Iran Siapkan Syarat Buka Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Ujung Tanduk



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya untuk kembali menormalisasi pelayaran di Selat Hormuz memasuki babak baru. Para mediator perang Iran kembali mendorong pembukaan jalur pelayaran tersebut, setelah Iran menyatakan bersedia menyusun daftar persyaratan untuk memulihkan lalu lintas kapal secara normal.

Perkembangan ini terjadi setelah Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani melakukan kunjungan ke Teheran pada Kamis (27/8/2026). Qatar, yang merupakan sekutu Amerika Serikat (AS) sekaligus negara tetangga Iran di kawasan Teluk, terus memainkan peran dalam upaya mediasi.

Dalam pertemuan dengan para pejabat senior Iran, Sheikh Mohammed menekankan pentingnya mengembalikan kondisi pelayaran seperti sebelum perang, yakni jalur internasional yang terbuka bagi kapal-kapal komersial.


Melalui akun X, Sheikh Mohammed mengatakan dirinya telah menegaskan kepada pejabat senior Iran mengenai "pentingnya menghormati kebebasan navigasi di Selat Hormuz sesuai dengan hukum internasional."

Baca Juga: Jepang Siapkan Utang Baru US$251 Miliar untuk Biayai Anggaran 2027

Iran siapkan daftar syarat

Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaei kemudian mengatakan bahwa Iran tengah menyiapkan daftar persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah para mediator meminta Teheran merinci ketentuan yang harus dipenuhi agar lalu lintas pelayaran dapat kembali normal.

Dalam wawancara dengan Al Manar TV melalui penerjemah, Rezaei mengatakan Iran telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai koridor pelayaran yang melintasi Selat Hormuz.

Menurut dia, sebagian jalur tersebut berada di perairan Oman dan sebagian lainnya berada di perairan Iran. Kapal akan menggunakan jalur tengah yang telah ditentukan apabila AS memenuhi persyaratan yang diajukan Iran.

Persyaratan Iran sebelumnya antara lain mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pemberian kompensasi, serta pencabutan sanksi.

Namun, belum diketahui apakah Teheran akan mengubah tuntutan tersebut sehingga dapat diterima oleh Washington.

AS pilih tekanan ekonomi

Perkembangan diplomasi tersebut terjadi ketika AS telah menarik diri dari pembicaraan langsung dan memilih pendekatan berupa kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran.

Dalam beberapa pekan terakhir, komunikasi antara Teheran dan Washington lebih banyak diwarnai pernyataan keras. Peran diplomasi kemudian lebih banyak dijalankan oleh negara-negara ketiga.

Iran sejauh ini masih mendesak agar kesepakatan memorandum of understanding (MoU) yang dicapai pada Juni dikembalikan sebagai dasar penyelesaian.

MoU tersebut sebelumnya menghasilkan gencatan senjata dan menetapkan kerangka pengaturan pelayaran di Selat Hormuz dalam periode 60 hari untuk membuka ruang negosiasi.

Namun, kesepakatan tersebut dengan cepat mengalami keretakan akibat perbedaan penafsiran mengenai kewenangan Iran dalam mengatur lalu lintas kapal. Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan MoU tersebut "sudah berakhir" sekitar tiga pekan setelah ditandatangani.

Baca Juga: Bos The Fed Kevin Warsh Jadi Sorotan di Jackson Hole, Pasar Tunggu Sinyal Suku Bunga

Iran dan Oman bahas pengaturan lalu lintas

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Rabu (26/8/2026) mengatakan Iran dan Oman pada prinsipnya telah menyepakati pengelolaan lalu lintas kapal di Selat Hormuz sekaligus pembagian pendapatan.

Namun, seorang sumber senior Iran kemudian mengatakan kedua negara masih membahas rincian dari kesepakatan tersebut.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa mekanisme pembukaan kembali Selat Hormuz belum sepenuhnya final, meskipun terdapat indikasi bahwa Iran dan Oman sedang mencari formula untuk mengatur pelayaran di jalur strategis tersebut.

AS klaim jalur pelayaran sudah terbuka

Di sisi lain, komandan militer AS menyatakan bahwa pasukan Amerika Serikat telah membersihkan ranjau laut yang sebelumnya dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran di Selat Hormuz.

Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan dalam pesan video yang diunggah ke media sosial bahwa kondisi pelayaran internasional mulai kembali terbuka.

"Intinya, saat ini jalur pelayaran internasional terbuka dan momentumnya terus meningkat," kata Cooper.

Menurut Cooper, dalam beberapa bulan terakhir pasukan AS telah membantu sekitar 1.500 kapal komersial yang mengangkut hampir 750 juta barel minyak mentah untuk melewati Selat Hormuz.

Presiden Trump juga berulang kali menyatakan bahwa Selat Hormuz telah terbuka. Namun, kondisi di lapangan masih menunjukkan aktivitas pelayaran yang jauh lebih rendah dibandingkan kondisi normal.

Banyak kapal memilih tidak melewati selat tersebut karena adanya ancaman dari Iran. Layanan pelacakan kapal memperkirakan aktivitas pelayaran saat ini hanya sekitar 5% hingga 15% dari volume normal.

Baca Juga: Penjualan & Produksi Toyota Turun, Terseret Penurunan Tajam di China dan Timur Tengah

Selat Hormuz jadi jalur vital minyak dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum perang, sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur sempit yang berada di antara Iran dan Oman tersebut.

Ancaman Iran untuk menyerang kapal yang melintasi selat tanpa izin setelah AS dan Israel melancarkan perang enam bulan lalu membuat lalu lintas kapal turun tajam. Kondisi tersebut juga mendorong kenaikan harga minyak dan memberikan Iran daya tawar dalam negosiasi.

Gangguan di Selat Hormuz menjadi perhatian besar bagi pasar energi global karena jalur tersebut merupakan pintu utama bagi ekspor minyak dari negara-negara produsen di kawasan Teluk.

Puluhan insiden terjadi selama perang

Risiko terhadap keselamatan pelayaran juga masih menjadi perhatian. Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (IMO) melaporkan terdapat 70 insiden di Selat Hormuz sejak perang dimulai.

Insiden-insiden tersebut telah menyebabkan 19 pelaut tewas.