15/7/2026) dan kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Washington menyebut langkah tersebut bertujuan membuka kembali akses Selat Hormuz yang ditutup Iran pada Sabtu lalu setelah gencatan senjata yang rapuh kembali runtuh.


Setelah serangan pertama pada Rabu malam, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengeluarkan pernyataan, “Kami sedang berada dalam perang yang sangat penting dan bersifat eksistensial melawan Amerika.”

Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, pada Kamis (16/7/2026) menegaskan bahwa Selat Hormuz, yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia, merupakan “garis merah” bagi Iran yang berada di bawah kendali penuh negara tersebut.

Baca Juga: Saham SpaceX Turun di Bawah Harga IPO, Investor Waspada

“Amerika mengira bahwa dengan menyerang beberapa pangkalan kami di pesisir selatan negara ini, mereka dapat mengambil alih kendali atas selat strategis tersebut,” kata Akraminia.

“Namun, Republik Islam Iran memiliki kemampuan untuk mengendalikan Selat Hormuz dari setiap titik wilayahnya, dan hal ini sama sekali tidak bergantung pada wilayah pesisir maupun pulau-pulau,” lanjutnya.

Tiga pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada Reuters bahwa serangan Washington yang bertujuan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz juga menyasar kemampuan militer Iran yang dinilai perlu dilumpuhkan sebelum melaksanakan operasi yang lebih kompleks.

Sebelumnya, militer Iran juga menyatakan terkait Selat Hormuz, “Kami tanpa ragu akan terus bertahan hingga akhir dan akan menetralkan intervensi Amerika di kawasan.”

Juru bicara militer Iran menambahkan bahwa satu-satunya cara untuk membuka kembali Selat Hormuz adalah jika Amerika Serikat mematuhi nota kesepahaman 14 poin yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu, serta menerapkan “peraturan Iran” terkait lalu lintas kapal di kawasan tersebut.

Iran Peringatkan Trump agar Tidak Menyerang Infrastruktur

Pada Selasa (14/7/2026), Donald Trump mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran pada pekan depan apabila Teheran tidak kembali ke meja perundingan.

Baca Juga: Nikkei Ditutup Melemah 2,8%, Saham Chip Kompak Turun Meski TSMC Cetak Kinerja Moncer

Akraminia menegaskan bahwa jika ancaman tersebut direalisasikan, angkatan bersenjata Iran akan menyerang “seluruh infrastruktur yang masih tersisa” di kawasan Teluk. Menurutnya, respons Iran akan lebih keras, lebih luas, dan lebih merusak dibandingkan serangan-serangan sebelumnya.

Iran juga mengumumkan pada Kamis bahwa mereka telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Yordania. Teheran memperingatkan negara-negara tetangganya bahwa memberikan fasilitas kepada Washington untuk melancarkan serangan terhadap Iran tidak akan dibiarkan tanpa balasan.

“Negara-negara tetangga kami harus memahami bahwa menyediakan pangkalan bagi Amerika dan mengizinkan mereka melancarkan serangan ke wilayah Iran tidak dapat diterima dan tidak akan dibiarkan tanpa respons,” demikian pernyataan militer Iran.

Pada Kamis dini hari waktu Timur Tengah, sirene peringatan berbunyi di Bahrain, sementara Kuwait menyatakan tengah merespons “ancaman drone musuh”.

Militer Iran mengklaim telah menyerang Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania menggunakan rudal balistik. Sementara itu, Garda Revolusi Iran menyebut telah menghancurkan pusat komunikasi satelit dan radar peringatan dini di Pangkalan Udara Ali Al Salem, serta dermaga militer Amerika Serikat di kawasan Al Shuaiba, Kuwait.

Kementerian Pertahanan Bahrain menyatakan bahwa sistem pertahanan udara negara tersebut berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah serangan udara Iran yang menargetkan wilayah kerajaan pada Kamis.

Baca Juga: Laba Melonjak 77%, TSMC Bakal Tambah Investasi US$ 100 Miliar di AS

Ancaman terhadap Pasokan Energi Global

Eskalasi terbaru dan ancaman Iran untuk menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan, serta kemungkinan serangan terhadap infrastruktur regional, memunculkan kekhawatiran akan kembalinya perang berskala penuh di Timur Tengah.

Para analis menilai Iran telah memberikan sinyal bahwa negara tersebut dapat memanfaatkan sekutunya, kelompok Houthi di Yaman, untuk menutup jalur Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah. Langkah tersebut berpotensi membuka front baru melawan Amerika Serikat dan mengancam salah satu jalur energi terpenting dunia.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melintasi kawasan tersebut, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi internasional dan memperburuk ketidakstabilan ekonomi global.

Perang yang berlangsung sejauh ini telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan warga mengungsi, terutama di Iran dan Lebanon, setelah konflik kembali pecah antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.