KONTAN.CO.ID - Iran melancarkan serangan rudal ke Tel Aviv, Israel, dengan menggunakan hulu ledak klaster sebagai bentuk balasan atas tewasnya kepala keamanan Iran, Ali Larijani. Hal ini dilaporkan media pemerintah Iran pada Rabu (18/3/2026). Israel menyebut Iran telah berulang kali menggunakan hulu ledak klaster, yakni jenis senjata yang melepaskan banyak bom kecil di udara dan menyebar di area luas, sehingga sulit dicegat.
Baca Juga: Harga Minyak Melemah Rabu (18/3), Kesepakatan Irak-Kurdi Redakan Kekhawatiran Pasokan Serangan semalam di wilayah padat penduduk Tel Aviv dilaporkan menewaskan dua orang, sehingga total korban jiwa di Israel sejak perang meningkat menjadi sedikitnya 14 orang. Di Iran, sebuah proyektil juga dilaporkan menghantam area dekat pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr pada Selasa malam, namun tidak menyebabkan kerusakan maupun korban jiwa. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) kembali menyerukan penahanan diri maksimal untuk mencegah risiko kecelakaan nuklir. Konflik ini terus meningkat sejak serangan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat lebih dari dua pekan lalu, dengan salah satu tujuannya mencegah Iran mengembangkan program senjata nuklir.
Baca Juga: Irak dan Otoritas Kurdi Sepakat Lanjutkan Ekspor Minyak ke Pelabuhan Ceyhan Turki Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada hari pertama perang. Pemerintah Iran pada Selasa mengonfirmasi kematian Ali Larijani, pejabat paling senior yang menjadi target sejak awal konflik. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut putra Larijani serta wakilnya, Alireza Bayat, juga tewas dalam serangan Israel pada Senin malam. Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dilaporkan menolak tawaran de-eskalasi maupun gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Ia menyatakan belum waktunya untuk perdamaian hingga AS dan Israel “mengakui kekalahan dan membayar kompensasi.” Kelompok pemantau HAM Iran, HRANA, memperkirakan lebih dari 3.000 orang tewas di Iran sejak serangan AS-Israel dimulai pada akhir Februari.
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Stabil Rabu (18/3), Ringgit Malaysia Pimpin Penguatan Sementara itu, serangan balasan Iran juga menimbulkan korban jiwa di Irak, negara-negara Teluk, serta Israel. Ketegangan juga berdampak besar pada jalur energi global. Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia masih sebagian besar tertutup, memicu lonjakan harga minyak global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak lagi membutuhkan bantuan militer sekutu untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, meskipun sebelumnya meminta dukungan tersebut. Ia juga mengkritik negara-negara NATO, serta Jepang, Australia, dan Korea Selatan karena enggan terlibat dalam konflik. Di sisi lain, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menegaskan pentingnya solusi diplomatik. “Kita harus menemukan cara diplomatik untuk menjaga jalur ini tetap terbuka agar tidak memicu krisis pangan, pupuk, dan energi,” ujarnya.
Baca Juga: Malaysia Jadi Negara Pertama yang Menyatakan Perjanjian Dagang AS “Batal Demi Hukum”! Militer AS juga menyatakan telah menyerang sejumlah lokasi di pesisir Iran dekat Selat Hormuz karena dinilai menjadi ancaman bagi pelayaran internasional. Seiring konflik berlanjut, harga minyak melonjak sekitar 45% sejak perang dimulai pada 28 Februari. Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan puluhan juta orang berisiko mengalami kelaparan akut jika konflik berlanjut hingga Juni. Industri penerbangan global juga terdampak, dengan maskapai memperingatkan lonjakan biaya bahan bakar jet yang berpotensi mencapai ratusan juta dolar. Banyak penerbangan dibatalkan, dijadwalkan ulang, atau dialihkan karena sebagian besar wilayah udara Timur Tengah ditutup akibat ancaman serangan rudal dan drone.