KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa Teheran “tidak memiliki kepercayaan” terhadap Amerika Serikat dan hanya bersedia melanjutkan perundingan apabila Washington menunjukkan keseriusan yang nyata dalam proses diplomasi. Pernyataan ini disampaikan di tengah mandeknya upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik yang masih berlangsung. Dalam keterangannya kepada media di New Delhi pada Jumat, Araqchi menegaskan bahwa seluruh kapal pada prinsipnya tetap dapat melintasi Selat Hormuz, kecuali kapal-kapal yang berada dalam kondisi “berperang” dengan Iran, dengan syarat tetap melakukan koordinasi dengan angkatan laut Iran.
Namun demikian, ia mengakui bahwa situasi di kawasan jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi global tersebut saat ini berada dalam kondisi “sangat rumit”. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur paling vital di dunia, yang menghubungkan produsen energi utama di Timur Tengah dengan pasar global.
Baca Juga: Starbucks PHK 300 Karyawan dan Tutup Sejumlah Kantor Regional di AS Araqchi juga menyampaikan melalui platform X bahwa ia telah menegaskan kepada Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar bahwa “Iran akan selalu menjalankan tugas historisnya sebagai penjaga keamanan di Hormuz”, sebagaimana pernyataan yang ia unggah. Selat Hormuz dilaporkan menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melalui laut. Namun, menurut laporan, Iran disebut telah memperketat akses pelayaran menyusul eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel sejak Februari.
Negosiasi AS–Iran Mandek
Upaya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengalami kebuntuan. Kedua negara sebelumnya sempat mengumumkan gencatan senjata bulan lalu, namun gagal mencapai kesepakatan damai jangka panjang. Negosiasi yang dimediasi oleh Pakistan juga dilaporkan ditangguhkan setelah kedua pihak saling menolak proposal terakhir pada pekan lalu. Araqchi menyebut bahwa “pesan yang kontradiktif” telah memperdalam ketidakpercayaan Iran terhadap niat Washington. Ia menegaskan bahwa proses mediasi tersebut belum sepenuhnya gagal, tetapi sedang berada dalam kondisi “sulit”. Dalam 13 bulan terakhir, dua putaran perundingan sebelumnya juga terganggu oleh aksi militer yang kembali meningkatkan ketegangan di kawasan.
Baca Juga: Krisis Politik Inggris Guncang Pasar, Investor Khawatir Burnham Tantang Starmer Iran saat ini disebut berupaya mempertahankan gencatan senjata terakhir agar ruang diplomasi tetap terbuka, namun tetap siap kembali menghadapi eskalasi jika diperlukan.
Peran China dan Ketegangan Global
Menjelang pernyataan tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kesabarannya terhadap Iran semakin menipis dan mengisyaratkan adanya kesepakatan dengan Presiden China Xi Jinping bahwa Teheran perlu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Menanggapi kemungkinan keterlibatan Beijing, Araqchi menyebut Iran terbuka terhadap mediasi negara mana pun yang dapat membantu proses diplomasi. Ia menegaskan hubungan baik antara Iran dan China serta menyambut setiap upaya yang dapat mendorong penyelesaian damai. “Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan China. Kami adalah mitra strategis, dan kami tahu bahwa China memiliki niat baik. Jadi, apa pun yang dapat membantu diplomasi akan disambut,” ujarnya. Araqchi menambahkan bahwa Iran berharap proses negosiasi dapat menghasilkan kesepakatan yang baik sehingga keamanan Selat Hormuz dapat terjamin sepenuhnya dan arus pelayaran internasional dapat kembali normal.