Iran Siap Buka Selat Hormuz dalam Hitungan Hari, Ini Syaratnya



KONTAN.CO.ID - Iran membuka peluang untuk kembali membuka Selat Hormuz bagi pelayaran kapal-kapal di kawasan Teluk dalam beberapa hari ke depan jika Amerika Serikat (AS) mencabut blokade.

Sinyal tersebut muncul saat para pemimpin dunia berkumpul dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters, delegasi Iran yang hadir di Majelis Umum PBB memiliki kewenangan penuh untuk menghidupkan kembali pembicaraan dengan Washington.


Baca Juga: Produksi Biofuel Global Diprediksi Melonjak 70% pada 2030, Ini Risikonya

Namun, belum ada rencana pertemuan langsung antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Kedua pemimpin dijadwalkan menghadiri agenda PBB di New York. Pertemuan tersebut akan menjadi momen pertama Trump dan Pezeshkian berada dalam forum yang sama sejak Trump meluncurkan operasi militer terhadap Iran pada Februari.

Menurut pejabat Iran tersebut, Washington perlu menyatakan secara resmi keinginan menyelesaikan persoalan melalui jalur diplomasi dan menyepakati jadwal pembicaraan.

“Majelis Umum PBB adalah kesempatan emas bagi AS untuk kembali ke diplomasi,” ujar pejabat Iran tersebut.

Iran disebut telah menyampaikan proposal terbaru kepada Washington melalui mediator pada 16 September.

Dari sisi AS, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Washington terbuka untuk berbicara dengan Iran selama agenda Majelis Umum PBB. Namun, hingga Selasa (22/9), belum ada pertemuan yang dijadwalkan.

Rubio mengatakan pembicaraan harus memiliki prospek menghasilkan perkembangan positif, termasuk terkait isu nuklir Iran.

Baca Juga: Dilarang Meliput di Gedung Putih, Sejumlah Media Menggugat Donald Trump dan Kabinet

Dampak ke pasar minyak

Sinyal diplomasi tersebut langsung menjadi perhatian pasar energi karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dan gas dunia.

Sebelum konflik, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati selat tersebut.

Harga minyak merespons positif prospek membaiknya pasokan. Harga Brent untuk kontrak November sempat turun 2% menjadi US$98,33 per barel, sementara WTI kontrak Oktober turun 2,61% menjadi US$93,28 per barel pada perdagangan Selasa.

Selain potensi pembukaan kembali Selat Hormuz, pasokan minyak juga mendapat dukungan dari Arab Saudi.

Riyadh telah memulai kembali operasi East-West Pipeline dan berpotensi melanjutkan ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, meski dengan volume yang lebih rendah.

Jalur tersebut menjadi alternatif penting bagi Arab Saudi untuk mengirimkan minyak tanpa melewati Selat Hormuz.

Operasinya sempat terhenti setelah serangan pada 10 September yang oleh Riyadh dikaitkan dengan kelompok yang didukung Iran.

Baca Juga: Peringatan Bank Global: Chatbot AI untuk Belanja Online Tingkatkan Risiko Penipuan

Negara Teluk hadapi tekanan

Di tengah perkembangan tersebut, Trump dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin enam negara Teluk, yakni Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Negara-negara Teluk berkepentingan memulihkan kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan keamanan akibat konflik yang melibatkan Iran.

Arab Saudi menjadi salah satu negara yang semakin terdampak. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terus melakukan serangan dan memperluas tekanan di Yaman, termasuk terhadap jalur perdagangan di sekitar Laut Merah.

Perkembangan di kawasan tersebut juga meningkatkan risiko terhadap Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Reuters melaporkan pasukan Houthi tengah berupaya menguasai kawasan strategis di Pegunungan Kahboub yang menghadap garis pantai Laut Merah dan Bab el-Mandeb.

Konflik di Yaman dilaporkan telah menyebabkan lebih dari 130.000 orang mengungsi sepanjang September.

Badan pengungsi PBB memperingatkan puluhan ribu orang lainnya berpotensi kehilangan tempat tinggal akibat pertempuran yang berlanjut.

Baca Juga: Mbappe Sebut Dilatih Zinedine Zidane di Timnas Prancis seperti Cerita Film

Usulan kerangka keamanan Qatar

Dalam pertemuan negara-negara Teluk dengan Trump, salah satu agenda yang turut dibahas adalah proposal Qatar untuk membangun kerangka keamanan bersama yang melibatkan Iran dan negara-negara Arab di Teluk.

Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan, kerangka tersebut perlu mencakup jaminan keamanan bagi negara-negara Teluk sekaligus memperkuat hubungan ekonomi dengan Iran.

Sumber regional mengatakan Iran tengah mempelajari proposal tersebut.

Perkembangan diplomasi AS-Iran dan potensi normalisasi pelayaran di Selat Hormuz kini menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar energi.

Namun, kelancaran pasokan tetap bergantung pada perkembangan konflik dan realisasi kesepakatan diplomatik antara pihak-pihak yang terlibat.

Baca Juga: Selat Hormuz Makin Sepi, Lalu Lintas Kapal Turun dari 125 Jadi 2