KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz pada Rabu (22/4/2026). Langkah ini memperketat kendali Teheran atas jalur pelayaran strategis tersebut, hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap Iran tanpa batas waktu. Aksi penyitaan ini memperburuk ketidakpastian terkait status gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua pekan dan seharusnya berakhir awal pekan ini. Trump sebelumnya secara sepihak menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata sambil menunggu proposal Iran dalam perundingan damai. Namun, pihak Iran tidak memberikan konfirmasi atas perpanjangan tersebut.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa gencatan senjata hanya dapat berlangsung jika blokade laut oleh Amerika Serikat dihentikan. Ia juga menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan selama pelanggaran gencatan senjata masih terjadi.
Selat Hormuz Masih Tertutup, Tekan Ekonomi Global
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang sebelumnya menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Namun, sejak konflik dimulai pada 28 Februari, jalur ini praktis tertutup, memicu tekanan besar pada ekonomi global.
Baca Juga: Mobil Terbang Xpeng Mulai Produksi Massal Tahun 2027, Minat Beli? Harga minyak mentah acuan dunia, Brent crude oil, kembali menembus level di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua pekan terakhir. Blokade berkepanjangan menyebabkan biaya energi meningkat dan memaksa sejumlah negara menguras cadangan energi serta membatasi konsumsi. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ini telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Kelompok Hezbollah yang didukung Iran juga turut terlibat dalam pertempuran melawan Israel.
Iran Sita Kapal Asing
Korps Garda Revolusi Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps menyatakan telah menyita dua kapal karena pelanggaran maritim dan mengawal kapal tersebut ke wilayah Iran. Ini merupakan pertama kalinya Iran menyita kapal sejak konflik dimulai. Dua kapal yang disita adalah Epaminondas berbendera Liberia dan MSC Francesca berbendera Panama. Perusahaan pelayaran Technomar Shipping mengonfirmasi kapal Epaminondas mengalami tembakan sekitar 20 mil laut barat laut Oman, meski tidak ada korban jiwa. IRGC juga memperingatkan bahwa setiap gangguan terhadap keamanan di Selat Hormuz akan dianggap sebagai “garis merah”.
Negosiasi Damai Mandek
Upaya mediasi yang dipimpin oleh Pakistan belum membuahkan hasil. Pembicaraan damai yang dijadwalkan di Islamabad gagal terlaksana karena kedua pihak tidak hadir. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menahan serangan hingga Iran menyampaikan proposal damai yang komprehensif. Namun, Gedung Putih belum menetapkan tenggat waktu untuk proses tersebut. Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup pencabutan sanksi, kompensasi atas kerusakan, serta pengakuan atas kontrol Iran terhadap Selat Hormuz.
Baca Juga: Utusan Trump Usul Italia Gantikan Iran di Piala Dunia, Picu Kontroversi Perbedaan Sikap AS dan Iran
Amerika Serikat menuntut Iran menghentikan program pengayaan uranium tingkat tinggi guna mencegah pengembangan senjata nuklir. Namun, Iran bersikeras bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil. Iran juga mensyaratkan gencatan senjata antara Israel dan Hezbollah sebagai bagian dari negosiasi. Sementara itu, serangan udara Israel di Lebanon masih berlangsung dan menewaskan sedikitnya lima orang pada Rabu, termasuk seorang jurnalis.
Ketegangan Belum Mereda
Meski Trump menahan ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil Iran, konflik masih berada dalam situasi stagnan tanpa kejelasan arah penyelesaian. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga menurun drastis dari sekitar 130 kapal per hari menjadi hanya segelintir kapal. Dengan ketegangan yang terus meningkat, risiko terhadap stabilitas energi global dan keamanan internasional diperkirakan akan tetap tinggi dalam waktu dekat.