Iran: Sikap Kontradiktif AS dan Serangan Israel Terhadap Lebanon Hambat Diplomasi



KONTAN.CO.ID - DUBAI. Iran menyalahkan lambatnya upaya penyelesaian konflik dengan Amerika Serikat (AS) terhadap rendahnya tingkat kepercayaan, perubahan sikap Washington yang dinilai tidak konsisten, serta berlanjutnya serangan Israel di kawasan Timur Tengah.

Iran menegaskan bahwa proses diplomasi yang tengah berlangsung berada dalam kondisi penuh kecurigaan, sehingga menghambat tercapainya kesepakatan final antara kedua negara.

Negosiasi di Tengah Ketidakpercayaan

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa komunikasi antara Teheran dan Washington berlangsung dalam suasana yang tidak kondusif.


Ia mengatakan: “Negosiasi dimulai di tengah kecurigaan dan ketidakpercayaan yang serius, dan pertukaran pesan terjadi dalam suasana seperti itu.”

Baghaei menambahkan bahwa hingga saat ini kedua pihak belum mencapai kesimpulan akhir dalam pembicaraan yang sedang berjalan.

Baca Juga: Lonjakan Ekspor Baja China ke India Picu Kekhawatiran Industri Domestik

Iran juga menyoroti posisi Amerika Serikat yang dianggap sering berubah dan tidak memiliki konsistensi dalam proses negosiasi. “Pihak lain terus mengubah pandangannya dan mengajukan tuntutan baru atau yang saling bertentangan (...) hal ini wajar akan memperpanjang proses negosiasi,” ujarnya.

Menurut Baghaei, jika perubahan sikap tersebut merupakan bagian dari strategi negosiasi, maka pendekatan tersebut tidak akan efektif terhadap Iran. Namun jika mencerminkan ketidakteraturan internal di pemerintahan AS, maka Washington diminta segera menetapkan posisi yang jelas dan tegas.

Kaitkan Konflik dengan Peran Israel

Teheran juga menilai bahwa tindakan Israel di kawasan, termasuk di Lebanon, tidak dapat dipisahkan dari kebijakan Amerika Serikat.

Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri konflik regional harus mencakup implementasi gencatan senjata di Lebanon.

Pernyataan ini muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk kembali melancarkan serangan ke pinggiran selatan Beirut, yang merupakan wilayah basis Hizbullah di Dahiyeh.

Baca Juga: Dampak Perang Iran Kian Terasa, Pabrikan Eropa Hadapi Kenaikan Biaya Tertinggi

Baghaei juga menyebut bahwa belum ada pembahasan rinci terkait isu nuklir dalam perundingan yang berlangsung. Iran, menurutnya, tetap menuntut pencairan aset-asetnya yang dibekukan sebagai bagian dari agenda utama diplomasi.

Saling Tuduh Pelanggaran dan Aksi Militer

Iran menuduh Amerika Serikat telah melanggar gencatan senjata melalui serangan ke wilayah selatan Iran, yang menurut Teheran memperdalam ketidakpercayaan dan memberi dasar bagi tindakan defensif balasan berdasarkan prinsip bela diri.

Di sisi lain, AS menyatakan telah melakukan serangan terhadap fasilitas militer Iran pada akhir pekan lalu. Sebagai respons, Garda Revolusi Iran pada Senin mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait.

Di akhir pernyataannya, Baghaei mengingatkan negara-negara di kawasan agar tidak terlibat dalam eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. “Belajarlah dari masa lalu dan jangan biarkan Amerika Serikat dan Israel menggunakan kemampuan Anda terhadap Iran,” ujarnya.