Iran Serang Pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, Gencatan Senjata Kian Rapuh



KONTAN.CO.ID - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas meski kedua negara baru saja menyepakati kesepakatan damai sementara kurang dari dua pekan lalu.

Melansir Reuters, Iran pada Minggu (28/6/2026) meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas serangan terbaru Washington terhadap fasilitas militer Iran.

Baca Juga: Teknologi Canggih Kanedevia Entitas Swiss Kelola Sampah di Tengah Pemukiman


Serangan tersebut terjadi hanya beberapa saat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington dapat "menyelesaikan pekerjaan secara militer" apabila Iran terus melanggar kesepakatan.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan, serangan itu menyasar pangkalan militer AS di kawasan Teluk sebagai respons atas serangan udara Amerika terhadap wilayah Iran.

Menurut IRGC, tindakan Washington telah melanggar gencatan senjata dan berpotensi menghentikan seluruh proses diplomasi.

Seorang pejabat AS mengatakan tidak ada korban jiwa maupun kerusakan besar di fasilitas militer Amerika akibat serangan tersebut.

Baca Juga: Menjelajahi Jantung Inovasi Medis Terbaik Swiss

Kuwait menyatakan berhasil mencegat dua rudal balistik Iran, sementara Bahrain melaporkan sebuah bangunan permukiman di Provinsi Muharraq mengalami kerusakan akibat serangan drone tanpa menimbulkan korban.

Di saat yang sama, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah melancarkan serangan baru terhadap sejumlah fasilitas militer Iran, termasuk instalasi pengawasan, komunikasi, pertahanan udara, gudang drone, serta fasilitas penebaran ranjau.

Washington menyebut operasi tersebut merupakan respons langsung atas serangan Iran terhadap kapal dagang berbendera Panama di Selat Hormuz pada Sabtu (27/6).

Sebelumnya, sebuah kapal kargo juga menjadi sasaran serangan di jalur yang sama pada Kamis (25/6), memicu eskalasi terbaru.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang sebelum konflik dilalui sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Baca Juga: Kecerdasan Buatan Mendorong Kampus Tinggalkan Model Pembelajaran Konvensional

Setelah sempat diblokade selama beberapa bulan akibat perang, arus pelayaran mulai kembali pulih dalam dua pekan terakhir sehingga mendorong harga minyak turun mendekati level sebelum konflik.

Meski demikian, situasi di jalur tersebut masih jauh dari stabil. Iran tetap bersikeras mengendalikan pelayaran melalui rute utara yang berada di bawah pengawasannya dan berencana mengenakan biaya kepada kapal yang melintas.

Sebaliknya, Amerika Serikat (AS) mendorong penggunaan jalur alternatif di sisi selatan dekat perairan Oman.

Di tengah ketegangan tersebut, perusahaan pelayaran CMA CGM menyatakan kapal kontainernya, Galapagos, berhasil keluar dari Selat Hormuz. Perusahaan menyebut keberhasilan tersebut menjadi perkembangan penting, meski kondisi keamanan kawasan masih memerlukan kewaspadaan tinggi.

Konflik juga meluas ke Lebanon. Militer Israel mengaku telah menyerang militan Hizbullah di wilayah Nabatieh dan menghancurkan peluncur roket.

Baca Juga: Lionel Messi, Pemain Pertama yang Cetak Gol dalam 7 Pertandingan Piala Dunia Berturut

Iran menuduh Amerika Serikat gagal memenuhi komitmennya dalam menjaga gencatan senjata di Lebanon, sementara Israel menegaskan akan tetap melanjutkan operasi militernya selama ancaman dari Hizbullah masih ada.

Kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran sebelumnya dirancang untuk menghentikan perang yang berlangsung sejak Februari 2026, membuka kembali Selat Hormuz, serta menjadi landasan perundingan mengenai program nuklir Iran.

Namun, rangkaian serangan terbaru menunjukkan implementasi kesepakatan tersebut semakin rapuh dan kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.