Iran Syaratkan Kompensasi dan Pencabutan Sanksi AS untuk Buka Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada pemenuhan sejumlah tuntutan oleh Amerika Serikat (AS), meski Teheran mengungkapkan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru di kawasan tersebut hampir rampung.

Mengutip Reuters, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan pada Minggu (9/8/2026) bahwa kesepakatan dengan Oman terkait Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir.

Baca Juga: Daftar 10 Negara dengan Sistem Kesehatan Terbaik di Dunia 2026


Namun, Teheran menegaskan bahwa kesepakatan tersebut belum secara otomatis membuka kembali jalur pelayaran strategis itu.

Araqchi mengatakan Iran tidak akan membuka Selat Hormuz sebelum AS memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.

Kesepakatan dengan Oman nantinya akan mengatur jalur pelayaran baru yang dapat digunakan setelah persyaratan tersebut dipenuhi dan Selat Hormuz kembali dibuka.

Seorang pejabat AS sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan yang dapat membuka jalan bagi pemulihan pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz.

Sebelum konflik berlangsung, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Iran kemudian memblokade jalur tersebut sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada akhir Februari.

Baca Juga: Transfer Rodri: Barcelona Ajukan Rp1,23 T, Man City Minta Lebih

Iran Ajukan Sejumlah Syarat

Araqchi mengatakan, Iran dan AS saat ini tidak melakukan pembicaraan langsung.

Teheran juga tidak akan memulai negosiasi selama Washington dianggap melanggar kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni.

Meski demikian, komunikasi antara kedua negara tetap berlangsung melalui perantara.

Baca Juga: Bos LaLiga Javier Tebas Kritik FIFA: Era Infantino Harus Berakhir

Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Axios bahwa Washington masih melakukan pendekatan terbatas terhadap Iran.

"Kami hanya melakukan negosiasi secara terbatas dengan mereka. Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasinya yang sangat tinggi dan fakta bahwa mereka tidak punya uang," kata Trump.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Baqer Zolqadr menyebut sejumlah tuntutan Teheran.

Selain kompensasi atas kerusakan akibat serangan AS, Iran meminta penghentian ancaman militer lebih lanjut, penghentian agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, serta Irak.

Iran juga menuntut pencabutan blokade laut AS di Teluk, penghapusan sanksi terhadap Iran, serta pembebasan aset Iran yang dibekukan.

AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran lebih dari lima bulan lalu. Trump mengatakan serangan tersebut bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir sekaligus mengurangi kemampuan Teheran mengancam kawasan.

Kedua negara kemudian menyepakati gencatan senjata pada Juni. Namun, AS kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran Iran di Teluk pada Juli.

Teheran menilai langkah tersebut melanggar kesepakatan gencatan senjata yang saat itu juga telah mengalami keretakan.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Senin (10/8), Minyak Naik di Tengah Ketidakpastian Negosiasi Teluk

Seorang pejabat AS mengatakan Washington akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran setelah kesepakatan untuk memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan diumumkan.

Menurut pejabat tersebut, langkah AS akan disesuaikan dengan pelaksanaan komitmen Iran.

Serangan Houthi Tambah Risiko Pasokan Energi

Ketidakpastian pembukaan Selat Hormuz juga terjadi di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi di kawasan Laut Merah.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran telah meningkatkan serangan terhadap kapal di jalur strategis antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Houthi juga menyatakan telah memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi sejak bulan lalu.

Baca Juga: Kelompok Hacker Korea Utara Kembangkan AI untuk Otomatisasi Serangan Siber

Pada Minggu, Houthi mengklaim telah menyerang kilang Jazan milik Saudi Aramco. Serangan tersebut terjadi dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan kebakaran sempat terjadi di kilang tersebut, tetapi berhasil dipadamkan. Tidak ada korban luka yang dilaporkan dan pihak berwenang masih menangani insiden tersebut.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan aliansi pertahanan baru tersebut tidak ditujukan terhadap Iran ataupun negara tertentu lainnya, melainkan merupakan komitmen umum untuk memperkuat keamanan.