KONTAN.CO.ID - Iran mengancam akan membalas jika Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer, dengan target mencakup basis AS dan sekutunya, Israel, yang kini berada dalam status siaga tinggi. Ancaman itu muncul di tengah protes besar-besaran di Tehran, protes terbesar sejak 2022, yang dipicu kenaikan harga dan menuntut perubahan pemerintahan clerical. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan kemungkinan “salah perhitungan” jika AS menyerang.
Baca Juga: Martinelli Cetak Hat-Trick, Arsenal Hantam Portsmouth 4-1 di Piala FA “Dalam kasus serangan terhadap Iran, wilayah pendudukan (Israel) serta semua basis dan kapal AS akan menjadi target sah kami,” ujarnya, Minggu (11/1/2026). Qalibaf adalah mantan komandan Revolutionary Guards Iran. Situasi Protes Protes yang dimulai pada 28 Desember semula menentang kenaikan harga, kini berfokus pada pemerintahan clerical yang berkuasa sejak Revolusi 1979. Menurut HRANA, kelompok hak asasi di AS, 116 orang tewas, termasuk 37 aparat keamanan.
Baca Juga: Arne Slot Janjikan Liverpool Tampilkan Skuad Kuat Hadapi Barnsley di Piala FA Namun, dengan internet diblokir, jumlah korban sebenarnya belum jelas. Televisi pemerintah Iran menayangkan ratusan kantong jenazah, menyebut korban akibat “teroris bersenjata.” Siaga Israel dan AS Israel berada dalam status siaga tinggi, meski pejabat militer menekankan protes di Iran adalah urusan internal. Namun, mereka siap merespons defensif jika diperlukan. Kunjungan terakhir Barnsley ke Anfield berakhir dengan kemenangan 2-1.
Baca Juga: Kurangi Ketergantungan ke China, Maersk Jajaki Etanol Sebagai Bahan Bakar Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding AS dan Israel memicu kerusuhan, memasukkan “teroris” yang membakar masjid, menyerang bank, dan merusak fasilitas publik. Ia meminta keluarga agar anak muda tidak ikut aksi kekerasan dan menegaskan pemerintah siap mendengarkan aspirasi rakyat dan menyelesaikan masalah ekonomi. Dukungan AS dan Trump Mantan Presiden AS Donald Trump menyatakan siap membantu: “Iran sedang melihat KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah sebelumnya. AS siap membantu!” Pembicaraan telepon antara PM Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas kemungkinan intervensi AS.
Baca Juga: Israel Siaga Tinggi, Antisipasi Intervensi Amerika Serikat di Iran Sementara itu, Reza Pahlavi, putra eks-Syah Iran dan tokoh oposisi memuji keberanian rakyat Iran di jalanan. Netanyahu juga menegaskan ada konsekuensi besar jika Iran menyerang Israel, tetapi mengatakan semua pihak sebaiknya menunggu perkembangan situasi di dalam Iran.